Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 05 September 2026

Kemarau, Petani Karo Gagal Tanam Jagung

Redaksi - Minggu, 01 Maret 2020 16:46 WIB
287 view
Kemarau, Petani Karo Gagal Tanam Jagung
Foto SIB/Dok
Gagal Panen : Musim kemarau sepekan belakangan, berdampak pada gagal tanam di sentra penghasil jagung Kabupaten Karo. 
Tanah Karo (SIB)
Musim kemarau sepekan belakangan ini, membuat petani di dataran tinggi Kabupaten Karo gagal tanam jagung.
Pasalnya sistem drainase ke areal pertanian belum ada membuat petani harus pasrah dan ketergantungan terhadap curah hujan.

“Sudah seminggu ini belum ada turun hujan. Petani gagal menanam jagung, tetapi petani yang telah menanam pekan lalu, sangat khawatir mengalami gagal panen. Tanah sudah sangat kering, kami risau bibit gagal tumbuh,” ujar petani jagung Kecamatan Juhar, Melhi Tarigan kepada wartawan, Rabu (26/2).

Jika gagal panen, sesuai keterangan Melhi, petani akan mengalami kerugian jutaan rupiah per hektarnya. Dengan rincian, biaya tractor ulang Rp 1.000.000, bibit 3-4 sak (satu sak 5 Kg) dengan variasi harga Rp.400.000 - Rp 475.000 (variatif tergantung merek dagang), dan biaya tenaga kerja Rp 200.000/sak bibit.

Tidak jauh berbeda, Eben Pinem, petani jagung Kecamatan Tiga Binanga juga menuturkan hal yang tidak jauh berbeda. Menurut Eben, untuk menghindari gagal panen, dirinya untuk sementara menunda penanaman. Ia memilih menunggu turunnya hujan, untuk menghindari dampak kerugian materi.

“Jika tidak mengikuti tanam serentak resikonya lumayan tinggi. Serangan hama ulat, tikus, kera, atau lainnya cukup riskan. Petani lain sudah panen, kemungkinan besar dan biasanya hama beranjak ke areal pertanaman kita. Jadi menanam belakangan menunggu hujan, juga bukan suatu jaminan pasti akan berhasil. Semoga ke depannya ada solusi konkrit dari pemerintah,” ujar Eben Pinem.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karo Metehsa Karo-Karo kepada wartawan melalui selularnya mengatakan, pihaknya masih melakukan kajian terkait penanggulangan masalah gagal tanam akibat kemarau yang senantiasa berulang. Sehubungan pembangunan embung di sejumlah kawasan sentra jagung Karo, Dinas Pertanian Karo menganggap kurang efektif.

“Pembangunan embung untuk menanggulangi masalah gagal tanam ketika kemarau, dinilai kurang ekonomis. Bahkan menambah cos biaya produksi. Embung dapat menambah konflik internal petani. Pembagian air dari embung menuai permasalahan, termasuk biaya operasional (minyak mesin pompa), jadi harus dikaji lebih jauh lagi,” ujar Metehsa. (BR2/f)


SHARE:
komentar
beritaTerbaru