Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 06 April 2026

50 Persen Desa di Kabupaten Dairi Masih Terisolir

- Kamis, 09 Maret 2017 20:58 WIB
720 view
50 Persen Desa di Kabupaten Dairi Masih Terisolir
SIB/Dok
Robin Sihotang SH (2 dari kanan), susai berbincang bincang tentang Kabupaten Dairi dengan beberapa tokoh muda antara lain kandidat doktor Gurgur Manurung (paling kanan), Sofian Simangunsong ST MSM (3 dari kanan) dan Liston Sihotang SE (paling kiri).
Jakarta (SIB) -Sekurang-kurangnya 50 % desa di Kabupaten Dairi kini masih terisolir sehingga perlu segera mendapat perhatian yang serius dari pemerintah pusat dan daerah.

Infrastruktur di daerah itu, terutama jalan, masih banyak yang menyedihkan dan sulit dijangkau, baik menggunakan kendaraan bermotor roda dua, apalagi roda empat, sehingga  dampaknya kondisi penduduknya masih sangat jauh dari sejahtera.

"Saya sudah terjun langsung ke 12 kecamatan yang ada di Kabupaten Dairi. Setelah melihat langsung, dilengkapi informasi dari  Kepala Desa dan masyarakat setempat, infrastruktur di Dairi, terutama jalan masih sangat menyedihkan," kata tokoh muda Robin Sihotang SH, seusai mengadakan silaturahmi dengan  sekitar 50-an generasi muda pencinta Kabupaten Dairi, Selasa (7/3), di sebuah Hotel, kawasan  Cawang, Jakarta Timur.

Hadir antara lain, kandidat doktor Gurgur Manurung, Sofian Simangunsong ST MSM, Liston Sihotang SE, Fergono Sihotang dan Risman Sihotang.

Robin Sihotang yang juga pembina Dairi Berbintang FC itu mengemukakan, dari hasil perbincangannya dengan masyarakat setempat, hanya karena kesulitan angkutan atau transportasi, hasil pertanian seperti padi, singkong dan lainnya  ketika panen sangat sulit diangkut ke jalan besar untuk dibawa ke desa dan kota karena hanya mengandalkan jalan kaki.

"Saya sendiri merasa prihatin, mendengar keluhan masyarakat seperti ini," kata Robin Sihotang sambil berharap, Bupati Dairi Jhonny Sitohang harus fokus membangun infrastruktur.

Robin menyadari maju dan berkembangnya suatu daerah, tidak hanya ditentukan oleh figur atau sosok pemimpinnya, tetapi harus ada dukungan semua pihak, baik pemerintah, masyarakat dan seluruh stakeholder yang secara bersama-sama merapatkan barisan dan berkomitmen untuk membangun daerah.

Memang, kata Robin,  masalah infrastruktur baru salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian. Masih banyak sektor lain, seperti  peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di lingkungan Pemda (Birokrasi), sektor pendidikan, Kopi Dairi yang selama ini dikenal sebagai produk unggulan di Dairi dan lain sebagainya.
Peningkatan kualitas SDM misalnya, tidak cukup hanya  menggelar seminar atau orientasi, tetapi harus melalui pelatihan yang serius, dilengkapi instruktur (pelatih) yang handal dan berkualitas di bidangnya.

Robin melihat dan mengamati, perekrutan dan penempatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Dairi, bahkan banyak di daerah lain di Indonesia selama ini masih belum sesuai dengan harapan masyarakat.

Perekrutan masih belum sesuai dengan kebutuhan, sementara penempatan masih terkesan apa yang disebut suka atau tidak suka (like or dislike).

Dalam sektor pendidikan, hal seperti ini juga terjadi, disamping jumlah tenaga pendidik yang masih sangat kurang.

Makanya, ada tenaga pendidik (khususnya guru SD dan SMP) yang kurang paham metode belajar dan mengajar yang benar.

Kalau terjadi seperti ini, maka  sudah dapat dipastikan bahwa  out put (keluarannya) juga tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

Dia menyadari puluhan tahun lalu, Kopi Dairi sangat terkenal di seantero dunia. Tetapi, sekarang ini, sudah kalah pamor dengan Kopi daerah lain, termasuk Kopi dari daerah tetangganya, Siborong-borong, Tapanuli Utara (Taput).

Faktanya di lapangan, lahan Kopi beralih fungsi menjadi jagung, karena petani merasakan  jauh lebih menguntungkan menanam jagung karena bisa panen sekali dalam 3 bulan, dibanding menanam kopi yang harganya terus menerus merosot.

Belum diketahuinya dengan jelas, apa penyebab petani kopi beralih menanam jagung. Apakah karena kurangnya perhatian Pemerintah Daerah Kabupaten (Pemkab) Dairi atau masalah lain, seperti bibit, permodalan dan lain sebagainya.

Menurut Robin, kalau hanya karena kurangnya modal atau bibit kopi, ada baiknya, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dilibatkan.

"Berikan bibit secara gratis, dan jamin penyaluran Kopi pasca panen," kata Robin Sihotang, sambil menyebutkan, paling penting lagi ajak petani untuk menanam Kopi dengan cara memberi kemudahan atau fasilitas yang dibutuhkan.

Memang, sambung Robin, Pemkab Dairi hanya mengandalkan dana yang bersumber Dana Alokasi Umum (DAU) dari Anggaran Pembangunan dan Belanja Nasional (APBN) Pusat, Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah (APBD) dan Dana Alokasi Khusus (DAK). (G01/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru