Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 05 September 2026

Perusahaan Swiss Dicurigai Terlibat Perdagangan Minyak ISIS

- Selasa, 15 Desember 2015 12:15 WIB
246 view
Perusahaan Swiss Dicurigai Terlibat Perdagangan Minyak ISIS
Paris (SIB)- Sebuah penyelidikan yang dilakukan oleh media Prancis, Le Matin mengungkapkan adanya pembelian minyak yang dilakukan oleh beberapa perusahaan Swiss dari tempat penyimpanan minyak di Ceyhan, Turki yang merupakan gerbang penjualan minyak ilegal ISIS. Minyak curian ISIS dari Irak dan Suriah dibawa ke melalui jalur darat ke beberapa pelabuhan di Turki, salah satunya Ceyhan. Dari sana minyak-minyak itu akan dikirimkan ke pelanggan-pelanggan internasionalnya.

Laporan yang dilansir Sputnik, Senin (14/12) menyebutkan bahwa Le Matin memperoleh dokumen yang menunjukkan beberapa perusahaan Swiss mengekspor minyak mereka dari Ceyhan. Penyelidikan tersebut juga mengungkapkan bahwa pembelian itu dilakukan baru-baru ini dan dilakukan secara rutin.

Hal ini menimbulkan kecurigaan adanya perdagangan minyak ilegal yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan itu. Meski ada larangan untuk membeli minyak ilegal ISIS, namun harganya yang jauh di bawah harga pasaran dunia membuat banyak pihak tidak keberatan untuk membelinya meski resikonya juga besar. Wilayah Turki telah lama dilihat sebagai salah satu jalur utama penjualan minyak-minyak ilegal dari Irak dan Suriah. Minyak-minyak tersebut merupakan salah satu sumber utama pemasukan kelompok militan ISIS.

Sementara itu seorang tentara Israel keturunan Arab dilaporkan bergabung dengan militan ISIS di Suriah. Ini merupakan pertama kalinya kasus seorang tentara Israel yang aktif bergabung ISIS. "Ini merupakan pertama kalinya seorang tentara dari militer Israel bergabung dengan ISIS," sebut badan keamanan domestik Israel, Shin Bet, dalam pernyataannya.

Disebutkan Shin Bet, bahwa tentara itu seorang muslim dan berhasil masuk ke wilayah Suriah melalui Turki, sekitar setahun lalu untuk kemudian bergabung dengan ISIS di sana. Shin Bet tidak merilis identitas tentara yang bergabung ISIS ini. Namun disebutkan bahwa tentara itu berasal dari sebuah desa Arab di wilayah Galilee. Disebutkan Shin Bet bahwa sekitar 35 warga Israel keturunan Arab diketahui telah bergabung ISIS. Dari jumlah tersebut, beberapa tewas dalam pertempuran di Suriah.

Pekan lalu, otoritas Israel mengadili lima warga keturunan Arab yang berasal dari kota Nazareth yang diduga terlibat ISIS. Sedangkan bulan lalu, otoritas Israel menangkap enam warga lainnya yang dicurigai hendak pergi ke Suriah untuk bergabung ISIS.

Warga Israel keturunan Arab merupakan warga Palestina dan keturunannya yang tetap tinggal di wilayah mereka setelah Israel berdiri pada tahun 1948 silam. Lebih dari 17 persen populasi Israel merupakan warga keturunan Arab.

Sementara itu, bergabung dengan militer merupakan kewajiban setiap warga negara Israel, termasuk keturunan Arab. Beberapa waktu lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan niat untuk melucuti kewarganegaraan setiap warganya yang terbukti bergabung dengan ISIS.
Guru Ditikam

Seorang bapak guru di Prancis diserang oleh pria bersenjatakan pisau saat hendak mengajar. Saat beraksi, pelaku menyerukan dirinya bagian dari militan ISIS. Insiden ini terjadi ketika bapak guru yang tidak disebut namanya ini, bersiap mengajar di sebuah sekolah di utara Paris. Pelaku yang mengenakan penutup kepala ini tiba-tiba menyerang guru berusia 45 tahun ini dengan pisau atau semacam box-cutter.

Korban langsung dilarikan ke rumah sakit usai kejadian pada Senin (14/12) pagi waktu setempat ini dan luka-luka yang dideritanya dilaporkan tidak membahayakan nyawanya. Menurut salah salah satu pejabat kehakiman setempat, korban digorok di bagian lehernya. Disebutkan juga bahwa pelaku mengaku terkait ISIS, yang di Prancis juga dikenal sebagai Daesh.

Menteri Pendidikan Prancis dan salah satu pejabat otoritas setempat datang mengunjungi sekolah yang menjadi lokasi kejadian, yang berlokasi di Aubervilliers, Saint-Denis, sebelah utara Paris. Dampak dari insiden ini, aktivitas belajar-mengajar di sekolah itu dihentikan sementara.

Pejabat otoritas setempat yang enggan disebut namanya menyebut masih terlalu dini untuk menyimpulkan motif serangan ini. Pelaku yang mengenakan penutup wajah dan kepala ini tiba di lokasi kejadian tanpa senjata, tapi kemudian merampas sebuah box-cutter atau silet serta sebuah yang tergeletak di salah satu ruang kelas. Usai menikam korban, pelaku melarikan diri.

Motif penyerangan ini belum diketahui pasti. Penyelidikan atas kasus ini masih berlangsung dan dipimpin oleh penyidik antiterorisme. Insiden ini terjadi selang sebulan setelah serangkaian serangan teror di Paris yang menewaskan 130 orang. ISIS telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan teror itu dan bersumpah akan terus menyerang Prancis, yang bergabung dalam koalisi melawan ISIS di Irak dan Suriah. (Detikcom/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru