Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 04 September 2026

Pemimpin Dunia Sampaikan Duka Cita untuk Tragedi Mina

* Paus Fransiskus Doakan Para Korban * Raja Salman Instruksikan Peninjauan Kembali Prosedur Haji
- Sabtu, 26 September 2015 14:03 WIB
243 view
Pemimpin Dunia Sampaikan Duka Cita untuk Tragedi Mina
Mina (SIB)- Tragedi Mina tahun ini merupakan kejadian terburuk sejak Juli 1990. Akibat kejadian ini, 717 jemaah tewas dan lebih dari 850 orang luka-luka karena terinjak-injak di Jalan Arab 204, Mina. Beberapa pemimpin dunia pun menyampaikan duka cita mendalamnya kepada pemerintah Arab Saudi. Sebut saja, Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Sekjen PBB Ban Ki-moon, Wakil Panglima Tentara Kerajaan Bahrain Putra Mahkota Pangeran Salman bin Hamad Al Khalifa, Presiden Uni Emirat Arab Pangeran Sheikh Khalifa bin Zayed Al Nahyan, serta Presiden Rusia Vladimir Putin.

"Penjaga dua masjid suci Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud telah menerima ungkapan belasungkawa dari Sheikh Khalifa bin Zayed Al Nahayan, Presiden Uni Emirat Arab, Presiden Palestina Mahmoud  Abbas, Sekjen PBB Ban Ki-moon, dan Wakil Panglima Tentara Kerajaan Bahrain Putra Mahkota Pangeran Salman bin Hamad Al Khalifa, untuk korban di Mina," tulis Saudi Press Agency, Jumat (25/9/2015).

Sementara Putin menulis di akun twitter Presiden Rusia @KremlinRussia_E. Dia mengucapkan belasungkawa kepada Raja Salman atas tragedi yang menimpa jemaah haji di Mina. "Belasungkawa saya kepada Raja Saudi atas tragedi yang menimpa jemaah di Mina," cuit Putin.

Paus Fransiskus menyampaikan ucapan bela sungkawa terhadap tragedi Mina. Dia mengatakan bahwa gereja bersolidaritas dengan umat Islam setelah tragedi tersebut. "Saya ingin mengungkapkan bahwa kedekatan gereja dengan para jemaah yang menderita dengan tragedi di Makkah," ujar Paus Fransiskus di Gereja Katedral St Patrick

Gedung Putih juga menyampaikan ucapan bela sungkawa pada Kamis (24/9) waktu setempat. "Amerika Serikat menyampaikan duka mendalam kepada keluarga jemaah haji yang meninggal dunia dan ratusan lainnya yang terluka, pada desak-desakan yang memilukan di Mina, Kerajaan Arab Saudi," kata Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional AS, Ned Price. "Saat muslim seluruh dunia merayakan Idul Adha, kita bergabung bersama Anda dalam duka, kehilangan tragis dari ibadah itu," imbuhnya.

Ucapan yang sama disampaikan oleh Perdana Menteri Inggris David Cameron. Dalam akun Twitternya, dia mengatakan: "dukacita dan doa saya untuk keluarga mereka yang tewas dalam ibadah haji." Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengaku "sangat bersedih" atas kematian lebih dari 700 jemaah haji di Arab Saudi.

"Sekretaris jendral sangat bersedih saat mengetahui kematian lebih dari 700 jemaah haji dan banyak yang terluka dalam insiden mematikan di Lembah Mina di Kerajaan Arab Saudi," ujar juru bicara Ban, dikutip ABC News. "Insiden tragis sangat menyedihkan karena terjadi di hari pertama Idul Adha yang suci, menandakan akhir dari musim haji tahunan," lanjut pernyataan Ban.

Sementara dua bakal calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Jeb Bush dan juga bakal calon Presiden AS dari Partai Demokrat, Hillary Clinton turut mendoakan korban. "Mendoakan ratusan umat muslim tak bersalah yang mengalami kematian tragis dalam insiden di Makkah, saat menjalankan ibadah Haji," tutur Jeb Bush yang juga adik mantan Presiden AS George Bush ini, melalui akun Twitter-nya.

Tidak mau ketinggalan, bakal calon Presiden AS dari Partai Demokrat, Hillary Clinton juga menyampaikan duka cita mendalam. Hillary juga mengucapkan selamat Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada 24 September. "Selamat hari raya bagi yang merayakan Idul Adha. Pikiran dan doa saya tertuju pada mereka yang menjadi korban tragedi di Makkah. -H," tulis Hillary dalam akun Twitter-nya, sembari membubuhkan inisial namanya yang mengindikasikan pesan tweet itu berasal dari dirinya langsung.

Instruksikan Peninjauan Kembali Prosedur Haji
Raja Arab Saudi, Salman, memerintahkan peninjauan kembali keseluruhan prosedur pelaksanaan ibadah haji menyusul tragedi Mina pada Kamis (24/9). Dikutip dari Saudi Gazette, Jumat (25/9), Salman juga memerintahkan pihak berwenang untuk melakukan investigasi guna mengetahui apa penyebab insiden yang saat ini sudah menewaskan 717 orang--termasuk tiga jemaah haji asal Indonesia--dan melukai sekitar 800 lainnya.

Raja Salman memberikan perintah tersebut saat berpidato pada pertemuan dengan para pangeran, menteri, dan pejabat pemerintahan serta militer, termasuk pemimpin agama Mufti Besar Abdul Aziz Al-Asheikh, yang mengunjungi Salman dalam rangka Idul Adha di Istana Mina pada Kamis.

Dalam pidatonya, Salman mengucapkan salam kepada warga Saudi dan jemaah haji. Ia juga menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya para jemaah haji, serta mendoakan agar mereka yang terluka pulih dengan cepat. “Kami sudah menginstruksikan badan terkait untuk meningkatkan standar organisasi dan manajemen pergerakan jemaah haji. Kami akan bekerja, insya Allah, untuk mengatasi tantangan dan kesulitan sehingga para jemaah bisa melaksanakan ritual mereka dengan mudah dan nyaman,” ujar Salman.

Salman juga memerintahkan untuk menyelidiki apakah badan yang berwenang terhadap penyelenggaraan haji sudah melaksanakan tanggung jawab sesuai dengan tugas mereka. “Apapun temuan investigasi, kami tidak akan menghentikan proses peningkatan mekanisme dan fungsi selama musim haji. Tanggung jawab dan kewajiban kami dalam melayani tamu Tuhan sangat besar dan kami menganggapnya sebagai sebuah kehormatan,” kata Salman.

Selain 717 jiwa melayang, 863 lainnya mengalami luka-luka akibat saling berdesakan saat rangkaian ibadah lempar jumrah. Pemerintah Saudi bereaksi, sebuah komisi dibentuk guna menginvestigasi tabrakan massa di persimpangan Jalan 204 dan Jalan 223.

Menteri Kesehatan Saudi, Khaled al Falih menyatakan tabrakan massa karena para jemaah bergerak tanpa menghiraukan jadwal yang ditentukan otoritas. Dari Iran, pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menyatakan pemerintahan Saudi harus menerima tanggung jawab besar dari bencana ini. Iran kehilangan 95 jiwa warganya.

Yang Terburuk dalam 25 Tahun Terakhir
Tercatat 717 jemaah haji tewas dalam tragedi di Mina, Arab Saudi. Otoritas Saudi menyatakan tragedi ini adalah yang terburuk dalam penyelenggaraan ibadah haji selama 2,5 dasawarsa. Sebagaimana dilansir Reuters, Jumat (25/9), setidaknya 863 luka-luka akibat kejadian berdesak-desakan ini. Peristiwa ini terjadi saat dua kelompok besar berdesakan di persimpangan jalan saat hendak lempar jumrah. Tragedi ini merupakan yang terburuk sejak Juli 1990. Saat itu 1.426 jemaah haji kehabisan nafas di terowongan dekat Makkah. Kedua kecelakaan itu terjadi di hari Idul Adha, salah satu hari raya umat Islam.

Foto-foto yang beredar lewat Twitter menggambarkan aparat keamanan Saudi menangani para jemaah yang terlentang di tandu-tandu. Foto lainnya menunjukkan mayat-mayat yang mengenakan pakaian ihram, saling tindih. Sejumlah jenazah nampak mengalami luka-luka.

Ibadah haji telah menjadi panggung dari sejumlah kejadian maut, begitulah Reuters menulis, berupa desak-desakan, kebakaran, dan kerusuhan di masa lalu. Namun frekuensi kejadian tersebut sebenarnya telah menurun di tahun-tahun terakhir. Pemerintah Saudi telah menghabiskan miliaran dolar untuk meningkatkan dan memperluas infrastruktur ibadah haji, serta teknologi pengontrol penumpukan massa.

Masalah keamanan ibadah haji adalah isu politik yang sensitif untuk Dinasti Al Saud yang berkuasa. Dinasti tersebut tampil sebagai penjaga Islam dan dua tempat suci, Makkah dan Madinah. Putra Mahkota Saudi sekaligus Menteri Dalam Negeri, Pangeran Mohammed bin Nayef bin Abdelaziz meminta komite menginvestigasi kejadian ini. Hasil investigasi akan diserahkan kepada Raja Salman.

Juru bicara kementerian Mansour Turki menyatakan investigasi akan mencari penyebab kepadatan jemaah sebegitu rupa yang tak biasanya terjadi. "Penyebabnya belum diketahui," kata Mansour. Kejadian ini merupakan peristiwa besar kedua di tahun ini, setelah derek (crane) konstruksi jatuh di Masjidil Haram Makkah pada 11 September yang lalu, menewaskan 109 orang.

Insiden besar terakhir terjadi pada Januari 2006, 364 jemaah tewas, juga saat prosesi lempar jumrah. Pada 1990, desak-desakan terjadi di terowongan Mina setelah sistem ventilasi gagal berfungsi. Peristiwa mengerikan ini menewaskan 1.426 jiwa, sebagian besar dari Asia.

Untuk kejadian paling anyar ini, titik lokasinya berada di luar Jembatan Jamarat yang terdiri dari lima lantai itu. Jembatan itu didirikan 10 tahun lalu dengan biaya lebih dari semiliar dolar, tujuanya untuk menjamin keamanan jamaah. Jembatan itu merentang hampir satu kilometer, menyerupai tempat parkir dan bisa menampung 300 ribu jemaah selama sejam. Tahun ini, menurut keterangan yang dikeluarkan pada Kamis (24/9) oleh pejabat terkait, ada 1.952.817 jemaah yang mengikuti ibadah haji. Jumlah itu termasuk lebih dari 1,4 juta warga negara dari luar Saudi. 

Belum ada keterangan pasti soal identitas kewarganegaraan dari korban tewas dalam kejadian di Mina. Meski begitu, pihak Turki menyatakan sedikitnya ada 18 warganya yang dilaporkan hilang. Iran melaporkan ada 90 orang warganya yang tewas. Dari Teheran Iran, pejabat menyatakan otoritas haji telah menutup dua jalur dekat lokasi insiden. "Ini menimbulkan insiden tragis," kata kepala organisasi haji Iran, Said Ohadi. (Detikcom/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru