Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 04 September 2026
9 Tahun Peringatan Kudeta Militer Thailand

Thaksin Minta Pengikutnya Berpura-pura Mati Dulu

- Senin, 21 September 2015 15:02 WIB
801 view
Thaksin Minta Pengikutnya Berpura-pura Mati Dulu
Bangkok (SIB)- Dari pengasingan, mantan Perdana Menteri Thailand yang hingga kini masih memiliki pengaruh, Thaksin Shinawatra, menyampaikan pesan kepada pengikutnya untuk tak melakukan apa-apa agar menghindari gesekan di bawah pemerintahan junta militer.

“Ketika saya berbicara dengan Thaksin, ia mengatakan pada saya untuk berpura-pura mati sedikit lebih lama,” kata pemimpin kaus merah Thailand, Kwanchai Praipana, di Provinsi Udon Thani yang merupakan basis pro-Thaksin, dikutip dari Reuters, Minggu (20/9). “Ia mengatakan pada saya untuk menunggu hingga pemilu selanjutnya. Itu adalah saat di mana kita akan menang. Pertanyaannya adalah, apakah akan ada pemilu selanjutnya,” lanjutnya. Kwanchai mengatakan ia berbicara dengan Thaksin sebulan lalu, namun tak spesifik mengungkap bagaimana mereka berkomunikasi.

Thaksin, miliuner yang kini berada di luar negeri untuk menghindari vonis penjara terkait gratifikasi, digulingkan lewat kudeta pada 2006, namun masih menjadi figur politik yang diperhitungkan di Thailand hingga kini. Meski saat ini militer memegang kuasa setelah menggulingkan adik Thaksin, Yingluck Shinawatra tahun lalu, Thaksin dan sekutunya selalu memenangkan tiap pemilu yang diadakan sejak 2001.

Pemerintah junta memangkas subsidi bagi pedesaan, dan pemimpin kudeta sekaligus Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha mengatakan bahwa pemilu mendatang di Thailand akan dilaksanakan sekitar Juli 2017. Kudeta yang dilakukan Prayuth terjadi setelah demonstrasi besar kedua kubu politik Thailand, kaus kuning dan kaus merah. Ia mengatakan harus mengambil alih untuk mencegah perpecahan di masyarakat. Banyak warga Thailand, terutama kelompok kelas menengah dan kaum elite Bangkok, mendukung intervensi Prayuth.

Sehari sebelumnya ratusan aktivis melanggar larangan protes dan melakukan reli di Ibu Kota Bangkok. Polisi berbaris mengamankan, sementara demonstran berteriak, “tak ada kediktatoran.” Beberapa membawa spanduk antijunta, sambil berjalan menuju Monumen Demokrasi Bangkok. Demonstrasi ini melanggar aturan pemerintah junta yang melarang demonstrasi untuk membungkam pembangkang.

Protes itu dilakukan bertepatan dengan sembilan tahun kudeta terhadap Thaksin yang banyak dianggap rakyat Thailand sebagai pemicu dari konflik tak berujung yang hingga kini belum juga menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Para demonstran awalnya menghadiri sebuah forum di Universitas Thammasat Bangkok, yang diizinkan oleh pemerintah. Namun mereka tak diberi izin untuk keluar dari universitas.

Meski unjuk rasa kali ini tak ada artinya dengan aksi massa lain yang pernah terjadi di Thailand, protes sudah sangat jarang terjadi sejak Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha melakukan kudeta dan menggulingkan Yinluck Shinawatra, adik Thaksin Shinawatra Mei tahun lalu.

Pemerintah junta di bawah Prayuth telah dikritik oleh banyak pihak, termasuk dari negara Barat, karena melarang berbagai bentuk demonstrasi. Wartawan dan politisi, juga dipaksa untuk menghadiri sesi “sikap penyesuaian” di markas-markas militer.

"Hak rakyat telah diambil, terlalu banyak yang sudah ditahan," kata Montra Thongsuksan, seorang demonstran yang membawa tulisan “kembalikan kekuasaan kepada rakyat.” "Saya harus menunjukkan solidaritas, melawan militer. Saya takut, tapi saya bersedia untuk berbaris untuk menunjukkan kami tidak akan menyerah,” ujar dia. Thailand telah terjebak dalam perpecahan antara pendukung dan klan Shinawatra dengan loyalis kerajaan yang didukung oleh militer dan jaringan konservatif negara itu.

Sementara itu, militer tampaknya akan tetap berkuasa, setidaknya dalam waktu dekat. Prayuth sudah mengatakan bahwa pemilu terdekat di Thailand akan dilangsungkan sekitar Juli 2017. Tidak ada kehadiran militer berseragam di reli, sementara polisi, yang diperkirakan ada sekitar 400 orang, tidak berusaha jelas untuk menghentikan para demonstran. "Kami mengamati, untuk menjaga semuanya tetap teratur,” kata Mayor Jenderal Pongpan Wannapak. "Jika hal-hal keluar dari kendali, kami akan laporkan ke atasan kami,” lanjutnya. (CNN Indonesia/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru