Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 04 September 2026

Peramal Thailand yang Didakwa Hina Kerajaan Tewas dalam Tahanan

- Selasa, 10 November 2015 13:46 WIB
227 view
Peramal Thailand yang Didakwa Hina Kerajaan Tewas dalam Tahanan
Bangkok (SIB)- Seorang peramal ternama Thailand yang didakwa menghina kerajaan meninggal dalam tahanan militer, kata pejabat, Senin (9/11), dan menjadi kasus kedua dalam beberapa pekan ini seseorang yang tertangkap dalam skandal istana ditemukan tewas dalam tahanan.

Pihak berwajib Thailand mengatakan Suriyan Sucharitpolwong atau yang dikenal dengan nama peramalnya "Mor Yong" meninggal akibat infeksi darah pada Sabtu malam, hanya beberapa jam setelah ia ditemukan pingsan dalam selnya di barak militer di Bangkok.

Departemen Lembaga Pemasyarakatan Thailand mengatakan peramal berusia 53 tahun itu dilarikan ke rumah sakit setelah ditemukan oleh penjaga.

"Rumah sakit berupaya menolongnya selama sekitar satu jam tetapi tidak berhasil," kata pernyataan tersebut, dan menambahkan bahwa hasil otopsi yang dilakukan keesokan harinya menunjukkan bahwa ia tewas karena keracunan darah.

Kematian Suriyan menimbulkan pertanyaan mengenai peran militer dalam pengusutan kasus penghinaan keluarga kerajaan yang melibatkan sejumlah tokoh papan atas dan menyedot perhatian media setempat.

Ia ditahan pada Oktober bersama asistennya serta Mayor Polisi Prakrom Warunprapa, yang kemudian oleh pihak berwajib dinyatakan "tewas gantung diri" saat dalam tahanan militer.

Mayat perwira polisi itu segera dikremasi dalam situasi yang belum dijelaskan.

Ketiga tahanan itu terakhir kali dilihat publik pada 21 Oktober, dengan kaki terikat dan kepala gundul, dibawa ke mahkamah militer dimana mereka didakwa dengan sejumlah tuduhan termasuk penghinaan keluarga kerajaan.

Mayor Prakrom tewas dua hari kemudian.

Raja Thailand Bhumibol Adulyadej (87) dilindungi oleh salah satu undang-undang penghinaan kerajaan yang paling ketat di dunia, dan jumlah tuntutan yang dijatuhkan berdasar UU itu melonjak tajam sejak kudeta pada Mei 2014.

Kebanyakan dari mereka didakwa menghina keluarga kerajaan karena mengungkapkan pandangan kritis mengenai kerajaan dan banyak di antaranya dijatuhi hukuman penjara selama puluhan tahun.

Namun sekitar puluhan kasus terbaru juga melibatkan tokoh-tokoh dalam lingkungan istana, yang didakwa dalam penyelidikan penuh rahasia kasus penyalahgunaan koneksi dengan kerajaan untuk mengeruk uang.

Suriyan dan rekan-rekannya didakwa dalam kasus dengan kategori terakhir itu.

Informasi mengenai jalannya penyelidikan sangat sedikit, seperti lazimnya penyelidikan dalam kasus-kasus penghinaan kerajaan.

Meskipun tuduhannya sudah diketahui, wartawan harus menerapkan sensor sendiri untuk menghindari jeratan UU tersebut.

Pemimpin junta Prayut Chan-O-Cha merebut kekuasaan lewat kudeta menggulingkan pemerintahan Yingluck Shinawatra yang terpilih secara demokratis, setelah kerusuhan politik dan unjuk rasa jalanan berlangsung selama berbulan-bulan.

Prayut mengatakan kudeta diperlukan untuk memulihkan ketertiban negara, sementara para kritikus mengatakan kudeta merupakan langkah lain yang digalang oleh kelompok elit untuk merebut kekuasaan dan mencegah berkembangnya demokrasi di negara kerajaan itu.

Pengambilalihan oleh militer itu terjadi di saat meningkatnya kekhawatiran di kalangan elit bersaing, terkait masa depan kerajaan karena masa pemerintahan Bhumibol memasuki tahun-tahun akhir --yang dilihat sebagai faktor pendorong di balik kekisruhan politik selama dasawarsa terakhir ini. (AFP/Ant/l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru