Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 04 September 2026

ISIS Menyamar Jadi Pengungsi Suriah ke Eropa

* AS Siap Terima Lebih Banyak Pengungsi Suriah
- Jumat, 11 September 2015 10:32 WIB
636 view
 ISIS Menyamar Jadi Pengungsi Suriah ke Eropa
SIB/AP Photo/Giannis Papanikos
Para pengungsi dan imigran berdesak-desakan melewati pintu masuk ke sebuah desa di utara Yunani untuk menuju Macedonia, Kamis (10/9). Militan ISIS dikhawatirkan memanfaatkan gelombang pengungsian untuk memasuki Eropa.
Washington (SIB)- Seorang anggota operatif kelompok Islamic State of Iraq and al Sham (ISIS) mengklaim telah berhasil menyelundupkan sekitar 4.000 rekannya ke negara-negara Eropa, bersamaan dengan eksodus pengungsi Suriah. Caranya, mereka menyamar sebagai pengungsi.

Dikutip dari laman Express, Kamis (10/9), anggota ISIS yang berusia 30 tahunan itu mengungkap operasi rahasia itu berlangsung dengan sukses.  "Tunggu saja," kata dia sambil tersenyum.  Anggota ISIS itu berbicara secara eksklusif kepada media BuzzFeed dan tidak ingin disebut identitasnya. Dia merupakan orang pertama yang membenarkan adanya rencana penyusupan itu.

Sebelumnya, ISIS juga diketahui aktif melalui area perbatasan antara Turki dan Benua Eropa secara sembunyi-sembunyi. Mereka mengikuti rute yang kerap ditempuh para pengungsi atau pencari suaka. Anggota ISIS itu mengklaim ada sekitar 4.000 militan ISIS yang siap menyeberang ke beberapa negara di Uni Eropa. Upaya infiltrasi merupakan awal dari rencana besar untuk melakukan balas dendam terhadap koalisi serangan udara yang dipimpin oleh Amerika Serikat. "Jika seseorang menyerang, maka sudah tentu saya akan menyerang mereka kembali," kata anggota ISIS itu.

Agar tak dikenali oleh otoritas keamanan, anggota ISIS ini sengaja menggunakan jasa penyelundup manusia lokal dan membaur. Mereka ikut menyeberang melalui jalur laut bersama migran lainnya. "Mereka akan menyerupai seperti pengungsi," anggota ISIS itu menambahkan.

Klaim itu didukung oleh penyelundup manusia asal Turki. Salah satu dari mereka bahkan mengaku telah membantu memasukkan lebih dari 10 anggota ISIS terlatih ke Eropa. Mereka berpura-pura dan menyamar sebagai pencari suaka.  "Saya mengirimkan beberapa pejuang yang ingin pergi dan berkunjung ke keluarganya. Sementara itu, yang lain sudah siap untuk beraksi di Eropa," kata penyelundup manusia itu. Menurut keterangan salah satu anggota operasional ISIS, organisasi pimpinan Abu Bakr al-Baghdadi itu memiliki rencana ambisius. Mereka menginginkan untuk membangun kekhalifan tidak hanya di Suriah, tetapi di seluruh dunia. 

Rencana itu juga disadari oleh pejabat Kementerian Luar Negeri. Mereka mengatakan, otoritasnya aktif menekan penyusup yang berpura-pura menjadi pengungsi. Dia mengatakan, sejak Eropa membatasi untuk menerima pengungsi melalui jalur legal, tingkat permintaan ke Eropa dengan cara ilegal kian tinggi.

"Migrasi ilegal telah menjadi isu penting dan Turki secara efektif terus memerangi itu," kata pejabat tersebut. Dia menambahkan, cara yang paling efektif dalam mengakhiri semua konflik yakni adanya aksi darurat oleh masyarakat internasional untuk mencari solusi dalam konflik di Suriah.

Sementara itu Amerika Serikat, Rabu (9/9), berjanji untuk menerima lebih banyak pengungsi yang melarikan diri dari perang di Suriah dan di tempat-tempat lain, setelah Eropa mengumumkan rencana wajib kuota antar negara untuk pemukiman kembali 160.000 migran.

Setelah bertemu dengan anggota DPR di Kongres Amerika, Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry mengatakan, "Kami sedang mempelajari jumlah pengungsi yang akan bisa kami bantu dalam krisis di Suriah dan Eropa ini.

Ketua Komisi Eropa Jean-Claude Juncker hari Rabu menyerukan agar negara-negara anggota Uni Eropa menampung sekitar 160.000 pengungsi, yang melarikan diri dari perang di Suriah dan di tempat-tempat lain, tetapi menghadapi tentangan dari negara-negara yang berkeberatan dengan jatah yang diwajibkan. "Eropa di mana saya tinggal adalah kelompok negara yang mau membantu," kata Juncker kepada Parlemen Eropa. " Saya tidak suka Eropa yang tidak mau membantu pengungsi, tambahnya.

Tetapi Pemerintah-pemerintah Ceko dan Slowakia tetap menolak usul kuota tiap negara, yang kata Juncker diperlukan untuk mengatasi krisis migrasi terburuk di Eropa sejak Perang Dunia II. "Saya menolak kuota," kata Perdana Menteri Republik Ceko, Bohuslav Sobotka pekan ini, ketika rincian dari rencana kuota muncul, "karena saya tidak menganggap kuota sebagai solusi tepat bagi krisis migrasi ini."

Perdana Menteri Slowakia Robert Fico menyatakan keprihatinan bahwa teroris mungkin masuk ke Eropa karena banyaknya pengungsi yang berkumpul di pintu-pintu masuk Eropa. Sebagian besar migran mencari tempat permukiman di negara-negara Eropa Barat yang lebih makmur, khususnya Jerman dan Swedia.

"Kalau teroris mengelompok di Suriah," kata Fico, "bagaimana kita bisa membedakan teroris dengan migran lain yang melintasi perbatasan Uni Eropa tanpa terkendali?" Juncker mengatakan Eropa tidak bisa membiarkan Yunani, Italia, dan Hungaria menangani sendiri banjirnya arus pengungsi ini. (vivanews/VoA/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru