Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 04 September 2026

Pasca Serangan di Paris, Belgia Tingkatkan Keamanan Hingga Level Tertinggi

- Minggu, 22 November 2015 15:57 WIB
370 view
Pasca Serangan di Paris, Belgia Tingkatkan Keamanan Hingga Level Tertinggi
SIB/AFP
Sejumlah tentara bersenjata lengkap Belgia berpatroli di ruas jalan di kota Brussels, Sabtu (21/11). Belgia meningkatkan keamanan hingga ke level tertinggi pasca serangan di Paris.
Brussel (SIB)- Pasca serangan yang menewaskan hingga 130 orang di Paris pekan lalu, Belgia meningkatkan keamanan negaranya hingga ke level tertinggi. Hal ini dilakukan seiring dengan kekhawatiran Eropa terhadap serangan kelompok militan ISIS. "Setelah dievaluasi, pusat telah meningkatkan pengamanan teror ke tingkat 4. Ini menandakan ancaman yang sangat serius untuk wilayah Brussel," ujar salah satu anggota pusat unit koordinasi dan analisis ancaman (OCAM) seperti dikutip dari kantor berita AFP, Sabtu (21/11).

Unit di bawah koordinasi Kementerian Dalam Negeri Belgia ini juga menunjukkan hasil analisis adanya ancaman serius. Pihaknya mengimbau warga untuk menghindari pusat keramaian, seperti lokasi konser dan transportasi umum di Brussel. Dalang utama serangan teror Paris, Abdelhamid Abaaoud tewas dalam penggerebekan pada Kamis (19/11). Sang ayah, Omar Abaaoud, sudah sejak 40 tahun lalu pindah ke Belgia dari Maroko. Di Belgia, Omar memiliki sebuah toko pakaian yang berlokasi di dekat kompleks pasar di wilayah Molenbeek, Brussel.

Abaaoud yang lahir tahun 1987 di Molenbeek ini memiliki nama alias Abou Omar Soussi dan juga Abou Omar al-Baljiki. Sang ayah meyakini Abaaoud mulai diradikalisasi pada tahun 2013 lalu, ketika Abaaoud meminta sang ayah berhenti menanamkan pendidikan ala Eropa kepada adik laki-lakinya, Younes.

Ditangkap di Hotel Mewah Turki

Kepolisian Turki menangkap seorang pria Belgia yang diduga terlibat serangan teror di Paris, Prancis pekan lalu. Pria keturunan Maroko itu diciduk di satu hotel mewah di kota Antalya, Turki selatan. Seorang pemerintah Turki mengatakan seperti dilansir kantor berita Reuters, Sabtu (21/11), pria tersebut diidentifikasi sebagai Ahmet Dahmani (26). Dia dituduh melakukan pengintaian untuk memilih lokasi-lokasi yang dijadikan target serangan teror di Paris yang menewaskan 129 orang pada 13 November lalu.

Menurut kantor berita Dogan, Dahmani telah menginap di sebuah hotel bintang lima di Antalya sejak 16 November lalu. Antalya merupakan kota pantai yang menjadi tujuan wisata populer di Turki. Dilaporkan Dogan, dua orang lainnya, keduanya warga Suriah, juga ditahan di jalan raya dekat hotel tersebut. Keduanya diduga telah dikirimkan oleh kelompok ISIS di Suriah guna membantu Dahmani melewati perbatasan untuk masuk ke Suriah. Media Dogan yang mengutip sumber-sumber keamanan, mengidentifikasi kedua pria Suriah itu sebagai Ahmet Tahir (29) dan Muhammed Verdi (23).

Polisi antiterorisme Turki pertama kali mengetahui keberadaan Dahmani ketika dia tiba di Antalya dengan menumpang sebuah pesawat dan melacaknya hingga ke hotel mewah di distrik Manavgat, kota Antalya. Sementara itu, otoritas Turki telah mendeportasi sekelompok warga Maroko yang ditahan di bandara utama di Istanbul pekan ini, atas dugaan keterkaitan dengan kelompok ISIS. Kedelapan orang itu tiba di Bandara Ataturk pada Selasa (24/11) lalu dan mengaku datang untuk berlibur. Namun mereka ditahan polisi perbatasan dan setelah diinterogasi, mereka dinyatakan sebagai tersangka militan.

Ternyata Laki-laki, Bukan Hasna Aitboulahcen

Hasna Ait Boulahcen ternyata bukanlah pelaku bom bunuh diri saat penggerebekan di St-Denis, Belgia. Hasil investigasi terbaru tim forensik Perancis menemukan bahwa pelaku bom bunuh diri adalah seorang laki-laki. Hasna, wanita berusia 26 tahun itu, awalnya diduga meledakkan dirinya saat aparat kepolisian melakukan penyergapan di satu apartemen di St-Denis, Rabu (18/11) lalu.

Saat itu, pihak berwenang sempat menyatakan bahwa potongan jenazah yang ditemukan di luar apartemen pasca-penyergapan St-Denis adalah Hasna. "Hasil penemuan sebelumnya dari kepolisian khusus mengindikasikan bahwa yang mengenakan sabuk peledak adalah Hasna," ungkap seorang sumber kepada ABC News. "Namun, tengkorak yang kami temukan di pinggir jalan bukanlah miliknya," ujarnya.

Menurut ABC News, penyergapan di apartemen tersebut sangat serius, sampai-sampai tim investigasi pun baru sekarang mengetahui bahwa korban tewas dari penyergapan itu ada tiga orang, bukan dua.

Sementara itu, aparat kepolisian mengatakan kepada Euronews bahwa Hasna tewas bersama pelaku bom bunuh diri. Hasna diketahui sebagai sepupu Abdelhamid Abaaoud yang diduga otak di balik serangan mematikan di Paris. Abaaoud dinyatakan tewas dalam penyergapan di apartemen St-Denis itu. (Rtr/dtc/ABCNews/kps.com/y)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru