Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 05 September 2026

Rusia Beberkan Bukti Turki Terlibat Perdagangan Minyak dengan ISIS

* Iran: Rencana Pertemuan Oposisi di Riyadh akan Gagalkan Proses Perdamaian
- Jumat, 04 Desember 2015 11:46 WIB
601 view
 Rusia Beberkan Bukti Turki Terlibat Perdagangan Minyak dengan ISIS
Presiden Rusia Vladimir Putin (berdiri) memberikan pidato kenegaraan tahunan di hadapan tokoh-tokoh dan pejabat Rusia di Kremlin, Moskow, Kamis (3/12). Putin dalam pidatonya mengatakan, Moskow akan membuat Turki menyesali perbuatannya menembak jet tempur
MOSKWA (SIB)- Rusia, Rabu (2/12), menuduh keluarga presiden Turki terlibat dalam perdagangan minyak ilegal dengan ISIS. Hasil aktivitas perdagangan di pasar gelap itu diklaim telah memberikan dana jutaan dolar buat kas kelompok teroris tersebut.

Ketika berbicara kepada wartawan di Moskow, Menteri Pertahanan Rusia, Anatoly Antonov, secara sensasional mengungkapkan citra satelit yang, ia klaim, menunjukkan truk-truk tangki dengan bebas melintasi perbatasan Suriah ke Turki. Antonov juga mengatakan, Rusia telah melihat bukti bahwa Recep Tayyip Erdogan dan keluarganya terkait dengan bisnis minyak ISIS.

Klaim Antonov tersebut muncul saat kedua negara terus terlibat dalam perang kata-kata yang meningkat setelah militer Turki menembak jatuh satu jet Rusia yang diklaim Turki melanggar wilayah udaranya pekan lalu. Antonov kemarin mengatakan, "Presiden Erdogan dan keluarganya terlibat dalam bisnis kriminal ini. Kami tahu makna kata-kata Erdogan. Para pemimpin Turki tidak akan mundur dan mereka tidak akan mengakui apa pun bahkan jika wajah mereka yang diolesi dengan minyak curian itu."

Untuk membuktikan komentarnya, pembantu Antonov merilis apa yang diklaim sebagai rekaman pemantauan yang menampilkan belasan truk menyeberang ke Turki. Sejumlah pejabat kementerian pertahanan menunjukkan kepada wartawan apa yang mereka katakan merupakan citra satelit yang memperlihatkan ribuan truk tangki yang membawa minyak dari daerah yang diduduki ISIS di Suriah dan Irak ke Turki. Namun mereka tidak memberikan bukti untuk mendukung klaim keterlibatan Erdogan sebagai pribadi dan keluarganya dalam perdagangan minyak ilegal tersebut.

Antonov mengklaim bahwa militan ISIS mendapat 1,3 miliar pounds (atau Rp 26,8 triliun) setahun dari perdagangan minyak ilegal itu. Letnan Jenderal Sergei Rudskoi, dari staf umum militer Rusia, juga mengklaim serangan udara Rusia terhadap infrastruktur minyak ISIS di Suriah telah memangkas separuh keuntungan kaum militan itu.

Presiden Erdogan telah membantah keterlibatan Turki dalam perdagangan minyak dengan ISIS. Ia mengatakan berulang kali bahwa dirinya akan mengundurkan diri jika Rusia bisa membuktikan tuduhan tersebut.  Pekan lalu, saat berbicara di Ankara, Erdogan berkata, "Mereka mengklaim Turki membeli minyak dari Daesh", singkatan dalam bahasa Arab untuk ISIS. "Memalukan. Mereka yang mengklaim bahwa kami membeli minyak dari Daesh wajib membuktikannya. Jika tidak, anda adalah pemfitnah."

Gagalkan Perdamaian
Iran mengatakan bahwa pertemuan kelompok oposisi Suriah di Riyadh, Arab Saudi, akan menggagalkan proses perdamaian di Suriah. “Pembicaraan damai adalah kesempatan untuk menemukan solusi politik untuk mengakhiri perang di Suriah…pertemuan semacam itu di Riyadh…bertujuan untuk membahayakan pembicaraan Wina,” ujar Wakil Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amirabdollahian kepada kantor berita Fars, Kamis (3/12). “Pertemuan di Riyadh…akan menyebabkan kegagalan pembicaraan damai Wina soal Suriah dan ini bukan bagian dari perjanjian Wina,” tambahnya.

Arab Saudi, rival Iran yang Syiah, telah mengundang 65 orang dari oposisi Suriah untuk berkumpul di Riyadh untuk mencoba menyatukan mereka menuju kelanjutan pembicaraan damai soal Suriah. Dua ronde pertama pembicaraan damai Suriah dilangsungkan di Wina, Austria. Pada November, pihak yang terlibat dalam pembicaraan di Wina sepakat untuk proses politik yang berujung pemilu di Suriah dalam dua tahun. Namun masih terdapat perbedaan dalam isu kunci terutama terkait nasib Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Amerika Serikat, negara-negara Teluk, dan Turki, mengatakan bahwa Assad yang merespon keras protes damai pada 2011 lalu merupakan penyebab perang. Oleh karena itu, ia harus turun takhta. Iran dan Rusia mendukung Assad, mengatakan bahwa negara lain seharusnya tak memaksakan agenda politik mereka di Suriah. “Hanya orang Suriah bisa memutuskan nasib negara mereka,” kata Amirabdollahian.

Perpecahan di antara kelompok oposisi Suriah selama ini merupakan kendala utama bagi negara itu mencapai perdamaian, yang juga menyebabkan mudahnya kelompok ultra garis keras seperti ISIS mengambil keuntungan. PBB mencatat lebih dari 250 ribu orang telah tewas dalam konflik Suriah, sedang jutaan lainnya melarikan diri atau kehilangan rumah mereka. (Daily Mail/kps.com/CNNIndo/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru