Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 28 Maret 2026

Partai Gelora Ingin Bangun Ekosistem Kondusif bagi Perkembangan Ekonomi Kreatif

Redaksi - Senin, 10 Januari 2022 18:04 WIB
422 view
Partai Gelora Ingin Bangun Ekosistem Kondusif bagi Perkembangan Ekonomi Kreatif
Foto Dok
Anis Matta
Jakarta (harianSIB.Com)

Setelah sukses melaunching dua program aksinya, yakni Gerakan Gelora Tanam 10 Juta Pohon dan GEN-170 beberapa waktu lalu, Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia kembali melaunching satu lagi program aksi, Sagara Movement.

Ini merupakan program ketiga dari program satu visi tujuh aksi Partai Gelora. Empat program lainnya akan dilaunching hingga akhir tahun 2022 untuk persiapan Pemilu 2024.

Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta mengatakan Sagara Movement dilaunching untuk membangun ekosistem yang kondusif bagi perkembangan ekonomi kreatif.

Sebab, ekosistem yang sehat akan memfasilitasi kreativitas tanpa batas dalam mengintegrasikannya ke industri dan perekenomian, sehingga bisa membangun keyakinan dan akan menggelorakan Indonesia menjadi kekuatan kelima dunia.

"Sekarang ini kita mendapatkan serbuan budaya, terutama dari Korea. Kenapa anak seorang Perdana Menteri Maroko bisa bahasa Korea, padahal jauh di Afrika karena nonton drama Korea,” kata Anis Matta saat melaunching Sagara Movement, di sela-sela penutupan Rakorwil 07 DKI di Jakarta International Equestrian Park, Pulomas, Jakarta Timur, Minggu (9/1/2022), seperti dilaporkan jurnalis Koran SIB Jamida Habehan.

Anis mengakui istri dan anak-anaknya juga suka nonton drama Korea, walau dirinya kurang terlalu suka. Menurut Anis Matta, budaya Korea telah mempengaruhi budaya seluruh dunia, termasuk budaya Indonesia.

Dikatakan, kenapa budaya Korea bisa berpengaruh secara global, karena budayanya terkoneksi dengan industri kreatif seperti pembuatan film pendek, drama dan Kpop yang juga mendapatkan dukungan secara langsung dari negaranya.

"Sesungguhnya, kita juga bisa menyerbu secara budaya seperti Korea. Sebab, budaya dan bahasa kita lebih banyak, alam kita juga indah. Kekurangan kita hanya satu, yakni tidak terkoneksi dengan industri secara serius. Bahkan, secara ekonomi makro, kita tidak memiliki ekosistem industri kreatif," kata Anis.

Karena itu, kata Anis Matta, salah satu mimpi Partai Gelora adalah membuat satu lokasi industri film dan kreatif secara khusus yang dilengkapi akademi, dukungan teknologi, perbankan dan industri turunannya.

Sementara itu, Ketua Bidang Seni Budaya dan Ekonomi Kreatif DPN Partai Gelora Deddy Mizwar mengatakan, pemerintahan sekarang tidak mengetahui industri film, bahkan banyak bioskop ditutup.

Padahal, bioskop itu harusnya ada di sampai pelosok desa dan kecamatan seperti di India dan China.

"Film buatan China bisa mencapai record tertinggi mengalahkan film Hollywood, karena China punya bioskop sampai pelosok seperti juga di India. Ada komitmen dari negaranya.

Deddy Mizwar mengungkapkan film bisa menjadi alat untuk propaganda budaya seperti yang dilakukan China dengan membuat film tentang Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung 1955.

"Film Konferensi Asia Afrika dibuat di China, settingnya semuanya di sana, tetapi semua pemainnya dari seluruh dunia. Bahkan saya pernah ditawari untuk menjadi Bung Karno, dananya unlimited, tetapi saya tolak,” kata Deddy Mizwar sambil mempertanyakan mengapa film itu tidak kita yang buat, malah dibuat China.

Menurut Deddy Mizwar, dengan melihat film itu sudah menjadi gaya hidup dan mengenalkan budaya mereka ke seluruh dunia, sehingga mereka mau berinvestasi besar-besaran.

“Dengan Sagara Movement kita akan mulai buat film-film pendek, musik, grup band seperti BTS. Kita mulai sesuatu yang kecil dulu dengan menciptakan gelombang perubahan," tukasnya.

Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah menambahkan, Indonesia seharusnya mengembangkan industri kreatif, karena apabila fokus pada pengembangan industri berbasis sains, selalu kalah bersaing dengan negara lain, terutama negara baru.

Indonesia ini jumlah penduduk keempat terbesar didunia, setelah China, India dan Amerika Serikat.

Ketiga negara itu hidupnya di kontinen, sehingga budayanya relatif sama. Sementara Indonesia, hidupnya di kepulauan, komplicated dan berbeda. Contohnya, Pulau Sumbawa, sebuah pulau kecil tapi bahasa dan makanannya banyak.

Fahri berharap Sagara Movement bisa mengkoordinasikan budaya-budaya Indonesia yang ada di bawah dengan membuat kejuaraan dari tingkat kecamatan, hingga kabupaten/kota untuk mengangkatnya melalui semua film. (*)

Editor
:
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru