Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 19 Januari 2026
Pemkab Terus Giat Tanggulangi

Angka Stunting Langkat Turun Hingga 23,3% pada 2018

- Jumat, 13 Juli 2018 22:34 WIB
366 view
Angka Stunting Langkat Turun Hingga 23,3% pada 2018
SIB/Dok
TALI ASIH: Bupati Langkat H Ngogesa Sitepu bersama istri Ketua TP PKK Langkat Ny Hj Nuraidah Ngogesa dan keluarga, saat memberikan tali asih kepada 2264 orang anak, belum lama ini.
Stabat (SIB) -Tingginya jumlah anak yang mengalami stunting (kondisi tinggi badan anak lebih pendek dibanding usianya) di Kabupaten Langkat memang mencapai 55,48% pada tahun 2013 menurut data Riskesdas 2013. Namun pada tahun selanjutnya, Pemerintah Kabupaten Langkat, terus melakukan berbagai upaya penanganan pencegahan stunting tersebut, dengan melibatkan berbagi instansi terkait.

Hasilnya, stunting menurun hingga 23,3% pada 2018, diketahui dari pendataan ulang  di wilayah 10 lokus stunting pada Januari 2018.

Penurunan jumlah stanting secara nasional juga diakui Menteri Kesehatan (Menkes) RI Nila Moeloek, bahwa usaha pemerintah dalam penurunan tingkat stunting mencapai 28 persen pada tahun 2018,  sebutnya di Emerald Garden Hotel, Rabu (11/7).

Bupati Langkat H Ngogesa Sitepu SH melalui Sekdakab Langkat dr.H.Indra Salahudin MKes MM menyebutkan, Pemkab Langkat selama ini terus berupaya melakukan penangan  Stunting, di antaranya  telah dikeluarkannya Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 10 tahun 2018, yang telah disahkan pada 26 Maret 2018, tentang penurunan stunting dan dilakukan Intervensi Holistik/terpadu oleh Pemkab Langkat.

"Sampai saat ini pun, Dinkes Kabupaten Langkat terus  memonitoring ketat untuk penurunan Stunting," jelasnya.

Bahkan, upaya Pemkab Langkat, sambung dr.H.Indra, terkait pencegahan stunting, melibatkan seluruh instansi terkait (peranan multi sector), mulai dari  Dinas PPKB dan PPA   membentuk kelompok Bina Keluarga Balita (BKB) yang terintegrasi dengan PAUD dan Posyandu di 10 desa lokus stunting, dengan pelatihan kader dan menyediakan Alat Permainan Edukstif/BKB Kit, lalu membentuk Kampung KB di 10 desa lokus stunting.

"Yang di masing-masing desa  dilakukan pencanangan, dengan mengadakan pelatihan ekonomi bagi kepala rumah tangga perempuan yang pesertanya dari Desa Kebun Kelapa dan Secanggang," paparnya.

Selanjutnya, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan dengan peranan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) dengan sasaran kelompok wanita dan Anak Sekolah, menciptakan kegiatan pemanfaatan pekarangan rumah dengan menanam sayuran, serta pengadaan mesin untuk sumber air bersih seperti yang telah dilakukan di daerah Perlis.

Dinas Perikanan melakukan  budidaya ikan lele untuk desa lokus stunting, lalu Dinas Perindag melakukan  intervensi harga guna menjangkau pembelian di tingkat rumah tangga. Sementara bagian Perekonomian dengan Pansimas penyediaan air bersih di daerah lokus stunting, yang sebelumnya telah diusulkan.
Bappeda menyusun SK Tim Rencana Aksi Daerah Intervensi Percepatan Penurunan Stunting yang melibatkan lintas sector terkait.

"Kini kegiatan padat karya tunai dari Dinas PMDK Langkat pun, memprioritaskan keluarga stunting, guna peningkatan pendapatan keluarga,  pemberian kartu BPJS dan Kartu Sehat Langkat bagi keluarga stunting," terangnya.

Terpisah, dijelaskan Kadis Kesehatan dr. Sadikun Winato, kegiatan penanggulangan stunting sebelumnya sudah dilakukan intervensi melalui remaja, ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan balita serta melibatkan pimpinan daerah dan lintas sektor.

"Intervensi dalam penanganan stunting ada 2 intervensi yaitu intervensi spesifik dan sensitif. Intervensi spesifik dari lintas sektor kesehatan dan intervensi sensitif dari sektor terkait," jelasnya.

Sedangkan untuk Dinas Kesehatan, kata dr.Sadikun, selama ini sudah melaksanakan  kegiatan dalam penanganan stunting, antara lain sosialisasi kepada remaja putri di tingkat sekolah mengenai tablet tambah darah untuk mencegah anemia, lalu awal Januari 2018 lalu,  pendataan ulang data stunting di daerah lokus stunting (prevalensi 23,3 %), kemudian melakukan sosialisasi kepada kader tentang 1000 Hari Pertama Kehidupan di sebagian daerah lokus stunting, selanjutnya PMT yang tinggi zat besi dan asam folat khusus untuk anak balita stunting dan ibu hamil.

"Untuk selanjutnya akan membentuk kelas gizi balita khususnya balita stunting dan  dana BOK untuk pelatihan kader dalam penanganan stunting, serta Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) seperti kegiatan penyediaan jamban sehat yang bekerja sama dengan anggota TNI, selanjutnya Imunisasi MR dalam kegiatan pemberian Vitamin A pada bulan Agustus dan  Pendataan KK/KTP keluarga stunting untuk kebutuhan Jamkesda kurang lebih 400 anak," paparnya. (R6/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru