Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 28 Januari 2026

Senator Parlindungan Purba Minta Jasa Raharja Beri Santunan Korban Bus Masuk Jurang di Tobasa

- Selasa, 21 Agustus 2018 17:04 WIB
505 view
Senator Parlindungan Purba Minta Jasa Raharja Beri Santunan Korban Bus Masuk Jurang di Tobasa
Parlindungan Purba
Medan (SIB) -Anggota DPD asal Sumut Parlindungan Purba meminta PT Jasa Raharja memberi santunan kepada seluruh korban bus yang masuk jurang di Jembatan Sipegepege Aek Kualu, Desa Lumban Rao Tengah, Kecamatan Nassau, Tobasa, Sabtu (18/8). Dari 20 korban yang dievakuasi, 7 orang meninggal dunia.

Parlindungan mengatakan, berdasarkan hasil konfirmasinya ke PT Sentosa, bus yang masuk jurang tersebut tidak tergabung di PT Sentosa, bus tersebut berplat hitam. Tapi, kata Parlin (Parlindungan), para penumpang sudah membayar ongkos bus tersebut sehingga konsumen tidak boleh dirugikan.

"PT Jasa Raharja harus memberi santunan kepada seluruh korban, baik itu yang meninggal dunia, maupun luka-luka agar ditanggung lewat santunan Jasa Raharja. Ini adalah bencana angkutan darat, korban kapal KM Sinar Bangun saja dibantu, korban bus masuk jurang ini adalah penumpang angkutan darat, maka harus diberi santunan," tegasnya.

Kejadian itu, menurut Parlin harus menjadi pelajaran bagi semua pihak yang terlibat di dalam perhubungan, baik itu Dinas Perhubungan, kepolisian maupun masyarakat. Pemerintah melalui Dinas Perhubungan semestinya ketat dalam menerapkan peraturan transportasi.

Kejadian kecelakaan di kawasan Tobasa, kata dia sudah sering terjadi. Berbagai faktor menjadi penyebabnya, ada dikarenakan supir mengantuk, ada disebabkan kondisi mobil/bus yang tidak laik jalan tapi dipaksakan. "Di sinilah perlu  ketegasan aparat terkait dalam perhubungan, apalagi bus  tersebut disebut-sebut  bus PT Sentosa ternyata tidak benar, melainkan bus plat hitam (pribadi)," terangnya.

Tapi, lanjut Parlin, nasi sudah jadi bubur, korban sudah berjatuhan dan tidak manusiawi jika dibiarkan begitu saja tanpa santunan Jasa Raharja. Kalau saja angkutan plat hitam dilarang keras beroperasi, pasti masyarakat tidak menaikinya dan memilih angkutan plat kuning.

"Jadi, mau tidak mau, pemerintah harus menyantuninya, santunan ini bisa meringankan beban dan menghibur keluarga korban. Tolonglah jangan dirugikan konsumen, ini adalah bencana angkutan darat," tuturnya.

Hal senada juga dikatakan tokoh masyarakat Sumut dr Tuahman Purba. Pemprovsu maupun Pemkab maupun Pemko harus merazia bus-bus liar yang terus beroperasi tanpa ada tindakan. Selain itu, perusahaan angkutan harus benar-benar mencek para supir  apakah dalam kondisi sehat atau tidak sebelum membawa penumpang.

Tokoh pemuda Katolik Jhony Naibaho mengatakan, para penumpang bus yang malang tersebut kebanyakan warga Medan. Dia mengapresiasi kerja keras pihak kepolisian, tim SAR maupun Pemkab Tobasa yang langsung turun tangan mengevakuasi korban, menyiapkan Ambulance untuk korban meninggal dunia dan memberi perawatan kepada yang luka-luka. (A10/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru