Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 05 September 2026

CIA Temukan Rencana Teroris Baru, ISIS Merevolusi Terorisme

- Jumat, 18 Desember 2015 11:52 WIB
352 view
 CIA Temukan Rencana Teroris Baru, ISIS Merevolusi Terorisme
Jenewa (SIB)- Badan intelijen Amerika Serikat (CIA) menemukan plot (skema serangan) teroris baru. Mereka berhasil mengungkap empat orang tersangka teroris diduga terlibat dalam teror Paris 13 November 2015. Empat foto tersangka disebarkan ke badan-badan pemerintahan pusat di Eropa dan mengimbau pemerintah setempat untuk segera memulai perburuan.

Salah satu negara Eropa yang gencar memburu pelaku teroris ialah Swiss. Aparat kepolisian Jenewa, Swiss dikabarkan tengah memburu empat orang diduga teroris tersebut. Segera setelah informasi ini diperoleh dari CIA, Pemerintah Swiss menaikkan tingkat siaga dan intensivitas kerja sama dengan negara-negara Eropa lainnya guna menghadapi ancaman dari kelompok teror.

“Polisi bersenjata dikerahkan di lokasi-lokasi paling rawan di Jenewa dalam rangka mencari para tersangka, yang fotonya diterbitkan dalam sebuah laporan di Swiss,” demikian keterangan resmi pemerintah Swiss kepada CBN News, sebagaimana dilansir dari Christian Today, Kamis (17/12). Operasi itu diluncurkan setelah pihak berwenang Prancis mengidentifikasi anggota ketiga ISIS, Foued Mohamed-Aggad (23) yang melakukan penembakan brutal di Gedung Konser Bataclan, Paris dan menewaskan 90 orang.

Selain itu, Pemerintah Swiss telah mengonfirmasi penangkapan dua warga Suriah pada hari Jumat yang tertangkap mengangkut bahan peledak. Mereka ditangkap di wilayah Jenewa karena kedapatan menyimpan bahan peledak di dalam mobil mereka. Kedua tersangka dicurigai melanggar hukum Swiss yang melarang warganya bergabung dengan kelompok-kelompok teroris seperti Al-Qaeda, ISIS dan organisasi serupa.

Sementara itu, sebuah komite kunci dari anggota parlemen Uni Eropa telah menyetujui rencana baru untuk melacak pejuang ekstremis melalui pengetatan pengawasan di maskapai-maskapai penerbangan. Rencananya kebijakan ini akan mulai direalisasikan pada awal tahun 2016.

Di tempat lain, Pemerintah Prancis mengatakan, analisis forensik butuh waktu sekira sebulan untuk mengungkap sisa-sisa nama pelaku bom bunuh diri yang terlibat dalam pembantaian 130 orang di Paris. Terakhir, polisi Paris telah menutup sebanyak tiga masjid yang diduga sarang propaganda ISIS, dan menyita sejumlah amunisi. Beberapa dokumen milik ISIS juga ditemukan di rumah-rumah imam masjid.

Sementara itu badan Federal AS (FBI) menilai ISIS telah merevolusi terorisme dengan menginspirasi simpatisannya untuk meluncurkan serangan secara individu maupun dalam kelompok kecil, atau yang biasa disebut dengan lone-wolf attacks.

Direktur Biro Investigasi Federal (FBI), James Comey memaparkan bahwa ISIS menginspirasi pendukungnya lewat berbagai cara, seperti media sosial, komunikasi terenkripsi, majalah serta video propaganda yang diproduksi dengan matang. "Kelompok militan sebelumnya, al-Qaidah merupakan model [teroris] yang sangat berbeda dengan ancaman yang kita hadapi saat ini," kata Comey pada konferensi kontraterorisme di New York City, Rabu (16/12).

Comey menyatakan bahwa FBI saat ini tengah menyelidiki "ratusan" rencana teror di 50 negara bagian Amerika Serikat yang diduga akan diluncurkan oleh para simpatisan dan pendukung ISIS.

Kasus terbaru adalah ancaman bom di sekolah di Los Angeles pada Selasa (15/12) lalu yang mengakibatkan 1.500 sekolah di penjuru LA ditutup dan menyebabkan sekitar 643 ribu siswa dan orang tua mereka bingung dan khawatir akan keamanan di wilayah mereka.

Ancaman itu ternyata tidak terjadi dan dinyatakan oleh FBI sebagai ancaman palsu. Para pejabat Los Angeles yang menginstruksikan penutupan ribuan sekolah pun dikecam karena dinilai bereaksi berlebihan terhadap ancaman tipuan. Kasus lainnya yang tengah diselidiki oleh FBI adalah serangan penembakan di fasilitas penyandang disabilitas di San Bernardino, California, yang menewaskan 14 orang dan melukai puluhan lainnya.

FBI kini tengah menyelidik motif pelaku penyerangan dan apakah para pelaku terkait dengan kelompok teror. Para pelaku diketahui adalah pasangan Muslim, Syed Rizwan Farook, 28, warga negara AS dan istrinya, Tashfeen Malik, 29.

Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa Malik sempat mengirim setidaknya dua pesan pribadi di Facebook untuk sejumlah temannya asal Pakistan pada 2012 dan 2014, yang berisi seruan untuk mendukung jihad Islam serta harapannya untuk dapat melakukan jihad di kemudian hari.

Malik juga diketahui sempat berupaya menghubungi sejumlah kelompok militan, termasuk afiliasi al-Qaidah di Suriah, Front al-Nusra, beberapa bulan sebelum melancarkan aksinya. FBI menyatakan bahwa Malik telah berbaiat setia kepada ISIS sebelum penembakan terjadi. (CNN Indonesia/okz/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru