Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 06 April 2026

Komunitas Kasih Labuhanbatu Sambut Baik Dialog 28 Tokoh Lintas Agama Bersama Raja Salman

- Jumat, 10 Maret 2017 21:40 WIB
204 view
Komunitas Kasih Labuhanbatu Sambut Baik Dialog 28 Tokoh Lintas Agama Bersama Raja Salman
SIB/Dok
Doritz Bidoult Tampubolon-Jhon Remofe Malau-Omson Simamora.
Labuhanbatu (SIB) -Komunitas Kasih Labuhanbatu terdiri Doritz Bidould Tampubolon SH, Jhon Remofe Malau dan Omson Simamora pada SIB, kemarin di Sekretariat Jalan Puri Indah mengatakan, menyambut baik dialog 28 tokoh lintas agama bersama Raja Salman yang mengingatkan agar menjaga toleransi, sekaligus memerangi ekstremisme dan radikalisme.

Dijelaskan, kelompok ekstremisme dan radikalisme maupun lainnya dianggap mengedepankan cara-cara kekerasan atau memaksakan kehendaknya di luar ketentuan hukum. Sehingga paham itu harus diwaspadai dan dicegah, jangan sampai berkembang khususnya di Sumatera Utara dan Labuhanbatu. Paham ini tidak tepat dikembangkan, sehingga harus dibasmi supaya jangan  timbul lagi, ujar Doritz Tampubolon.

Selama ini, silaturahmi sudah merajut kebersamaan di Indonesia khususnya Sumut dan Labuhanbatu untuk tetap menjaga situasi yang kondusif. Masyarakat saling menghargai kehidupan antar umat beragama. Hal itu sejalan dengan yang dibahas dalam dialog 28 tokoh lintas agama bersama Presiden Joko Widodo dan Raja Salman bin Abdulazis al-Saud, Jumat (3/3)", ucap  Jhon Remofe Malau Gembala Sidang GPDI.

Untuk itu, umat Kristen di Indonesia, berharap kasus Penyegelan gereja HKBP Filedelfia dan GKI Yasmin dapat segera diselesaikan oleh Presiden Joko Widodo agar umat Kristen dapat beribadah kembali di gereja itu dan tidak lagi di depan Istana Merdeka. Karena sudah diatur di Indonesia, soal perlindungan bagi warga untuk beragama dan beribadah sesuai Pancasila dan UUD 1945.

Doritz Bidould Tampubolon yang juga Pengurus BAMAGNAS Labuhanbatu bidang hukum mengharapkan jeritan umat Kristen tersebut dapat diperhatikan oleh Presiden Joko Widodo dan memberikan kemudahan atas pembangunan gereja. Jangan sampai umat beragama diakui keberadaannya di Indonesia jadi takut, karena mendapat teror dari OTK untuk menunaikan ibadah di gereja, harap mereka.

Untuk itu, Pemerintah pusat dan provinsi serta daerah sejak dini aktif agar memberikan penjelasan ke masyarakat bahaya yang  ditimbulkan ekstremisme dan radikalisme. "Apabila paham atau kelompok sejenis itu, berkembang di Indonesia khususnya Sumut dan Labuhanbatu, bisa mengancam keutuhan NKRI yang sudah dibina selama ini dan harus tetap dipertahankan", ketus  Omson  Simamora  Gembala  Sidang GIAT.

"Kiranya dengan kehadiran Raja Salman ke Indonesia, membawa pembaharuan dibidang keagamaan, dengan tetap menjaga toleransi antar umat beragama sehingga rakyat menjadi sejahtera dan pembangunan berhasil", ungkap mereka senada. (R-4a/l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru