Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 05 September 2026

PBB Minta Pengungsi Timteng Jangan Disalahkan atas Tragedi Paris

- Kamis, 19 November 2015 11:31 WIB
340 view
PBB Minta Pengungsi Timteng Jangan Disalahkan atas Tragedi Paris
New York (SIB)- Usai tragedi pengeboman dan penembakan di Paris, Perancis pada Jumat (13/11) waktu setempat yang diklaim oleh kelompok militan ISIS, PBB meminta negara-negara Eropa untuk tak bereaksi terhadap peristiwa itu dengan menolak maupun menyalahkan pengungsi, yang sebagian besar melarikan diri dari perang dan cengkeraman ISIS di Timur Tengah.

"Kami prihatin dengan reaksi beberapa negara untuk menghentikan program yang sedang berjalan, mundur dari komitmen untuk mengatasi krisis pengungsi, atau hendak menambah tembok perbatasan," ujar Melissa Fleming, kepala juru bicara badan pengungsi PBB, UNHCR, Selasa (17/11). "Kami amat terganggu dengan kata-kata kebencian terhadap pengungsi. Ini berbahaya karena bisa berujung xenofobia dan ketakutan," katanya.

Fleming menambahkan UNHCR tak kalah khawatir atas sangkaan bahwa salah satu pelaku serangan berdarah Paris mungkin masuk ke Eropa melalui gelombang besar imigran. Baginya, respons terbaik terhadap tragedi Paris adalah segera meningkatkan proses masuk pengungsi di Yunani dan Italia, serta melaksanakan rencana Uni Eropa untuk merelokasi 160 ribu pengungsi. "Kami yakin jika ini dilakukan sejak awal, kita tidak akan melihat citra pengungsi seperti seburuk ini. Ini semua memang tidak serta merta menyelesaikan persoalan, tetapi akan jauh lebih baik untuk mengatasinya."

Saat ditanya tentang apakah UNHCR telah memperingatkan risiko buruknya manajemen arus imigran sehingga militan dapat ikut melenggang ke Eropa, Fleming berujar UNHCR telah memperingatkan dari sisi pentingnya penyaringan yang tepat.

Sementara itu, juru bicara badan HAM PBB, Rupert Colville berpendapat, korban terbesar ISIS adalah umat Muslim di Suriah dan Irak. "Jika serangan ini berujung diskriminasi dan buruk sangka terhadap Muslim, kita terjerumus dalam permainan ISIS. Apakah kita mau dipermainkan oleh mereka?," katanya, dilansir dari Reuters. "Membenci mereka yang sudah terpinggirkan sudah tentu cara yang bodoh," ujar Colville melanjutkan.

Menurut Joel Millman, juru bicara Organisasi Internasional untuk Migrasi (OIM), dari sekitar 1,1 juta orang yang tiba di Eropa dalam beberapa tahun belakangan, hanya segelintirnya yang kemungkinan terkait dengan ekstremisme. Statistik OIM menunjukkan sebanyak 832.193 imigran dan pengungsi telah bermukim di Uni Eropa tahun ini. Sedikitnya 3.505 pengungsi meninggal dalam perjalanan.

Protes Tindakan Thailand
Badan PBB untuk pengungsi memrotes langkah Thailand memulangkan dua pengungsi ke Tiongkok, dengan mengatakan mereka tidak selayaknya dikembalikan ke negara tempat nyawa mereka terancam. Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi mengatakan kedua pengungsi itu memiliki "surat perlindungan" PBB. Mereka menunggu kepergian ke Kanada setelah permohonan mereka sebagai pengungsi diterima saat ditangkap pihak berwajib Thailand.

"Mereka dinyatakan pengungsi dan pengakuan mereka soal penyiksaan terbukti sah," kata juru bicara kawasan UNHCR Vivian Tan kepada Reuters. "Mereka tidak seharusnya dipulangkan ke tempat nyawa mereka terancam," katanya.

Badan pengungsi itu tidak menyebutkan nama kedua pegiat itu ataupun kewarganegaraannya, namun seorang pejabat di Rumah Detensi Imigrasi di Bangkok menjelaskan kasus mereka. Jiang Yefei dan Dong Guangping ditahan pada 28 Oktober atas permintaan Tiongkok, kata pejabat yang enggan disebutkan namanya karena masalah itu cukup peka.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Hong Lei mengatakan masalah itu tengah ditangani "sesuai dengan hukum". Ia tidak menjelaskan lebih lanjut. Kedutaan besar Kanada di Bangkok tidak memberikan jawaban saat dimintai komentarnya oleh Reuters.

Thailand belum menandatangani Konvensi Jenewa terkait status pengungsi, ataupun memiliki hukum khusus mengenai pengungsi. Thailand mendeportasi sekitar 100 warga Muslim Uighur ke Tiongkok pada Juli, memicu kecaman dari Amerika Serikat dan negara lain. Uighur adalah suku berbahasa Turkic, yang menyebut wilayah Xinjiang di Tiongkok barat sebagai kampung halaman mereka. Petugas imigrasi Thailand mengatakan kedua pria itu bukan berasal dari Uighur. (Ant/Rtr/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru