Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 03 Maret 2026

Penrad Siagian Soroti Ketimpangan Akses Energi di Kepulauan Batu Nisel

Firdaus Peranginangin - Selasa, 03 Maret 2026 11:00 WIB
129 view
Penrad Siagian Soroti Ketimpangan Akses Energi di Kepulauan Batu Nisel
Foto harian SIB.com/Firdaus
Pdt Penrad Siagian.

Nias Selatan(harianSIB.com)

Anggota DPD RI Pdt Penrad Siagian, menyoroti serius ketimpangan akses energi di wilayah Kepulauan Batu, Kabupaten Nias Selatan. Dari total 86 desa dan satu kelurahan di tujuh kecamatan, sekitar separuh desa hingga kini masih belum menikmati listrik negara, sementara harga BBM dan elpiji melambung tinggi.

Temuan tersebut disampaikan Penrad Siagian saat melakukan kunjungan kerja ke wilayah Kepulauan Nias, Selasa (3/3/2026) menyerap aspirasi masyarakat yang mengeluhkan belum meratanya layanan listrik serta mahalnya harga energi atau gas elpiji di wilayah kepulauan tersebut.

Di tengah klaim pemerintah tentang tingginya rasio elektrifikasi nasional, kondisi di Kepulauan Batu justru menunjukkan fakta berbeda. Banyak desa masih hidup dalam keterbatasan penerangan, bahkan sebagian sama sekali belum terhubung dengan jaringan listrik negara.

Baca Juga:
Sebagian desa saat ini hanya mengandalkan generator set (genset) dengan waktu operasional terbatas, umumnya menyala beberapa jam pada malam hari. Sementara setengah lainnya belum tersentuh layanan listrik sama sekali.

Keterbatasan tersebut, tambah Penrad, berdampak sistemik terhadap kehidupan masyarakat. Aktivitas belajar anak-anak terhenti ketika malam tiba, layanan kesehatan tidak berjalan optimal, dan pelaku UMKM kesulitan meningkatkan produktivitas akibat ketiadaan pasokank listrik yang stabil.

Penrad menilai kondisi ini menunjukkan program pemerataan pembangunan, khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), belum berjalan maksimal, sehingga pihaknya mendesak pemerintah pusat bersama PT PLN melakukan audit menyeluruh terhadap program elektrifikasi di Kepulauan Batu, termasuk pemetaan ulang desa yang belum teraliri listrik dan evaluasi alokasi anggaran.

Persoalan energi juga diperparah oleh tingginya harga bahan bakar minyak. Berdasarkan pengaduan masyarakat ke Penrad, harga BBM jenis Pertalite di sejumlah titik mencapai Rp25.000 per liter akibat mahalnya biaya distribusi.

Sementara itu, gas elpiji 3 kilogram bersubsidi disebut dijual hingga Rp55.000 per tabung.Padahal (harga eceran tertinggi) Rp17 ribu/tabung Kondisi ini membebani nelayan, petani, dan pelaku usaha kecil yang harus menanggung biaya operasional jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah daratan utama," ujarnya sembari menambahkan perlunya intervensi negara untuk menjamin stabilitas harga dan distribusi energi di wilayah kepulauan.

Penrad mengaku telah berdiskusi dengan kepala daerah se-Kepulauan Nias, tokoh gereja, akademisi dan komunitas masyarakat setempat. Seluruh pihak sepakat bahwa masyarakat kepulauan memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan dasar yang adil.

Menurut Penrad, persoalan listrik dan mahalnya energi menjadi isu dominan dalam setiap pertemuan dengan masyarakat Kepulauan Batu dan kini menunggu langkah konkret, bukan sekadar janji. Bagi masyarakat, listrik bukan lagi simbol kemajuan, melainkan hak dasar yang seharusnya telah lama terpenuhi.(*).

Editor
: Wilfred Manullang
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Pemerintah Minta Harga BBM Nonsubsidi Turun
20 Kelurahan di Tebingtinggi Terima Bantuan CSR dari LPCI
Pesparawi Selesai, Kecamatan Sibolga Utara Juara Umum
Kombatan Sumut Bersama Aparatur Kecamatan Bersihkan Parit di Medan Tuntungan
Menuju Terbaik Provsu, Wabup: Kecamatan Beringin Sudah Bergaya Internasional
Seorang DPO Kasus Pembongkaran Rumah di Bajenis Diringkus Polres Tebingtinggi
komentar
beritaTerbaru