Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 05 September 2026

Jet AS Kembali Terbang di Pulau Sengketa Laut China Selatan

- Minggu, 20 Desember 2015 16:10 WIB
287 view
Jet AS Kembali Terbang di Pulau Sengketa Laut China Selatan
Beijing (SIB)- Pemerintah China menuduh Amerika Serikat melakukan “tindakan provokasi militer yang serius” menyusul kembalinya pesawat militer B-52 melintas di atas wilayah kepulauan Laut China Selatan yang dikuasai China. Kementerian Pertahanan China dalam pernyataannya seperti dilaporkan Associated Press, Sabtu (19/12), mengatakan Washington sengaja meningkatkan ketegangan di wilayah yang diperebutkan sejumlah negara Asia.

“Tindakan yang dilakukan Amerika merupakan provokasi militer yang serius dan memperuncing masalah, bahkan bisa memicu kesiagaan militer di Laut China Selatan,” menurut pernyataan itu. Beijing menuntut Amerika segera mengambil tindakan pencegahan yang akan merusak hubungan militer kedua negara.

Juru Bicara Pentagon, Bill Urban, mengatakan bahwa AS memang rutin melakukan latihan operasi B-52 di Laut China Selatan. "Misi ini dirancang untuk melatih kesiapan dan mendemonstrasikan komitmen kami untuk terbang, berlayar, dan beroperasi di manapun yang diizinkan di bawah hukum internasional," ujar Urban.
Seorang pejabat militer AS yang enggan diungkap identitasnya mengakui bahwa pesawat tersebut tersasar ke dalam radius 12 mil laut dari Kepulauan Spratly. Namun menurut Uran, tak ada rencana bagi B-52 untuk terbang dalam jarak 12 mil laut dari pulau buatan tersebut.

"China menghubungi kami mengenai pola penerbangan dalam misi pelatihan belakangan ini. Kami akan meneliti hal tersebut," ujar Urban seperti dikutip Reuters. Urban juga mengatakan, latihan tersebut bukan bagian dari misi kebebasan navigasi seperti yang dilakukan USS Lassen pada Oktober lalu.

Kapal perang AS tersebut melakukan patroli di Kepulauan Spratly, wilayah kaya minyak dan gas yang juga diklaim oleh Vietnam, Brunei, Malaysia, Filipina, dan Taiwan. AS mengatakan akan melakukan patroli rutin di wilayah tersebut atas dasar asas kebebasan berlayar di perairan internasional.

Sebelumnya pada November lalu, dua pesawat B-52 juga terbang di atas Kepulauan Spratly. Urban mengatakan bahwa pusat kendali China sebenarnya sudah menghubungi pesawat tersebut. Namun, pesawat itu tetap menjalankan misinya.

Menurut Urban, pesawat itu memang terbang di daerah kepulauan Spratly, namun tak memasuki zona 12 mil laut dan hanya melintas dari dan menuju Guam. "Pesawat B-52 itu sedang melakukan misi rutin di Laut China Selatan. Kami menerbangkan B-52 di jalur udara internasional di belahan dunia itu setiap saat," ucap juru bicara Pentagon, Peter Cook.

Sementara itu AU AS dilaporkan siap melengkapi jet tempur mereka dengan senjata laser yang mutakhir dan akurat dalam jangka waktu lima tahun ke depan. Laboratorium penelitian AU AS (AFRL) mengatakan bahwa senjata laser tersebut akan mulai disematkan di jet-jet tempurnya untuk menghadapi berbagai konflik pada 2020. Senjata laser itu nantinya diyakini akan mempunyai kemampuan untuk menyebabkan kerusakan pada target.

“Ini benar-benar titik kritis nasional. Kami melihat teknologi berkembang dan jatuh ke tahap di mana hal itu benar-benar dapat digunakan. Tentunya ini suatu kemajuan,” ujar Kepala Insinyur AFRL, Kelly Hammett. “Kami benar-benar melihat teknologi berkembang dan merupakan suatu potensi untuk dapat digunakan di masa depan,” sambungnya.

Pengumuman itu datang hanya beberapa hari setelah Angkatan Laut AS terungkap melengkapi lima kapal penghancurnya dengan sistem pertahanan udara dan rudal balistik. Meski diketahui mendapat tentangan dari Rusia soal perkembangan teknologi militer, Pentagon telah menunjuk perusahaan teknologi pertahanan Lockheed Martin untuk melengkapi lebih dari lima kapal DDG51 Arleigh Burke, yang dapat disebut berjenis kapal penghancur, dengan Aeigis sistemnya. (CNN Indonesia/AP/R16/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru