Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 21 Februari 2026

Chikunguya Merebak di Taput, 12 Orang Terjangkit

Anwar Lubis - Minggu, 16 Juni 2024 15:26 WIB
919 view
Chikunguya Merebak di Taput, 12 Orang Terjangkit
Foto Dok/Dinkes
PENYELIDIKAN : Petugas kesehatan sedang melakukan penyelidikan epidemiologi penyakit chikungunya dan pencarian jentik nyamuk aedes Aegypti atau Aedes Albopictus di Kelurahan Hutatoruan IX, Kecamatan Tarutung, Kabupaten Taput baru-baru ini.
Taput (harianSIB.com)
Penyakit menular (flu tulang) alias chikungunya merebak di Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), sedikitnya korban yang terjangkit sebanyak 12 warga yang tersebar di tiga kelurahan yakni, Kelurahan IX, Kelurahan X dan Kelurahan XI.


Alexander Gultom SKM MKM

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Taput, Alexander Gultom SKM MKM saat dihubungi Minggu, (16/6/2024) menyampaikan, penemuan penyakit tersebut bermula usai pihaknya menerima laporan adanya 1 orang yg datang berobat ke praktek dokter Mandiri, dimana gejala yang dialami pasien tersebut mirip dengan chikungunya.

Atas laporan tersebut, para petugas kesehatan melaporkan ke Dinkes setempat. Selanjutnya melakukan penyelidikan Epidemiologi dan mengambil sampel darah beberapa orang yang mengalami demam.

"Ternyata dari hasil pemeriksaan sampel darah yang dikirimkan ke laboratorium kesehatan Dinkes Provinsi didapat 12 orang positif chikungunya," ujarnya.

Alexander mengatakan, penyakit chikungunya disebabkan oleh virus chikungunya, penyakit yang menular melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti atau Aedes Albopictus. Kedua nyamuk tersebut adalah jenis nyamuk yang juga menularkan penyakit demam berdarah dan virus zika.

"Umumnya, nyamuk ini menggigit di siang dan malam hari. Artinya, nyamuk Aedes mendapatkan virus chikungunya saat menggigit seseorang yang telah terinfeksi sebelumnya. Bahkan, penularan terjadi bila orang lain digigit oleh nyamuk pembawa virus chikungunya," tuturnya.

Meski demikian katanya, virus chikungunya hanya menular melalui nyamuk dan tidak menyebar secara langsung antar manusia dan resiko kematian penderita kecil.

Disinggung bagaimana cara pengobatan, ia menyebut, pasien yang bergejala timbulnya penyakit chikungunya tidak memerlukan pengobatan khusus, karena akan sembuh dengan sendirinya, sebab dalam banyak kasus, gejala penyakit ini biasanya akan mereda dalam 1 - 2 minggu. Meski demikian, nyeri sendi dapat berlangsung hingga hitungan bulan atau bahkan bertahan lama.


Oleh karena itu, pihaknya mendorong agar seluruh warga dapat mencegah chikungunya dan menurunkan risiko terkena gigitan nyamuk dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui tindakan 3 M Plus yaitu, menguras tempat penampungan air.
Kemudian, menutup rapat tempat penyimpanan air dan mendaur ulang barang-barang bekas yang bisa menampung air. Sedangkan tindakan plus (tambahan) yang dapat dilakukan untuk membantu 3M yaitu, menaburkan bubuk abate pada tempat penampungan air, memelihara ikan pemakan jentik nyamuk dan menggunakan obat anti nyamuk.

Setelah itu, memasang kawat anti nyamuk di jendela dan ventilasi rumah, menanam tumbuhan pengusir nyamuk, menghentikan kebiasaan menggantung pakaian di ruang terbuka, memperbaiki saluran air yang tidak lancar dan bergotong royong membersihkan lingkungan sekitar.

Oleh karena itu, pihaknya juga menyarankan ketika ada warga mengalami gejala-gejala penyakit chikungunya atau mengunjungi daerah yang banyak terdapat kasus chikungunya agar segera periksakan diri ke dokter.

"Jangan tunda ke dokter jika mengalami gejala seperti gangguan penglihatan, nyeri perut, perdarahan, penurunan kesadaran, nyeri parah dan sendi bengkak," tandasnya. (**)

Editor
: Eva Rina Pelawi
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru