Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 04 September 2026

Libanon Ingatkan 2 dari 100 Pengungsi Suriah Mungkin Anggota ISIS

* Paus Khawatir Militan ISIS Susupi Pengungsi di Eropa
- Rabu, 16 September 2015 11:28 WIB
112 view
Libanon Ingatkan 2 dari 100 Pengungsi Suriah Mungkin Anggota ISIS
Beirut (SIB)- Otoritas Libanon memperingatkan bahwa dua dari 100 pengungsi Suriah bisa jadi merupakan anggota militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Peringatan ini disampaikan saat Perdana Menteri Inggris David Cameron datang mengunjungi kamp pengungsi di Libanon. Ketika bertemu dengan PM Cameron, Menteri Pendidikan Libanon, Elias Bousaab memperingatkan bahwa militan radikal itu bisa saja mengirimkan pelaku jihad terlatih untuk menyamar dan kemudian menyerang target di negara-negara Barat. Demikian seperti dilansir media Inggris, Daily Mail, Selasa (15/9).

Jika ini benar, maka berarti 400 orang dari 20 ribu pengungsi Suriah yang akan ditampung Inggris hingga tahun 2020, telah diradikalisasi. Bousaab menyebutkan, ISIS memilih target radikalisasi, termasuk anak-anak, di kamp pengungsi dan sekolah-sekolah sebelum menyelundupkannya ke Eropa, via Turki dan Yunani.
Ditanya apakah ISIS mengirimkan anggotanya sendiri ke Eropa untuk menyamar, Bousaab menjawab: "Perasaan saya mengatakan iya, mereka melakukan operasi semacam itu. Tentu untuk pergi ke Eropa dan negara lainnya. Bisa dikatakan, sekitar 2 persen (dari total pengungsi) bisa jadi sudah radikal."

"Saya minta semua bekerja sama melawan ISIS, inilah solusinya, karena ISIS terus berkembang dan menjamur. ISIS semakin berbahaya karena mereka merekrut anak-anak dari sekolah. Mereka merekrut dari mana saja," sebutnya. "Ini situasi yang sangat berbahaya dan dunia harus waspada dan mengambil tindakan. ISIS tidak akan berhenti di perbatasan Libanon, sebelum Anda tahu, ISIS sudah ada di Eropa," cetus Bousaab.

Belajar dari pengalaman menangani pengungsi Suriah, Bousaab menyatakan bahwa anggota ISIS yang menyusup tidak begitu terorganisir untuk menyeberang sendiri ke Eropa tanpa bantuan. Bousaab juga menyerukan agar bantuan untuk pengungsi tetap dialirkan. Karena menurutnya, tanpa pekerjaan dan tanpa pendidikan, para pengungsi akan semakin mudah direkrut ISIS. "Menurut pendapat saya, demi para pengungsi, kita bisa membantu mereka untuk tetap berada di tempat mereka jika mereka mendapatkan layanan kesehatan yang layak, pendidikan yang layak, makanan yang layak," ucapnya.

Paus Khawatir

Sebelumnya, Paus Fransiskus juga memperingatkan masyarakat akan kemungkinan menyusupnya militan dalam kerumunan pengungsi yang hijrah ke Eropa untuk lari dari perang sipil di Suriah. Dalam sesi wawancara di Radio Renascenca, Paus membahas risiko serangan ISIS yang sudah menewaskan banyak umat Kristen dan kelompok minoritas lainnya di Timur Tengah. Menurut Paus, ISIS juga dapat melancarkan serangan di Eropa. "Itu benar. Saya juga menyadari itu. Kini, kondisi keamanan teritorial tidak sama lagi seperti periode migrasi massal pada masa lampau.

Faktanya, hanya sekitar 400 kilometer dari Sicilia, ada kelompok teroris yang kejam luar biasa. Jadi, ada bahaya infiltrasi. Ini benar," ujar Fransiskus seperti dikutip Reuters, Senin (14/9). Beberapa spesialis pertahanan sebelumnya mengatakan bahwa risiko penyusupan militan dengan cara menyamar di tengah pengungsi sebenarnya sangat kecil. Namun, Paus tetap saja menganggap bahwa Roma bisa menjadi sasaran serangan teroris. "Ya. Tidak ada yang mengatakan bahwa Roma kebal terhadap ancaman ini, tapi Anda bisa mencegahnya," katanya.

Dilaporkan Reuters, militan ISIS sudah pernah mengancam umat Katolik di Roma. Pemerintah setempat pun meningkatkan keamanan di Vatikan dan tempat ibadah lain yang banyak dikunjungi turis. Pada 6 September, Paus menyambangi semua paroki Katolik, komunitas agama, dan tempat penampungan di Eropa dan mengatakan bahwa ia akan memberikan contoh dengan mengundang dua keluarga untuk tinggal bersamanya di Vatikan. "Orang-orang malang ini lari dari perang, kelaparan, tapi itu hanya merupakan puncak gunung es. Di bawah semuanya ada alasan dan akibatnya buruk bagi sistem sosial ekonomi," kata Paus. Namun menurut Paus, gelombang pengungsi ini bisa jadi arus yang membangkitkan kepedulian masyarakat Eropa. (dailymail/Rtr/dtc/c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru