vitalitas dan produktivitas. Tiamin tidak akan sudi membiarkan tahun-tahun membebani semangatnya.
Tiamin bukanlah seorang atlet yang setiap hari rutin berolahraga. Kondisi tubuhnya yang sehat dan bugar dicapai melalui kombinasi aktivitas fisik, nutrisi yang baik, dan istirahat yang cukup. Sesekali ia mengkonsumsi minuman tradisional untuk menambah energi.
Alhasil, di usia yang seharusnya sudah pensiun, kondisi fisik Tiamin masih tetap bugar. Sebagai seorang seniman tani yang hebat ia tetap aktif membersihkan berbagai tanaman yang ia tanam di kebunnya, tak kalah dengan petani berusia dewasa. Dia melakukan aktivitas rumah dengan hebat dan telaten.
Namun apa jadinya jika salah satu penyakit yang disebabkan oleh proses penuaan menyatroninya. Penglihatan Tiamin perlahan memudar. Mata kiri Tiamin tidak berfungsi dengan baik, ia menderita katarak. Kondisi ini dia alami sejak sepuluh tahun terakhir. Akibatnya, aktivitas Tiamin sebagai seorang petani menjadi terganggu.
Meski telah mengeluhkan keadaan ini kepada keluarga, tetap saja dirinya tak memperoleh solusi. Bagi keenam anaknya, kondisi tersebut hal yang lumrah, mengingat usia sang ibu sudah fase pensiun dari setiap aktivitas di luar rumah. Selayaknya perempuan itu rehat dan berhenti menyandang status pejuang nafkah, digantikan oleh mereka sebagai anak-anaknya.
Namun, bagi perempuan yang lahir tahun 1945 itu, berhenti bekerja hanya akan menimbulkan kebingungan, kebosanan, dan perasaan tidak berguna, yang berujung pada penurunan kesehatan fisik dan mental.