Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 05 September 2026

Pangeran Arab Saudi dan Trump Saling Serang di Twitter

- Minggu, 13 Desember 2015 16:26 WIB
371 view
Pangeran Arab Saudi dan Trump Saling Serang di Twitter
AS (SIB)- Ucapan kontroversial calon Presiden AS Donald Trump yang melarang muslim masuk ke Amerika ternyata tak mempengaruhi elektabilitasnya. Trump masih memuncaki elektabilitas calon presiden AS dalam survei yang digelar oleh Reuters/Ipsos pada 8-11 Desember 2015 lalu.

Seperti dilansir dari Reuters, Sabtu (12/12), berdasarkan hasil survei, elektabilitas Trump sebagai calon Presiden dari Partai Republik masih menduduki posisi tertinggi dengan 35 persen suara. Kemudian dalam survei yang dirilis pada Jumat (11/12), posisinya tetap tak tergeserkan seperti saat sebelum ia mengucapkan hal kontroversial itu.

Mayoritas pendukung Partai Republik mengatakan, mereka tak terganggu dengan ucapan-ucapan Trump. Namun demikian mereka mengakui, ucapan Trump dapat menyakiti hati pemilih lain. 29 Persen para Republikan yang akan memilih pada November mendatang mengatakan bahwa ucapan-ucapan Trump merupakan serangan, namun 64 persen mengatakan tidak. 

"Dia mengatakan apa yang dipikirkan oleh semua orang," kata warga Missouri, Donna Fee (57). Namun menurut Donna, Trump membutuhkan konsultan yang dapat membantu mengontrol ucapannya. Trump harus lebih mengontrol setiap kata yang keluar dari mulutnya.

Dari pihak kontra-Trump yang telah terpolarisasi 72 persen berasal dari Demokrat dan 47 persen pemilih secara keseluruhan merasa tersinggung dengan ucapan Trump. Sementara 41 persen Republikan mengatakan bahwa ucapan Trump yang menyakitkan itu dapat mengganggu peluangnya sebagai presiden.

Pensiunan Neurosurgeon Ben Carson yang juga berasal dari Republikan memperoleh 12 persen dalam survei Reuters/Ipsos. Sedangkan senator AS dari Texas, Ted Cruz dan mantan Gubernur Florida Jeb Bush memperoleh 10 persen. Tak hanya di Amerika, ucapan kontroversial Trump juga mendapat kecaman dari berbagai belahan dunia. Banyak petisi kecaman untuk Trump yang muncul dari berbagai negara seperti Inggris dan Indonesia. Bahkan di Inggris, petisi untuk Trump memungkinkan dibahas di parlemen jika dukungannya mencapai lebih dari 100 ribu orang.

Namun demikian, nyatanya hal ini sama sekali tak mempengaruhi elektabilitas Trump yang memang belakangan ini selalu memuncak. Dalam survei yang digelar selama 4 hari tersebut. Ia memiliki lebih dari dua kali lipat dukungan dari saingan terdekatnya dalam polling online dari 481 Partai Republik. Jajak pendapat ini memiliki interval kredibilitas dengan ukuran akurasi 5 persen.

SALING SERANG DI TWITTER
Pangeran Arab Saudi Alwaleed bin Talal melontarkan kritikannya untuk bakal calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Donald Trump. Pangeran Alwaleed menyebut Trump sebagai aib dan menyerukan dia harus mundur dari pencapresan AS. Seperti dilansir AFP dan Reuters, Sabtu (12/12), komentar ini disampaikan Pangeran Alwaleed melalui akun Twitter-nya, @Alwaleed_Talal menanggapi seruan kontroversial Trump yang melarang seluruh warga muslim masuk ke wilayah AS.

"@realDonaldTrump Anda menjadi aib, tidak hanya untuk GOP (Partai Republik) tapi untuk seluruh Amerika," sebut Pangeran Alwaleed dengan menyebut langsung akun Twitter milik Trump. "Tarik diri Anda dari pencapresan AS karena Anda tidak akan pernah menang," imbuhnya.

Pangeran Alwaleed yang juga dikenal sebagai miliarder Saudi ini tergolong jarang berkomentar keras di depan publik. Secara terpisah, kantor Pangeran Alwaleed menyebut pernyataan via Twitter itu merupakan tanggapan atas pernyataan anti-Islam yang dilontarkan Trump dalam kampanyenya.

Beberapa jam kemudian, Trump membalas kecaman Pangeran Alwaleed itu melalui akun Twitter-nya. "Pangeran @Alwaleed_Talal yang bodoh ingin mengendalikan politikus AS dengan uang ayahnya. Tidak bisa begitu ketika saya terpilih," balas Trump. Pernyataan Trump yang kontroversial soal larangan muslim ke AS berdampak pada bisnis di negara Timur Tengah. Salah satu jaringan pusat perbelanjaan terbesar di Timur Tengah bahkan menghentikan penjualan produk-produk dari perusahaan Trump, Trump Home.

Pada Kamis (10/12), perusahaan real estate Dubai, Damac yang membangun kompleks lapangan golf senilai US$ 6 miliar dengan Trump, memutuskan untuk menghilangkan nama dan citra Trump dari proyek itu. Pangeran Alwaleed yang merupakan keponakan Raja Saudi Salman ini merupakan pemilik Kingdom Holding Company dan juga memiliki saham pada sejumlah perusahaan internasional, termasuk Twitter dan Citigroup. Pada Juli lalu, dia menyatakan niatnya untuk mendonasikan kekayaannya sebesar US$ 32 miliar (Rp 445 triliun) untuk amal, melalui Alwaleed Philanthropies. (Rtr/AFP/dtc/CNNIndo/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru