Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 05 September 2026

Hindari Tabrakan, Rusia “Tembak” Kapal Turki

- Selasa, 15 Desember 2015 12:22 WIB
330 view
Hindari Tabrakan, Rusia “Tembak” Kapal Turki
Moskow (SIB)- Rusia memperingatkan Turki untuk menghentikan provokasi terhadap pasukannya di dekat Suriah setelah kapal perang Rusia melepaskan tembakan peringatan ke sebuah kapal Turki di Laut Aegean untuk menghindari tabrakan.

Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan salah satu kapal perusaknya, Smetlivy, terpaksa melepaskan tembakan peringatan pada Minggu (13/12) pagi dan bahwa mereka telah memanggil atase militer Turki atas insiden tersebut.

"Diplomat militer Turki harus memberi penjelasan yang sulit tentang konsekuensi dari tindakan sembrono Ankara kepada kontingen militer Rusia yang tengah melawan terorisme internasional di Suriah," kata Kementerian Pertahanan dalam rilisnya, dikutip dari Reuters. "Secara khusus, kami sangat prihatin soal provokasi berlebihan dari Turki terhadap kapal perusak Rusia Smetlivy," bunyi rilis tersebut.

Kementerian Pertahanan Rusia sebelumnya memaparkan bahwa kapal penangkap ikan Turki gagal menanggapi peringatan Smetlivy dan mengubah arah dengan tajam setelah tembakan peringatan dilepaskan dan melewati kapal perang itu dengan jarak hanya sekitar 500 meter. "Hanya dengan keberuntungan tragedi dapat dihindari," bunyi pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia.

Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, yang tengah berada di Roma untuk menghadiri diskusi soal Libya, menyatakan Ankara telah menyelidiki masalah ini dan akan membuat pernyataan setelah memiliki informasi lebih lanjut. Dia juga menegaskan posisi Turki yang ingin mengatasi kesulitan dengan Rusia. "Kami ingin menyelesaikan ketegangan dengan dialog," katanya, dalam komentarnya yang disiarkan oleh TRT Turk.

Insiden ini kemungkinan akan meningkatkan ketegangan antara kedua negara yang meningkatkan usai Turki menembak jatuh jet tempur Rusia di perbatasan Turki-Suriah bulan lalu. Presiden Rusia Vladimir Putin, menyebut insiden tersebut sebagai "tusukan di belakang", dan memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Turki sebagai balasan. Awal bulan ini, Turki mengeluh kepada Rusia atas insiden seorang pelaut Rusia yang tengah mengacungkan sebuah peluncur roket di dek kapal angkatan laut melewati Istanbul.

Sementara itu sejumlah operator tur Rusia mengalihkan destinasi wisata mereka untuk para Turis ke sejumlah negara di Asia, seperti China dan Thailand, setelah dewan pariwisata Rusia melarang paket liburan ke Turki. Pelarangan ini merupakan respon Rusia atas penembakan jatuh pesawat Rusia di perbatasan Turki-Rusia bulan lalu.

Bagi Tez Tour, salah satu perusahaan wisata terbesar Rusia, Turki merupakan salah satu destinasi wisata terpenting dalam bisnisnya. Dengan diberlakukannya larangan berwisata ke Turki, Tez Tour pun mengubah strategi mereka.

"Kami mengubah model bisnis, kami tahu kami harus mencari alternatif tidak hanya di dalam Rusia, tetapi kami juga harus mencari tujuan wisata di luar negeri lainnya," kata direktur humas perusahaan tersebut, Larissa Akhanova, dikutip dari Channel NewsAsia.

Beberapa distinasi wisata yang dapat menjadi alternatif di antaranya Uni Emirat Arab, Israel, dan Yordania. Namun, menurut Maya Lomidze dari Asosiasi Operator Tur Rusia, negara-negara di wilayah timur Asia juga dapat menjadi pilihan wisata.

"Rusia adalah negara yang besar. Untuk wilayah Eropa, Mesir dan Turki menjadi tujuan utama. Sementara untuk turis dari Timur Jauh Rusia dan di wilayah Siberia, China merupakan tujuan wisata kedua yang stabil. Thailand merupakan pilihan nomor satu," katanya memaparkan. "Thailand mulai menjadi destinasi wisata utama ketimbang China. Ini menjadi salah satu perkiraan yang positif," ujarnya.

Sekitar empat juta wisatawan Rusia yang biasanya melancong ke Turki ingin mendapatkan harga paket wisata yang sama ketika mereka mempertimbangkan untuk berlibur ke China. Moskow telah menerapkan sejumlah sanksi yang sulit terhadap Turki, termasuk larangan mengimpor sejumlah makan dari Turki, mengakhiri perjalanan bebas visa kedua negara, dan bahkan menghentikan beberapa proyek pendidikan. (CNN Indonesia/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru