Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 15 Februari 2026

Ukraina Khawatir Bakal Diserang Rusia

* Perbanyak Pasukan, NATO Kecam Rusia, * Rusia Kuasai Markas AL Terakhir Ukrania di Crimea
- Selasa, 25 Maret 2014 17:35 WIB
773 view
 Ukraina Khawatir Bakal Diserang Rusia
SIB/rtr
Sejumlah warga menyaksikan dua kapal perang Rusia yang memblokade jalur ke luar pelabuhan teluk Donuzlav, di Crimea, tempat dimana kapal-kapal Angkatan Laut Ukraina menolak menyerahkan diri kepada pasukan Rusia.
Kiev (SIB)- Pemerintah Ukraina yang disokong Barat saat ini tengah dikhawatirkan kemungkinan serangan Rusia ke jantung kawasan industrinya. Kekhawatiran ini muncul setelah seorang perwira tinggi NATO memperingatkan adanya pergerakan pasukan Rusia dalam jumlah yang signifikan di perbatasan timur Ukraina. Peringatan itu muncul sehari setelah Rusia merebut pangkalan udara terakhir Ukraina di Crimea, dengan mengerahkan kendaraan lapis baja dan menggunakan granat kejut dalam unjuk kekuatan setelah aneksasi Crimea.

Pemerintah Kiev khawatir dengan dikenai berbagai sanksi dari AS dan Uni Eropa, Presiden Rusia Vladimir Putin malah merasa bebas untuk melakukan apa saja. "Tujuan Putin sebenarnya bukan Crimea namun seluruh Ukraina. Ribuan pasukan Rusia berkumpul di perbatasan siap menyerbu setiap saat," kata Ketua Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina Andriy Parubiy. Peringatan soal kemungkinan serangan Rusia ke Ukraina semakin dipanaskan dengan seruan PM Crimea kepada seluruh warga Rusia untuk bangkit melawan Kiev.

NATO Kecam Rusia

Pejabat militer top Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mengecam perluasan militer Rusia di dekat perbatasan Ukraina. Diyakini, ini dapat memperluas ancaman perang. Komandan Tinggi Sekutu Eropa Jenderal Philip Breedlove mengatakan, saat ini apa yang dilakukan oleh Rusia sangatlah mengkhawatirkan. Bahkan, tidak hanya Ukraina yang menjadi ancaman, negara pecahan Uni Soviet lain macam Moldova juga menerima ancaman serupa.
"Pasukan (Rusia) yang ada di perbatasan Ukraina Timur sekarang ini sangatlah besar dan sudah berada dalam posisi siap," ucap Breedlove, seperti dikutip dari Al Jazeera, Senin (24/3). "Rusia telah bertindak lebih seperti musuh dibanding dengan mitra," tambah dia.

Komentar Breedlove keluar setelah pengumuman mengejutkan dari Rusia. Negeri Beruang Merah mengakui telah menguasai 189 instalasi militer di Crimea. Setelah referendum yang dilakukan di Crimea, pemerintah Rusia semakin menancapkan kekuasaannya di wilayah semenanjung tersebut. Kecaman demi kecaman yang ditujukan ke Rusia juga tidak membuat Rusia bergeming dengan keputusannya.

Rusia Kuasai Markas al

Pasukan Rusia dilaporkan berhasil mengambil alih basis Angkatan Laut Crimea. Serangan ini merupakan serangan yang ketiga dalam 48 jam terakhir. Keterangan mengenai direbutnya salah satu basis AL di Feodosia, Crimea keluar dari Juru Bicara Pertahanan Ukraina Vladislav Seleznyov. Menurutnya, Rusia menyerang basis AL tersebut dengan menggunakan mobil lapis baja serta granat.

Karena posisinya semakin terdesak, akhirnya pasukan Ukraina harus menyerahkan markasnya tersebut. Dengan direbutnya markas AL itu, maka seluruh markas militer di Crimea dikendalikan Rusia. Dilansir dari BBC, Senin (24/3), Fedosia adalah satu-satunya basis AL yang masih di bawah kendali Kiev. Namun, beberapa hari belakangan basis ini sudah dikepung di oleh tentara Rusia.

Semenjak referendum Crimea lebih dari sepekan lalu, Rusia semakin menancapkan kekuasaannya di wilayah otonomi khusus ini. Tindakan yang diambil Rusia langsung menuai kecaman dari dunia. Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS) segera mengancam akan menjatuhkan sanksi kepada Rusia. Tetapi, segala macam ancaman yang dialamatkan ternyata tidak cukup ampuh membuat Rusia bergeming dari keputusannya.

Rusia Tangkap Komandan Landasan Udara Ukraina

Militer Rusia menggempur Landasan Udara (Lanud) Belbek di Crimea yang dioperasikan oleh militer Ukraina. Seorang perwira penjaga landasan tersebut ditangkap oleh Rusia. Kolonel Yuli Mamchur, komandan Lanud Belbek dibawa militer Rusia pada Minggu (24/3). Penangkapan dilakukan setelah pasukan Rusia berhasil merangsek masuk ke landasan tersebut.

Dilansir ABC, istri Mamchur mengatakan suaminya dibawa oleh Rusia ke penjara militer di Sevastopol. Hal tersebut terungkap dari pembicaraan telepon Mamchur secara diam-diam. Setelah itu, pembicaraan terputus. Sedangkan para bawahan Mamchur menolak untuk keluar dari Crimea dan memilih bertahan di Lanud Belbek. Mereka baru mau keluar setelah Mamchur dilepaskan.

Pada pagi harinya, pasukan Rusia memblokir jalanan menuju landasan udara tersebut menggunakan tank-tank. Setelah itu terjadi konfrontasi di antara kedua belah pihak. Militer Rusia lantas bisa melaju ke dalam lanud. Satu orang dilaporkan terluka, belum diketahui dari pihak mana. Serangan Rusia ini mendapatkan kecaman dari Gedung Putih, AS. "Militer Rusia bertanggung jawab langsung atas adanya setiap kematian, -- entah itu pasukan mereka menggunakan seragam reguler atau tidak -- pasukan Ukraina," demikian pernyataan seorang pejabat senior Gedung Putih. (BBC/kps/okz/q)

Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru