Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 19 Januari 2026

Gereja Inkulturatif Paroki Pangururan Dikonvergensikan Jadi Museum Pusaka Batak Toba

- Sabtu, 28 Oktober 2017 22:59 WIB
1.964 view
Gereja Inkulturatif Paroki Pangururan Dikonvergensikan Jadi Museum Pusaka Batak Toba
SIB/Dok
GEREJA INKULTURATIF: Pimpinan penerbit Katolik Se- Indonesia yang berwadah dalam ‘Seksama’ di antaranya Direktur PT Kanisius Yogyakarta Romo E Azismardopo Subroto SJ, Direktur Penerbit dan Toko Rohani OBOR Jakarta Romo FX Sutanto Pr, Direktur PT Dioma Mal
Pangururan (SIB) -Guna menggali, melestarikan budaya leluhur yang menyimpan filosofi kehidupan Bangso Batak, gereja inkulturatif Gereja Katolik St Mikael Pangururan, Samosir, dikonvergensikan menjadi Museum Pusaka Batak Toba dan Pusat Studi Budaya Batak. Bersamaan dengan itu, menyesuaikan dengan postur dan tujuan dibangun gereja inkulturatif, jemaat beribadah di gereja tersebut diwajibkan memakai ulos dan menggunakan musik etnik. Selain itu, dalam hal kuliner, mengonsumsi makan khas seperti lappet.

"Setiap Minggu awal bulan, jemaat beribadah dengan ulos dan dalam liturgi diiringi musik khas Batak," ujar Pastor Kepala Paroki Pangururan Pastor Maseo Sitepu OFM Cap, Selasa, (24/10).

Menurutnya, peraturan tersebut digariskan Dewan Pengurus Paroki (DPP) Gereja Katolik St Mikael. "Jadi, selain menebalkan iman Katolik, juga melestarikan warisan leluhur Bangso Batak, yang filosifnya sangat bermanfaat bagi kehidupan saat ini dan masa datang," ujarnya didampingi anggta DPP yang menerima, para intelektual Indonesia serta pimpinan penerbit Katolik se-Indonesia yang berwadah dalam 'Seksama'.

Rombongan yang didampingi Direktur Penerbit Bina Media Perintis Medan Pastor Daniel Erwin Manullang OFMCap  bermaksud menggali kearifan lokal tersebut berintikan para imam yakni  Direktur PT Kanisius Yogyakarta Romo E Azismardopo Subroto SJ,  Direktur Penerbit dan Toko Rohani OBOR Jakarta Romo FX Sutanto Pr, Direktur PT Dioma Malang Romo Hendricus Vidi, Direktur Penerbit Nusa Indah Ende Romo Hendrikus Lawe Kerans SVD plus sejumlah penulis terkemuka nusantara. Para penerbit tergabung dalam 'Seksama' yang dijadikan ajang berkomunikasi, saling belajar, berbagi dan membantu. Tetapi dari seluruh Indonesia didampingi Manajer Operasional Penerbit Bina Media Perintis Medan Antonius Tumanggor SS, novelis Hendra Maringga, Sry Lestari Samosir, Yoseni Turnip, Herlina Reliance, Hengky Fernando, Susanto Purba, Edward Kembaren serta Anton Dachi.

Pastor Maseo Sitepu mengatakan, pembangunan gereja Katolik yang bertitik tolak dari semangat inkulturasi Batak Toba, yang berada tepat di pinggir Danau Toba dan menghadap ke Pusuk Buhit. "Gunung Pusuh Buhit itu diyakini sebagai tempat asal mula orang Batak," tambah Pastor Daniel Erwin Manullang OFMCap.

Gereja sebangun dengan rumah adat Batak Toba. Bangunannya berbentuk solu (perahu) yang merupakan ciri khas rumah adat Batak Toba. Arsitektural mengadopsi vernakular tradisional Batak Toba, dengan ruang dalamnya berbentuk empat persegi panjang. Elemen interior mengadopsi filosofi Batak mulai dari dinding, tangga altar, beberapa perabot, profil dinding dan sebagainya.

Ruangan gereja tanpa sekat dengan plafon tinggi yang  menyatu dengan atap bangunan, yang memiliki balkon dapat digunakan untuk tempat para pargoncci di kebaktian.

Sebelumnya, Pastor Dr Togar Nainggolan yang melayani di gereja  dengan prinsip kosmologis dalam budaya Batak Toba: yakni banua toru, banua tonga dan banua ginjang. Tiga tingkat kehidupan dalam kosmologis Batak Toba itu kini menjadikan gereja dimanfaatkan sebagai museum. Di ruang tersebut, berbagai benda-benda kuno masyarakat Batak Toba tersimpan di bagian  bawah gereja, termasuk sebuah perpustakaan yang mengoleksi sejumlah buku-buku lama. Di bagian tengah, tempat ibadah.

Ornamen mengadopsi kekristenan. Misalnya gambar perempuan dengan sebuah pohon dan ular, yang dalam Alkitab sesuai perjalanan manusia pertama di dunia.  Ornamen lain seperti bejana dan lilin yang merupakan simbol sakramen baptis dalam gereja Katolik.

Ada ukir dan seni pahat seperti dalam rumah adat Batak Toba seperti patung ulu paung yang dalam budaya Batak Toba merupakan simbol kekuatan dari ancaman roh jahat. Yang menjadi pakem, ukiran boraspati yang fisiknya mirip cicak. Ia adalah lambang kemakmuran dalam adat Batak Toba.

Ukiran dipermanis ornamen-ornamen klasik sebagai mempercantik gereja yang telah berusia 77 tahun itu. Di depan gereja dibangun sopo. Dalam menyambut tetamu, DPP menghidangkan makanan khas.

Mulai dari  itak gurgur hingga hare. Itak gurgur berbahan dasar sama dengan lappet, bedanya itak gurgur tidak dibungkus daun pisang dan tidak dikukus, langsung dimakan mentah. Tepung beras dicampur dengan campuran kepala muda parut, gula aren, gula putih dan garam secukupnya supaya rasa tidak hambar. Biasanya untuk acara adat Batak ada makanan ini.

Hare, makanan sejenis lampet terbuat dari tepung beras yang dicampur dengan sedikit kencur dan kunyit kemudian dimasak dengan santan sampai berbentuk seperti bubur. Untuk rasanya sedikit manis perpaduan dari manis beras dan santan. (t/Rel/R10/l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru