Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 04 September 2026

Rusia dan AS Saling Unjuk Kekuatan di Suriah

- Rabu, 23 September 2015 12:12 WIB
523 view
Rusia dan AS Saling Unjuk Kekuatan di Suriah
Washington (SIB)- Rusia dan Amerika Serikat saling unjuk kekuatan di Suriah dengan masing-masing mendukung dua pihak yang bermusuhan di mana Rusia mendukung rezim Presiden Bashar al-Assad yang berbasis Syiah Alawiyah sedangkan AS menyokong pihak pemberontak yang umumnya Sunni. Kedua negara berdalih menggelar kekuatan militernya di Suriah demi melikuidasi kelompok ekstremis militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Washington mengonfirmasi bahwa Rusia telah menggelar 28 pesawat tempur di Suriah yang berarti Rusia meningkatkan kehadiran militernya di negara terkoyak perang ini. Sebaliknya AS mengirimkan 70 tentara pemberontak didikan pasukan khusus AS ke medan perang Suriah Senin waktu setempat. "Ada 28 pesawat tempur dan pembom Rusia di lapangan udara di Provinsi barat Suriah, Latakia," kata seorang pejabat Washington kepada AFP.

Rusia juga diketahui mengirimkan 20 helikopter tempur dan angkut, selain juga pesawat tempur tak berawak (drone). Menurut sumber keamanan AS, Rusia sejauh ini telah mengirimkan 12 pesawat tempur serang Su-24, 12 pesawat tempur serang darat Su-25 dan empat jet tempur Flanker.

"Wahana-wahana tempur itu tidak statis dan hanya mempertahankan lapangan udara itu atau mungkin bahkan Provinsi Latakia. Pesawat tempur semacam ini justru menunjukkan Rusia berniat menggunakan kekuatan tempurnya di luar Latakia dalam posisi ofensif," kata analis Jeffrey White dari Washington Institute for Near East Policy seperti dikutip AFP.

Militer Rusia dilaporkan juga mulai menerbangkan drone atau pesawat tak berawak di atas wilayah Suriah. Ini merupakan operasi udara pertama Rusia semenjak mengerahkan militer ke wilayah konflik tersebut. Disebutkan seorang pejabat Amerika Serikat yang enggan disebut namanya, Selasa (22/9), operasi drone ini merupakan bagian dari misi pengintaian Rusia di Suriah. Namun operasi ini memicu risiko bagi koalisi yang dipimpin Amerika Serikat dan operasi militer yang dilakukan Rusia, karena mereka beroperasi di wilayah udara Suriah yang semakin terbatas.

Menurut pejabat AS ini, operasi drone Rusia dikendalikan dari pangkalan udara dekat Latakia, Suriah. Tidak diketahui pasti apakah drone Rusia ini dilengkapi senjata api dan ada berapa drone yang dioperasikan Rusia di Suriah. Pentagon menolak berkomentar soal operasi drone Rusia di Suriah, dengan alasan tidak bisa membahas persoalan intelijen. Namun Pentagon menyatakan AS waspada dengan situasi yang terjadi di Suriah.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, John Kirby mengaku khawatir dengan pengerahan perlengkapan militer Rusia ke Suriah. AS, menurut Kirby, masih mempertanyakan tujuan Rusia di Suriah, antara untuk memerangi militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) atau membantu rezim Assad. Sejauh ini Rusia diketahui telah mengirimkan 25 jet tempur, 15 helikopter, 9 tank, tiga sistem rudal darat-ke-udara dan sedikitnya 500 personel militer ke wilayah Suriah.

Sementara itu 38 militan ISIS tewas dalam serangan udara yang dilancarkan militerSuriah. Serangan udara tersebut dilancarkan di tiga kota Suriah yang dikuasai kelompok ISIS. Menurut organisasi pemantau HAM Suriah, Syrian Observatory for Human Rights, serangan udara tersebut menargetkan kota Palmyra dan dua kota lainnya di provinsi Homs.

Direktur Observatory Rami Abdel Rahman mengatakan, beberapa hari terakhir ini, Angkatan Udara Suriah meningkatkan serangan-serangannya terhadap ISIS setelah mendapat dukungan persenjataan dan pesawat militer dari Rusia. "Jumlah serangan meningkat dan serangan-serangan lebih tepat sasaran setelah Angkatan Udara Suriah menerima persenjataan dan pesawat-pesawat yang lebih efisien dari Moskow," tutur Abdel Rahman.

Menurut para pakar yang dekat dengan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad, Rusia juga telah mengirimkan para penasihat militernya untuk melatih pasukan Suriah dalam menggunakan persenjataan baru yang dikirimkan Rusia, khususnya sistem pertahanan udara jarak dekat dan tank-tank militer.(Ant/Detikcom/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru