Paris (SIB)- Belakangan diketahui bahwa ada banyak kesempatan untuk menghentikan para pelaku serangan teror Paris yang merenggut 130 nyawa. Banyak peringatan bahaya yang muncul namun dilewatkan, tidak hanya oleh otoritas Prancis tapi juga negara-negara Eropa, terkait para pelaku.
Pada Januari lalu, otoritas Turki menahan salah satu pelaku teror Paris di perbatasan Turki dan mendeportasinya ke Belgia. Brahim Abdeslam, saat itu dicurigai telah diradikalisasi dan hendak bergabung Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Suriah. Saat interogasi di Belgia, Abdeslam membantah terlibat dengan kelompok militan dan akhirnya dibebaskan. Demikian seperti dilansir Reuters, Senin (23/11).
Demikian juga dengan saudaranya, Salah, yang diyakini otoritas Belgia tak terindikasi terorisme. Pada 13 November, Abdeslam meledakkan diri di bar Le Comptoir Voltaire, Paris hingga tewas dan melukai satu orang lainnya. Sedangkan Salah masih diburu terkait keterlibatannya dalam serangan yang sama.
Di Prancis, daftar S atau daftar keamanan untuk orang-orang yang dianggap menjadi ancaman keamanan nasional memuat nama Ismail Omar Mostefai, yang meledakkan diri di dalam gedung konser Bataclan, Paris pada 13 November lalu. Sumber kepolisian Prancis menyebut, Mostefai yang warga negara Prancis keturunan Aljazair, sebenarnya sudah masuk dalam daftar S sejak tahun 2010.
Pada Desember 2014, Turki menghubungi Prancis untuk memberitahu kecurigaan soal Mostefai bergabung ISIS, namun tak ada respons. Turki kembali mengirim peringatan pada Prancis, Juni 2015, dan kembali tak ada jawaban. Prancis dilaporkan baru merespons Turki pekan lalu, setelah teror Paris terjadi.
Satu pelaku lainnya, Bilal Hadfi yang meledakkan diri di luar Stade de France juga masuk dalam daftar pengawasan terorisme. Pada Februari lalu, Hadfi yang warga Prancis namun tinggal di Belgia ini, berkunjung ke Suriah dan berhasil kembali ke Belgia tanpa terdeteksi intelijen Eropa.
Disebut Reuters, kepolisian, intelijen dan otoritas keamanan Eropa sebenarnya memiliki kesempatan menahan setidaknya satu pelaku. Tapi faktanya, tidak ada yang ditahan sehingga mereka bebas bergerak di Eropa sambil merencanakan serangan teror mematikan. "Kita berada di situasi di mana badan keamanan kewalahan. Mereka memperkirakan sesuatu terjadi, tapi tidak tahu di mana," sebut Nathali Goulet yang memimpin komisi penyelidikan Senat Prancis terhadap jaringan jihad.
Banyak juga yang menyebut Belgia, asal beberapa pelaku teror Paris termasuk dalang utama Abdelhamid Abaaoud yang tewas di tangan polisi Prancis, sebagai titik lemah sistem keamanan Eropa. "Mereka tidak memiliki peralatan yang sama seperti MI5 asal Inggris atau DGSI (intelijen Prancis)," ucap mantan kepala DST, unit antiterorisme Prancis, Louis Caprioli.
Dituturkan pakar keamanan, hal yang menjadi tantangan intelijen ialah menentukan seberapa berbahaya sosok radikal dan apakah mereka mungkin melakukan serangan teror. "Ketika operasi (teroris) besar tengah dipersiapkan, mereka (para pelaku) diminta untuk tidak menarik perhatian sejak beberapa bulan sebelumnya. Begitu mereka tidak lagi masuk dalam radar polisi, situasinya menjadi seperti mencari jarum di tumpukan jerami," ucap Roland Jacquard, presiden International Terrorism Observatory, pemantau terorisme yang berbasis di Paris.
Serangan Senjata Kimia
Menyusul serangan yang menewaskan 137 orang di Paris, pemerintah Perancis mempersiapkan rencana pencegahan peristiwa serupa terjadi di masa depan. Selain serangan dengan senjata api, Perancis juga mengantisipasi serangan senjata kimia. Menurut Menteri Pertahanan Perancis Jean-Yves Le Drian, yang dikutip Al-Arabiya, Minggu (21/11), serangan senjata kimia adalah "salah satu risiko" yang mungkin terjadi dan harus dihindari. Dia mengatakan, aparat Perancis tidak ingin mengesampingkan semua risiko yang mungkin timbul. Walaupun Le Drian menyadari serangan senjata kimia sangat sulit dilakukan, namun Perancis telah "melakukan semua tindak pencegahan" untuk menghadapi serangan ini. Tidak dijabarkan tindak pencegahan apa yang telah dilakukan Perancis.
Saat ini Perancis dibantu oleh aparat di Belgia tengah memburu satu-satunya pelaku yang terlibat langsung dalam penembakan di Paris, Salah Abdeslam, yang diduga kabur ke Brussels.
Sebanyak tujuh pelaku tewas dalam peristiwa yang terjadi 13 November lalu di enam tempat di Paris. Sebelumnya sumber keamanan di Turki kepada Reuters mengatakan seharusnya peristiwa itu tidak terjadi jika salah seorang pelaku ditangkap sebelumnya. Sumber Turki mengatakan, salah satu pelaku pengeboman bunuh diri di Paris, Brahim Abdeslam, ditangkap Januari lalu saat hendak menyeberang ke Suriah dari Turki untuk bergabung dengan ISIS.
Brahim lantas dideportasi ke Belgia, namun tidak ada pengawasan yang ketat dari pemerintah kota Brussels terhadap warga mereka yang telah teradikalisasi ini. Sementara itu Le Drian mengatakan bahwa kapal induk Charles de Gaulle telah dikirim untuk misi menggempur ISIS di Suriah dan akan mulai beroperasi hari ini. Perancis menggencarkan serangan ke Suriah setelah simpatisan ISIS di Paris yang juga melukai ratusan orang. (Rtr/dtc/l)