Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 04 September 2026

Surat Ancaman Taliban Diperjualbelikan sebagai Modal Cari Suaka

- Senin, 23 November 2015 13:37 WIB
171 view
Surat Ancaman Taliban Diperjualbelikan sebagai Modal Cari Suaka
Kabul (SIB)- Surat ancaman dari kelompok Taliban kini dicetak secara massal dan diperjualbelikan bagi para pengungsi asal Afghanistan. Surat ancaman tersebut dijadikan modal untuk mencari suaka di negara-negara Eropa.

Surat ancaman Taliban tersebut awalnya ditujukan bagi mereka yang bekerja sama dengan tentara Afghanistan atau tentara Amerika Serikat (AS). Terkadang surat tersebut dianggap seperti surat pemberitahuan hukuman mati bagi si penerima. Anggapan itu muncul karena di dalam surat, Taliban menulis tidak akan bertanggung jawab pada masa depan si penerima.

Namun, Taliban mengaku sudah tidak menggunakan surat ancaman tersebut. Kini, surat tersebut menjadi bisnis yang cepat berkembang di kalangan para pencari suaka asal Afghanistan. Surat cetakan tersebut dapat diperoleh dengan harga USD 1000 atau sekira Rp14 juta.

“Saya beri tahu anda. Hanya satu persen dari surat tersebut yang sekarang beredar di Eropa adalah surat asli. Sisanya dapat dipastikan palsu,” ujar salah seorang pencetak ulang dan penjual, Said Mukhamil, seperti dilaporkan Washington Post, Minggu (22/11). “Hingga hari ini, saya adalah satu-satunya orang yang mendapat surat ancaman mati langsung dari Taliban. Sisanya dapat dipastikan surat ancaman palsu,” ujar pria berusia 35 tahun itu.

Dalam menjalankan aksinya, Mukhamil mencetak ulang surat ancaman tersebut. Dia mengganti nama penerima dan menambahkan kop surat dengan logo Taliban yang didapatnya dari internet. Sejauh ini, Mukhamil berhasil menjual 20 surat ancaman palsu.

Diperkirakan akan ada 160 ribu orang meninggalkan Afghanistan untuk menuju Eropa hingga akhir 2015. Dengan tingkat pengangguran sebesar 24 persen dan kelompok pemberontak bergentayangan di seluruh negara, dipastikan peminat surat ancaman tersebut akan bertambah banyak sebagai modal untuk memperoleh suaka di Benua Biru. (WashingtonPost/okz/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru