Wakil Presiden Direktur PTAR, Ruli Tanio, menjelaskan, strategi perusahaan tidak sekadar memenuhi regulasi, melainkan bertujuan mencapai dampak positif bersih (net positive impact) terhadap keanekaragaman hayati melalui dua inisiatif tata guna lahan berskala bentang alam.
Pertama, refugia di dalam konsesi tambang. PTAR secara resmi menetapkan sekitar 2.000 hektare wilayah dalam Kontrak Karya (CoW) sebagai kawasan biodiversity refugia yang dikelola secara aktif dan berkelanjutan. Area ini berfungsi sebagai zona penyangga penting dan koridor ekologis strategis yang mendukung kelangsungan hidup serta pergerakan satwa liar, termasuk spesies primata utama di kawasan tersebut.
Kedua, proyek offset keanekaragaman hayati berskala besar. PTAR juga berkomitmen mengembangkan proyek biodiversity offset di luar area operasi tambang, mencakup sekitar 3.700 hektare. Proyek kompensasi ini merupakan implementasi tahap akhir dari hierarki mitigasi internasional, yang bertujuan mengimbangi dampak keanekaragaman hayati yang tidak dapat dihindarkan melalui perlindungan dan pemulihan kawasan dengan nilai ekologis tinggi.
"Komitmen kami melampaui batas operasional tambang. Dengan menetapkan 2.000 hektare area di dalam konsesi sebagai refugia yang dikelola, serta mengembangkan proyek offset berskala besar, kami memastikan perlindungan jangka panjang bagi ekosistem Batang Toru. Langkah ini merupakan upaya ilmiah dan strategis untuk memberikan dampak positif bersih terhadap keanekaragaman hayati," ujar Ruli Tanio, sebagaimana rilis yang diterima harianSIB.com, Jumat (17/10/2025).
Komitmen PTAR terhadap pelestarian lingkungan diperkuat dengan berbagai inisiatif berbasis sains dan inovasi, di antaranya: Konektivitas Ekologis: PTAR secara berkelanjutan memasang jembatan arboreal lengkap dengan kamera jebak (camera trap) di area yang terfragmentasi. Langkah ini memastikan pergerakan aman bagi satwa arboreal sekaligus menyediakan data penting bagi riset konservasi.
Pengawasan Ahli Independen: seluruh strategi konservasi PTAR diawasi oleh Biodiversity Advisory Panel (BAP), yang terdiri atas ilmuwan terkemuka dari Indonesia dan luar negeri.