Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 04 September 2026

Jepang Dihantam Gelombang Banjir Mirip Tsunami

- Sabtu, 12 September 2015 11:28 WIB
440 view
 Jepang Dihantam Gelombang Banjir Mirip Tsunami
SIB/rtr
Sejumlah warga Jepang naik ke atas atap menghindari banjir yang telah menggenangi kediaman mereka di kota Joso, Kamis (10/9). Ribuan orang terpaksa mengungsi akibat gelombang besar mirip tsunami mengancam keselamatan warga yang sejauh ini telah menewaskan
Tokyo (SIB)- Ribuan orang terpaksa mengungsi ke kota dekat Tokyo, akibat gelombang besar mirip tsunami mengancam keselamatan warga. Setelah terjadi hujan deras 2 hari berturut-turut hingga Kamis 10 September 2015 dan menyebabkan banjir Jepang. Sejauh ini 3 orang dilaporkan tewas dan ribuan anggota tim penyelamat dikerahkan untuk mengevakuasi warga yang terjebak banjir.

Hujan paling deras dalam beberapa dekade terakhir tersebut, terus melanda wilayah Jepang. Situasi kian memburuk dengan adanya terjangan topan Etau, yang mencapai wilayah Jepang pada awal pekan ini dengan membawa angin kencang.

Joso, sebuah kota yang terletak 50 km sebelah timur laut dari Tokyo, terkena gelombang mirip tsunami setelah Sungai Kinugawa meluap. Penghalang banjir tak lagi berguna dan wilayah itu pun tergenang. Pemandangan mengerikan pun terlihat. Air berwarna kecoklatan mengalir deras, menghanyutkan apapun yang dilewatinya, Mulai dari pohon, mobil bahkan rumah.

Seorang wanita berusia 63 tahun tewas tertimbun tanah longsor yang dipicu hujan deras. Sedangkan di wilayah Miyagi, seorang wanita berusia 48 tahun juga tewas akibat bencana alam ini. Korban ketiga merupakan seorang pria berusia 20-an tahun yang ditemukan tewas di prefektur Tochigi yang dilanda banjir parah.
Sedikitnya 25 orang, termasuk dua anak 8 tahun dinyatakan hilang saat bencana menerjang kota Joso, yang berjarak 60 kilometer dari ibu kota Tokyo. Warga setempat melambaikan handuk dari balkon rumah mereka untuk meminta bantuan. Helikopter militer dikerahkan untuk mengevakuasi warga.

"Pemerintah pusat, polisi, petugas pemadam kebakaran dan militer semuanya bekerja menjadi satu. Kami sedang melakukan segala upaya dengan segenap kekuatan kami untuk menyelamatkan mereka yang perlu diselamatkan, secepat mungkin," kata kepala sekretaris kabinet Yoshihide Suga saat konferensi pers, Jumat (11/9).

Pemandangan dari udara terlihat dramatis dengan banyaknya rumah warga yang tersapu banjir, hingga mengingatkan warga pada tsunami dahsyat yang menerjang Jepang pada 4 tahun lalu. "Saya masih merasa trauma (akibat tsunami yang lalu). Saya siap untuk melarikan diri begitu perintah evakuasi dikeluarkan," tutur salah satu warga setempat kepada televisi setempat, NHK, dari tempat pengungsian di Minami Soma.

Juru bicara pemerintah Jepang, Yoshihide Suga menuturkan, sebanyak 5.800 tentara, polisi dan petugas pemadam kebakaran dikerahkan sejak Jumat (11/9) pagi ke area yang dilanda banjir untuk membantu evakuasi dan penyelamatan warga.

Menurut Korea Times, Tokyo yang juga diguyur hujan lebat, membuat utara ibukota di Prefektur Ibaraki dan Tochigi yang paling parah terkena dampaknya. Lebih dari 90.000 warga diminta untuk mengungsi setelah departemen cuaca mengeluarkan peringatan tingkat banjir tertinggi di wilayah tersebut.

Rekaman televisi menunjukkan adegan dramatis petugas penyelamat di helikopter menarik keluar warga terjebak di rumah mereka dan di jalan-jalan dan bahkan mereka bertengger di atas kendaraan mereka. Gambar lainnya menunjukkan orang-orang terlihat putus asa melambaikan tangan meminta bantuan dari beranda rumah mereka, ketika banjir menghanyutkan mobil dan bangunan.

Tak hanya helikopter, perahu karet dan punggung para petugas penyelamat pun dikerahkan untuk mengevakuasi warga. Terutama orang-orang berusia lanjut yang tak sanggup berjalan dan terendam dinginnya air banjir Jepang dari luapan sungai.

“Kami memang selamat namun tidak dengan tanaman kami,” ungkap Keiko Iita, yang terpaksa menginap bersama suami dan anaknya di lantai dua kediaman mereka. Warga Jepang lainnya menerangkan bahwa air datang secara tiba-tiba. "Kami mendengar suara besar seperti petir, dan kemudian runtuhan tanah muncul," kata seorang pria kepada NHK saat menerangkan kejadian longsor yang menimpa daerahnya.

Sementara itu, Perdana Menteri Shinzo Abe memperingatkan adanya hujan tambahan sambil menambahkan bahwa pihaknya tengah menyiapkan pusat penanganan darurat. "Pemerintah akan bekerja sama demi memprioritaskan keselamatan warga. Kami akan melakukan yang terbaik untuk mencegah datangnya bencana susulan," kata Abe kepada sejumlah wartawan.

Jepang memang memprioritaskan pencegahan korban bencana sejak terjadinya gempa dan tsunami pada 2011 lalu yang menewaskan hampir 20.000 warga. Pemerintah setempat tidak ingin mengulangi kembali kritik atas lambatnya respon atas bencana pada masa itu. (Detikcom/AP/R16/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru