Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 04 September 2026

Presiden Xi: Konflik Antara AS dan China Bisa Timbulkan Bencana

- Jumat, 25 September 2015 12:40 WIB
336 view
Presiden Xi: Konflik Antara AS dan China Bisa Timbulkan Bencana
Seattle (SIB)- Presiden China Xi Jinping menyerukan hubungan yang lebih baik dengan Amerika Serikat. Diingatkan Xi, konflik antara kedua negara tersebut bisa mengakibatkan bencana. Hal tersebut disampaikan Presiden Xi dalam pidatonya di Seattle, Amerika Serikat. Lawatan Xi ke AS tersebut merupakan kunjungan kenegaraannya yang pertama di negeri adikuasa itu.

Dalam pidatonya seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (23/9), Xi menekankan perlunya meningkatkan kerja sama dan pemahaman akan intensi strategis masing-masing negara. "Kami ingin melihat lebih banyak pemahaman dan kepercayaan serta pengurangan ketegangan dan kecurigaan," ujar Xi di depan audiens yang kebanyakan merupakan pengusaha. "Jika mereka mengalami konflik dan konfrontasi, itu akan mengakibatkan bencana bagi kedua negara dan dunia pada umumnya," tandas Xi.

Kunjungan Xi di Seattle disambut aksi-aksi demo. Di pusat kota Seattle, sekitar 100 orang menggelar aksi unjuk rasa untuk memprotes pelanggaran HAM di China. Para demonstran pendukung Falun Gong tersebut memprotes apa yang mereka sebut sebagai pencurian organ-organ para tahanan di China. "Para praktisi Falun Gong telah dimasukkan ke kamp-kamp kerja paksa, penjara dan rumah sakit jiwa, dan mereka telah dibunuh untuk diambil organ-organ mereka," cetus Michael Green (38), warga Seattle.

Di saat yang sama, sekelompok demonstran pro-China, sebagian dari mereka mengenakan topi bertuliskan "USA," meneriakkan dukungan untuk pemerintah China. Mereka melambai-lambaikan bendera China dan AS serta kain besar berwarna merah dengan tulisan "Halo Presiden Xi" dalam huruf China.

Aksi demo yang terjadi pada Selasa, 22 September malam tersebut berlangsung damai. Kepolisian setempat tidak melakukan penangkapan apapun.

Pejabat-pejabat partai berkuasa China, Partai Komunis tidak mentolerir tantangan atas kepemimpinannya, dan aktivitas beragama harus diatur oleh negara. Sebelumnya pada tahun 1999, Presiden China saat itu Jiang Zemin melancarkan kampanye untuk memberantas Falun Fong. Ini dilakukan setelah para pengikut Falun Fong melancarkan aksi demo damai di luar gedung pemerintah di Beijing untuk menuntut pengakuan resmi atas gerakan mereka.

Namun saat kunjungan Presiden Xi ke Washington, satu pesawat militer China terdeteksi melakukan manuver tidak aman di dekat pesawat pengintai milik Amerika Serikat. Insiden ini terjadi di atas wilayah Laut Kuning, dekat wilayah China.

Insiden ini terjadi saat pesawat pengintai AS jenis RC-135 tengah menjalankan misi di atas wilayah Laut Kuning, yang berjarak 128 kilometer dari Semenanjung Shandong, China bagian timur. Tiba-tiba, pilot pesawat pengintai AS ini melaporkan keberadaan pesawat lain yang dianggap berada di posisi yang tidak aman. Insiden ini terjadi pada 15 September lalu, namun baru diungkapkan pekan ini, ketika Presiden China Xi Jinping memulai kunjungan selama seminggu di AS.

"Pilot melaporkan bahwa dia merasa ... ada pesawat (China) yang melintas di depan hidung pesawat (AS) dengan cara yang tidak aman," tutur juru bicara Pentagon, Peter Cook. "Tidak ada indikasi bahwa ini merupakan insiden nyaris tabrakan," imbuhnya. Namun demikian, lanjut Cook, Departemen Pertahanan AS tetap mengkaji laporan soal insiden ini secara mendalam.

Insiden semacam ini bukan yang pertama kali terjadi. Pada Agustus 2014, sebuah pesawat militer China terdeteksi terbang sangat dekat, hanya berjarak 7-10 meter dari jet tempur patroli milik Angkatan Laut AS (US Navy). Bahkan pesawat China ini sempat memamerkan persenjataannya pada pilot jet AS.

Secara terpisah, senator AS dari Partai Republik, John McCain mengecam dan menyebut insiden ini sebagai wujud perilaku agresif China di wilayah Asia Pasifik. "Insiden ini terjadi di tengah perundingan soal aturan pendekatan udara-ke-udara dan hanya selang seminggu sebelum kunjungan Presiden Xi di AS, tentu semakin memicu pertanyaan soal motif China dan bagaimana respons pemerintahan (Presiden AS Barack) Obama," demikian pernyataan McCain.  (Detikcom/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru