Moskow (SIB)- Otoritas Rusia mulai mengakui serangan teroris kemungkinan menjadi penyebab jatuhnya pesawat maskapai Metrojet di Mesir. Rusia sebelumnya menahan diri untuk mengakui dugaan keterlibatan teroris dalam jatuhnya pesawat tersebut. "Kemungkinan aksi terorisme tentu ada, sebagai alasan apa yang telah terjadi," ucap Perdana Menteri Rusia, Dmitry Medvedev dalam wawancara dengan surat kabar nasional Rusia, Rossiyskaya Gazeta dan dilansir AFP, Selasa (10/11).
Inggris dan juga Amerika Serikat, bersama dengan penyidik internasional, mencurigai pesawat jenis Airbus A-321 itu jatuh akibat ledakan bom yang diselundupkan oleh seseorang ke dalam pesawat. Kecurigaan bom itu mengarah pada militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang berbasis di Sinai.
Terhadap klaim Inggris dan AS itu, otoritas Mesir menyatakan tidak memiliki bukti konkret bahwa pesawat maskapai Rusia itu memang jatuh karena bom. Otoritas Rusia juga awalnya menolak mengakui bahwa bom yang telah menjatuhkan pesawat yang membawa 224 penumpang dan awak itu.
Namun sejak Jumat (6/11), Presiden Vladimir Putin memerintahkan penghentian sementara seluruh penerbangan ke Mesir dengan alasan keamanan. Terhadap hal itu, PM Medvedev menyatakan, penyelesaian isu keamanan penerbangan dengan Mesir akan memakan waktu lama.
"Saya sudah mengatakannya hari ini, dalam rapat dengan wakil perdana menteri, bahwa kita tidak seharusnya hanyut dalam ilusi. Isu-isu ini, yang berkaitan dengan keamanan, tidak akan bisa diselesaikan secara cepat. Oleh karena itu, kemungkinan ini akan memakan waktu lebih lama. Pergerakan turis akan ditentukan oleh hal ini," tutur Medvedev seperti dilansir media Rusia, Sputnik.
Rusia sebelumnya mengkritik Inggris karena tidak berbagi informasi intelijen soal dugaan pesawat jatuh karena bom. Namun dalam pernyataannya, pihak Kementerian Luar Negeri Inggris mengaku telah berbagi informasi intelijen dengan mitra-mitranya, termasuk Rusia.
Staf Hotel Mesir Dicurigai
Insiden jatuhnya pesawat Rusia di Sinai, Mesir, menyisakan banyak tanya, terutama soal penyebab pasti kecelakaan yang menewaskan 224 orang tersebut. Satu kemungkinan baru sedang dijajaki kepolisian Mesir, yaitu dugaan keterlibatan staf hotel di Kota Sharm el-Sheikh dalam peristiwa itu.
Seperti diberitakan The Telegraph, Selasa (10/11), ada teori yang menyebutkan staf hotel di Sharm el-Sheikh menyisipkan bom di koper penumpang pesawat Kogalymavia asal Rusia dan meledak di atas Sinai.
Untuk membuktikan teori tersebut, seluruh staf hotel tempat wisatawan Rusia korban insiden itu menginap diperiksa. Mulai dari pelayan hingga pembawa barang diinterogasi dan diperiksa latar belakangnya, apakah pernah terlibat jaringan teror. Hal yang sama dilakukan terhadap para pekerja di bandara Sharm el-Sheikh. Intel Barat menduga, pesawat telah ditanami bom, entah siapa yang longgar pengamanannya, bandara atau hotel. Intel Barat menangkap percakapan anggota kelompok teror dalam satu sadapan telepon, menyebutkan bahwa pesawat jatuh karena bom. Belum ada rilis resmi hasil penyelidikan, namun seorang penyidik asal Mesir yakin 90 persen ada bahan peledak di pesawat Airbus A321 itu.
Kelompok bersenjata di Sinai yang berafiliasi dengan ISIS mengklaim melakukannya. Dalam pernyataan tertulisnya, kelompok bernama Provinsi Sinai ini mengaku membalas dendam atas campur tangan Rusia di perang Suriah. Selain itu, menurut pemimpin Provinsi Sinai, Abu Osama al-Masri dalam pesan audio, serangan ini menandai setahun baiat mereka kepada ISIS. Penyidik masih terus mencari bukti-bukti keras yang menunjukkan hal itu, termasuk dari bentuk puing pesawat atau jejak mesiu. Sementara itu ribuan wisatawan asal Inggris masih terjebak di Sharm el-Sheikh karena penerbangan dibatasi demi alasan keamanan.
Sementara itu, pihak Airbus ikut serta dalam penyelidikan jatuhnya pesawat maskapai Rusia, Metrojet, di Mesir. Sejauh ini, belum terdeteksi bahwa gangguan teknis menjadi penyebab jatuhnya pesawat jenis Airbus A-321 itu. "Terlepas dari emosi dan simpati usai tragedi ini, saya bisa mengatakan bahwa sejauh ini, apa yang kami dapat dari penyelidikan tidak menunjukkan adanya gangguan apapun, termasuk gangguan teknis dari pihak kami, terhadap pesawat jenis A-321," tutur CEO Airbus, Fabrice Bregier. "Tapi kami harus menunggu hingga penyelidikan mencapai kesimpulan," imbuhnya di sela-sela acara Dubai Airshow.
Bersama para pakar dari Mesir, Rusia, Jerman dan Prancis, pihak Airbus terlibat dalam penyelidikan jatuhnya pesawat yang membawa 224 penumpang dan awak ini. Penyelidikan tengah dilakukan terhadap kotak hitam pesawat, puing pesawat dan juga di lokasi jatuhnya pesawat di wilayah Sinai Utara, Mesir.
Ketua tim investigasi Mesir Kapten Ayman Muqaddam menyatakan salah satu fokus penyelidikan ialah suara keras yang terdengar pada detik-detik terakhir rekaman kokpit yang berdurasi 23 menit. Muqaddam menyebut seluruh kemungkinan yang memicu suara keras itu, mulai dari ledakan baterai litium yang disimpan di dalam koper penumpang, ledakan tangki bahan bakar, ledakan badan pesawat, atau ledakan lainnya, tengah diselidiki. (AFP/dtc/CNNIndo/l)