Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 04 September 2026
NLD Raih 88 Persen Suara

Partai Suu Kyi Klaim Sipil Myanmar akan Lebih Kuat dari Militer di Parlemen

* Bahas Transisi Kekuasaan, Suu Kyi Minta Bertemu Presiden dan Kepala Militer Myanmar
- Kamis, 12 November 2015 13:32 WIB
295 view
Partai Suu Kyi Klaim Sipil Myanmar akan Lebih Kuat dari Militer di Parlemen
Yangon (SIB)- Berita kemenangan partai Liga Nasional untuk Demokrasi, NLD, dalam pemilu tahun ini memberikan harapan baru bagi rakyat Myanmar agar cengkeraman militer di negara itu mengendur. Pasalnya, ketika NLD sudah diresmikan sebagai pemenang pemilu, sebagian besar anggota parlemen Myanmar merupakan warga sipil, sementara kubu militer hanya 25 persen.

Kepala Komite Eksekutif NLD, Nyan Win memastikan bahwa kandidat NLD yang menang akan berkerja sama dengan partai lainnya dan kubu militer di parlemen. Meski demikian, NLD akan memastikan kubu sipil akan lebih kuat ketimbang militer. Meskipun militer, tentu saja, masih memiliki pengaruh di parlemen.

Ditanya apakah militer akan dapat menguasai parlemen atau dapat membubarkan pemerintahan yang nantinya akan terbentuk, Nyan Win di markas NLD di Yangon, Rabu (11/11),  dengan tegas menjawab, “Tidak, karena mereka hanya 25 persen.”

Nyan Win juga memastikan bahwa jika militer tidak menyetujui suatu pembentukan atau perubahan undang-undang baru, kubu militer tidak serta merta dapat menganulir undang-undang tersebut. “Mereka boleh saja akan menolaknya, tapi para anggota NLD akan terus maju, demi rakyat,” tegas Nyan Win lagi.

Meski hanya memiliki porsi 25 persen dari keseluruhan kursi di parlemen, kubu militer dipastikan akan mengisi sejumlah posisi strategis di pemerintahan, seperti Kementerian Pertahanan, Kementerian Perbatasan dan Kementerian Dalam Negeri. Selain itu, kandidat parlemen untuk kubu militer tidak dapat dipilih langsung oleh publik Myanmar, melainkan dipilih oleh para tentara di barak-barak militer.

Pemungutan suara ini berlangsung bertahap sebelum pemilihan umum nasional digelar, dan tidak disaksikan oleh pengamat internasional.

Nyan Win juga mengungkapkan Aung San Suu Kyi meminta bertemu dengan Presiden Myanmar Thein Sein dan Kepala Militer Min Aung Hlaing, untuk membicarakan rencana transisi pemerintahan dari Thein Sein kepada NLD. Pihak militer juga diminta ikut hadir dalam pertemuan tersebut karena militer memiliki kursi tersendiri di parlemen.

Nyan Win memaparkan pertemuan ini dimaksudkan untuk menghindari adanya permasalahan dalam perpindahan transisi pemerintahan. Pertemuan tersebut, rencananya, merupakan ajang bagi seluruh pihak untuk saling mengetahui keinginan masing-masing dan bernegosiasi untuk membentuk pemerintahan Myanmar selanjutnya.

Nyan Win menyebutkan pertemuan itu juga membahas cara menjembatani dua kubu parlemen, yaitu kubu warga sipil sebanyak 75 persen dan kubu militer sebanyak 25 persen. Pasalnya, kedua kubu ini pastinya memiliki cara memerintah yang berbeda. Nyan Win juga mengungkapkan bahwa Suu Kyi sudah mengantungi nama yang akan menjadi calon presiden dari partai NLD. Namun, Suu Kyi tidak akan membukanya kepada publik hingga saatnya tepat. Ditanya apakah kandidat calon presiden dari NLD akan berasal dari warga sipil atau milter, Nyan Win menjawab dengan tegas, “Warga sipil.” Meski penghitungan suara diperkirakan akan rampung dalam tujuh hari setelah pemilu digelar, NLD diperkirakan akan memenangi pemilu dan telah mengantongi mayoritas suara.

Hingga Selasa (10/11) malam, hasil perhitungan suara sementara yang dirilis oleh KPU Myanmar menunjukkan NLD mengantongi 88 persen suara, dengan mengamankan 88 kursi di Pyithu Hluttaw (majelis rendah), dan 29 kursi di Amyotha Hluttaw (majelis tinggi) dan 182 kursi di dewan perwakilan daerah dan etnis. Aung San Suu Kyi sendiri memenangkan kursi parlemen dari daerah pemilihan Kawhmu.

Sementara partai yang berkuasa, Partai Persatuan dan Pengembangan, USDP, pimpinan Presiden Thein Sein hanya mengamankan 5 kursi di Pyithu Hluttaw, dan 2 kursi di Amyotha Hluttaw dan 11 kursi di dewan perwakilan daerah dan etnis. Hasil tersebut menjadi kemenangan besar untuk NLD dan pukulan telak bagi USDP yang sebagian besar diisi oleh mantan jenderal militer.

Dinilai Sukses

Hasil pemilu sementara di Myanmar menunjukkan partai oposisi, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) memimpin perolehan suara dan ada kemungkinan berdampak positif terhadap kawasan Asia Tenggara. Kartini Aboo Talib, pengamat politik dari Universitas Kebangsaan Malaysia menuturkan jika partai NLD memang pada akhirnya menang, secara sepintas akan menunjukkan kawasan Asia Tenggara menjadi semakin demokratis.

Kemungkinan besar investor asing di Myanmar akan meningkat, yang akan membuat ASEAN semakin maju. Namun dia mengingatkan bahwa masih ada beberapa persoalan, antara lain peran militer pascapemilu nanti. "Kemenangan Aung San Suu Kyi juga boleh dikaitkan dengan tentara memberi haluan (jalan) kepadan Aung San Suu Kyi," kata Kartini. Dan besarnya pengaruh militer ini yang masih belum bisa diketahui.

Terlalu Dini

Sedangkan Direktur Asia Timur dan Pasifik Kementerian Luar Negeri Indonesia, Edi Yusup, berpendapat masih terlalu dini untuk membuat kesimpulan mengenai pemilu Myanmar, terutama mengenai dampaknya terhadap Indonesia. "Kan kita belum tahu siapa yang menang. Memang penghitungan suara sementara mengatakan NLD mencapai 88% tapi kan proses pengambilan keputusan kita belum tahu sebenarnya bagaimana ke depan," kata Edi. Pemilu Myanmar digelar, Minggu (08/11) dan diikuti oleh lebih dari 90 partai. Sekitar 30 juta orang terdaftar dalam pemilu yang dinilai paling terbuka dalam dua puluh lima tahun terakhir ini.

Direncanakan hasil pemilu secara resmi akan diketahui dalam beberapa hari ke depan. Kalau pun NLD dinyatakan menang, pemimpin mereka Aung San Suu Kyi tidak akan bisa menjadi presiden karena konstitusi melarang siapa pun yang punya anak hasil perkawinan dengan warga asing menjadi pemimpin negara. Aung San Suu Kyi memiliki suami warga Inggris yang meninggal dunia karena kanker. (CNNIndonesia/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru