Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 06 April 2026

Deputi Bidang Pengembangan Kementerian Pariwisata Gelar Pelatihan Dasar SDM Kepariwisataan

- Sabtu, 11 Februari 2017 18:15 WIB
267 view
Pematangsiantar (SIB)- Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki potensi kepariwisataan melimpah turut serta memanfaatkan kepariwisataan untuk meningkatkan perekonomian. Pariwisata diyakini sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.

Hal tersebut diungkapkan Dr Edison Nainggolan pada Pelatihan Dasar SDM Kepariwisataan "Goes To Campus", Jumat (10/2) yang diselenggarakan Deputi Bidang Pengembangan Kelembagaan Kepariwisataan, Kementerian Pariwisata bekerjasama dengan Universitas Simalungun di Auditorium Rajamin Purba Jalan Sisingamangaraja Pematangsiantar.

Dihadiri Kabid Fasilitasi Sertifikasi Kompetensi Kementerian Pariwisata Drs Teguh Hari Susanto SH MHum,  Kepala Devisi Investasi Badan Otorita Pengelolaan Kawasan Pariwisata Danau Toba Andar Danaova L Goeltom, Ketua Yayasan Amsar Saragih MM, Direktur Pasca Sarjana Robert Tua Siregar PhD, Wakil Rektor Drs Marlan MSi, Pasu Malau SH MH, Mustafa Ginting serta undangan lainnya.

Terpilihnya Kawasan Danau Toba lanjutnya perlu disambut dan diantisipasi secara positif oleh pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat, tidak saja yang berada di tujuh kabupaten, tetapi seharusnya di delapan kabupaten kota di kawasan Danau Toba, yakni Kabupaten Simalungun, Samosir, Toba Samosir, Dairi, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Karo dan Kota Pematangsiantar.

Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT), dibentuk berdasarkan Perpres RI No. 49 Tahun 2016 Tentang Badan Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata Danau Toba dan Pemenpar RI No. 13 Tahun 2016 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pelaksana Otorita Danau Toba.

Danau Toba merupakan salah satu dari sepuluh destinasi wisata prioritas. Selain itu Tanjung Kelayang (Bangka Belitung); Tanjung Lesung (Banten); Kepulauan Seribu (DKI Jakarta); Borobudur (Jawa Tengah); Bromo Tengger Semeru (Jawa Timur); Mandalika (NTB); Labuan Bajo (NTT); Wakatobi (Sulawesi Tenggara) dan Kepulauan Morotai (Maluku Utara).

Kehadiran BPODT diharapkan bisa merumuskan dan mengembangkan bentuk pembangunan pariwisata yang tepat di Kawasan Danau Toba. Untuk itu BPODT perlu mengadakan dialog maupun kerja sama dengan berbagai pihak terkait termasuk perguruan tinggi yang ada di kawasan Danau Toba.
Sambil menunggu rumusan tersebut ada baiknya dikemukakan bahwa pengembangan pariwisata dapat ditempuh dengan dua cara, yakni padat modal (capital intensive) dan  padat karya (labor intensive).

Serta perlu adanya desa wisata yang merupakan suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku.

Ditegaskan bahwa komponen terpenting dalam desa wisata, adalah akomodasi, yakni sebagian dari tempat tinggal penduduk setempat dan/atau unit-unit yang berkembang sesuai dengan tempat tinggal penduduk dan  atraksi, yakni seluruh kehidupan keseharian penduduk setempat beserta latar belakang fisik lokasi desa yang memungkinkan berintegrasinya wisatawan sebagai partisipan aktif, seperti kursus tari, bahasa, seni lukis dan hal-hal lain yang spesifik.

Desa wisata diyakini merupakan salah satu model  pengembangan yang sesuai di Kawasan Danau Toba. Tahapan pengembangannya dapat dibahas tersendiri Pengembangan pariwisata baik secara padat modal maupun padat karya membutuhkan kesadaran masyarakat, bahwa iklim kepariwisataan yang baik perlu dikembangkan dan didukung.

Seluruh komponen masyarakat seyogianya menyadari perlunya bertindak sebagai tuan rumah yang baik, ramah, arif dan bertanggung jawab. Perlu disadari bahwa pariwisata merupakan produk jasa yang menjual pengalaman dan kenangan, yang akan disampaikan dari mulut ke mulut kepada masyarakat di lingkungannya.

Artinya bila kenangannya baik akan menjadi promosi. Pengeluaran periklanan dan promosi pariwisata yang dibelanjakan pemerintah setiap tahun sangat besar, namun menjadi kehilangan manfaat bila pengalaman para wisatawan kurang baik. Sebaliknya, bila kenangan baik akan mendorong kunjungan ulangan sampai berkali-kali, di samping menjadi promosi.

Potensi pariwisata tersebut sebanyak-banyaknya akan dapat dinikmati oleh masyarakat setempat bilamana ada kesiapan atau bersedia dipersiapkan. Salah satu cara mempersiapkan diri tersebut adalah melalui pengenalan, pemahaman, wawasan dan kecintaan akan kepariwisataan. (C03/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru