Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 22 Maret 2026

Pdt Dr JP Robinsar Siregar : Waspada atas Grand Desain Pasca Pencabutan Izin Konsesi TPL

Bongsu Batara Sitompul - Selasa, 27 Januari 2026 19:43 WIB
2.111 view
Pdt Dr JP Robinsar Siregar : Waspada atas Grand Desain Pasca Pencabutan Izin Konsesi TPL
Sekretaris Sekber GOKESU Pdt Dr JP Robinsar Siregar

Pdt Dr Robinsar mengungkapkan, kecurigaan mendorong pertanyaan-pertanyaan mendasar yaitu logika apa yang sedang dipakai pemerintah? Pembangunan ini ditujukan untuk siapa? Apakah alam diperlakukan sebagai bagaian dari ciptaan yang harus dirawat, dijaga dan dilindungi, atau kembali sebagai objek kuasa yang boleh dieksploitasi?

" Di titik ini, penting untuk menyediakan sebuah logic frame berpikir yang bersifat filosofis sebagai dasar tindakan etis. Tanpa kerangka filosofis yang kuat, kebijakan publik mudah terjebak dalam pendekatan teknokratis yang mekanistik, di mana manusia dan alam direduksi menjadi angka, fungsi, dan target. Setiap rezim kekuasaan pasti membawa grand desainnya sendiri dan karena itu masyarakat perlu mengambil jarak kritis terhadap logika dan kerangka kerja yang ditawarkan. Bahasa kesejahteraan dan pembangunan tidak boleh diterima begitu saja, melainkan harus terus diuji dan dipertanyakan. Hal yang sama berlaku pada cara kita memahami konsep penguasaan atas alam, yang sering dirujuk melalui istilah rada dan kabash, " terangnya.

Menurutnya, selama ini, kedua konsep tersebut kerap dimaknai secara keliru sebagai legitimasi untuk mendominasi, menaklukkan dan menghabiskan alam. Pemahaman inilah yang menjadi dasar teknologi mekanistik dan antropomorfisme dangkal.

" Padahal, dalam kerangka etis dan ekologis, rada dapat dimaknai sebagai tanggung jawab. Sementara kabash sebagai bentuk pengelolaan yang merawat, menjaga dan melindungi bukan menghancurkan. Dengan demikian, penguasaan atas alam perlu dilepaskan dari logika eksploitasi dan digantikan dengan logika perawatan, penjagaan dan perlindungan yang berkelanjutan, serta keadilan ekologis, " paparnya.

Pdt Robinsar juga mengatakan, pada akhirnya, tantangan terbesar pasca pencabutan izin konsesi bukan terletak pada apa yang akan dibangun di atas ruang yang ditinggalkan melainkan pada cara berpikir yang membimbing pembangunan tersebut.

" Tanpa kewaspadaan filosofis dan sikap kritis yang terus dijaga, grand desain baru berisiko besar hanya menjadi pengulangan tragedi lama. Kali ini dengan istilah yang lebih indah, narasi yang lebih halus dan legitimasi yang tampak lebih manusiawi, " pungkasnya. (*)

Editor
: Wilfred Manullang
SHARE:
Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru