Kuala Lumpur (SIB)- Insiden hilangnya pesawat Malaysia Airlines (MAS) MH370 menyoroti lemahnya pengawasan Angkatan Udara Malaysia. Bagaimana bisa sebuah pesawat tak teridentifikasi bisa terbang melalui wilayah udara Malaysia tanpa ketahuan oleh Angkatan Udara negara tersebut?
Normalnya, jika ada pesawat tak dikenal terbang di wilayah suatu negara maka akan langsung dikejar oleh pesawat jet militer untuk kemudian dicegat dan diidentifikasi. Di sisi lain, insiden MAS MH370 ini juga memicu pertanyaan bagi publik Malaysia mengenai keamanan dan pertahanan wilayah udara mereka.
Seperti dilansir The Star, Senin (24/3), Konsultan Pertahanan Udara Ravi Madvaram bersikeras menyatakan militer Malaysia tidak melakukan kesalahan. Keberadaan pesawat komersial memang tidak seharusnya masuk dalam pengawasan militer. "Dari sudut pandang saya, mereka tidak melakukan kesalahan. Mereka tidak melewatkan sebuah pesawat militer. Mereka melewatkan sebuah pesawat komersial yang juga tidak menjadi tugas mereka (untuk mengawasinya)," terang Ravi.
Ravi menekankan bahwa tujuan dari radar primer militer dan radar sekunder komersial sangat berbeda. Radar sekunder, lanjut Ravi, digunakan oleh menara kontrol Air Traffic Control (ATC) untuk melacak keberadaan penerbangan komersial, terutama saat lepas landas dan mendarat. Dibutuhkan transponder untuk melakukan komunikasi dengan cepat dan akurat.
Sedangkan radar militer menggunakan radar primer yang bertujuan untuk melacak apakah pesawat tersebut kawan atau lawan. Tidak dibutuhkan transponder karena komunikasi dengan pesawat musuh tidak akan direspons. Jet militer memiliki sinyal kecil di radar, sedangkan jet komersial menampilkan sinyal yang besar.
"Jadi saya bisa memahami jika tidak seorangpun senang ketika MH370 melintas karena dari radar primer mereka bisa melihat bahwa pesawat itu terlalu besar untuk kategori pesawat militer dan tampak seperti pesawat komersial biasa yang mengudara ke tujuan jadi mereka mengabaikannya," jelas Ravi.
Jika dalam kasus lain, pesawat tersebut berukuran kecil dan bergerak cepat, seperti jet tempur, maka militer Malaysia akan segera menindaknya dengan serius. Ditambah, wilayah Malaysia tidak memiliki ancaman serangan yang besar, jika dibandingkan wilayah China, India atau Pakistan, sehingga tidak ada kebutuhkan untuk mengejar pesawat komersial tak teridentifikasi.
Sementara itu, seorang ahli radar Hans Weber menjelaskan bahwa normalnya sebuah pesawat tak teridentifikasi yang berada di area terdeteksi radar, komando selanjutnya ialah berusaha mengontak pesawat dengan radio dan memintanya untuk mengidentifikasi diri. Jika tidak ada jawaban, maka akan dikirimkan jet tempur untuk mencegat dan meminta pesawat tersebut mendarat di bandara terdekat. Jika tetap tak ada jawaban, maka langkah terakhir adalah menembak jatuh.
"Tapi ini semua tergantung pada sejumlah faktor termasuk apakah negara tersebut merasa terancam dan apakah pesawat tersebut terbang menuju target penting" imbuhnya.
Opini lainnya disampaikan pengamat penerbangan Gerry Soejatman yang menitikberatkan pada tidak adanya informasi lengkap mengenai bagaimana jejak penerbangan MH370 yang terekam radar. Menurut Gerry, jika memang radar militer menangkap keberadaan MH370 berputar balik tanpa alasan yang jelas, maka seharusnya protokol militer berusaha mencari tahu apakah ada kondisi darurat atau ancaman yang dialami pesawat tersebut. "Kita harus menjawab pertanyaan apakah tindakan Angkatan Udara Malaysia saat itu cukup beralasan atau tidak," ucapnya.
Singapura Perketat Keamanan BandaraPemerintah Singapura memperketat keamanan di bandara internasional Changi setelah insiden hilangnya Malaysia Airlines MH370 dua pekan lalu. Demikian penjelasan kepolisian negeri itu, Senin (24/3). Tak lama setelah pesawat yang membawa 239 penumpang dan awak itu hilang pada 8 Maret 2014, Pemerintah Malaysia merilis foto dua warga Iran yang menggunakan paspor curian untuk naik ke atas pesawat yang hilang itu.
Fakta yang menunjukkan buruknya pengamanan di bandara internasional Kuala Lumpur itu serta-merta memicu teori aksi terorisme di dalam pesawat Boeing 777-200 itu.
Bandara Changi merupakan sebuah "gerbang internasional" tempat hampir 7.000 penerbangan datang dan pergi setiap pekan. Selain itu, setiap harinya tak kurang dari 147.000 penumpang lalu lalang di bandara itu. "Berkaca pada insiden MH370, kepolisian Singapura serta otoritas imigrasi memutuskan untuk meningkatkan keamanan di bandara Changi sebagai sebuah langkah antisipasi," demikian pernyataan kepolisian Singapura.
Namun, pernyataan itu tidak menjelaskan dengan rinci langkah-langkah peningkatan keamanan yang diambil kepolisian Singapura di Bandara Changi. "Langkah-langkah keamanan di bandara disesuaikan dengan standar internasional yang disarankan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO)," masih pernyataan kepolisian. "Kami sangat menghargai pengertian dan kesabaran para pengguna bandara di saat kami harus meningkatkan pengawasan demi keselamatan dan keamanan penerbangan," tambah kepolisian.
Malaysia Airlines dengan kode penerbangan MH370 dengan 239 penumpangnya hilang dari pantauan radar saat melintas di atas perairan Vietnam dalam penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Beijing.
Kini operasi besar-besaran berskala nasional masih terus mencari keberadaan pesawat tersebut. Pencarian kini dipusatkan di Samudra Hindia, dan sejauh ini sudah menemukan sejumlah obyek yang diduga terkait dengan penerbangan MH370.
(dtc/AFP/kps/q)Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.