Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 15 Maret 2026

Pdt Victor Tinambunan: Dari Bencana, Rokok Pendeta, hingga "Jangan Bunuh Atas Nama Tuhan"

Anwar Lubis - Sabtu, 14 Maret 2026 19:10 WIB
238 view
Pdt Victor Tinambunan: Dari Bencana, Rokok Pendeta, hingga "Jangan Bunuh Atas Nama Tuhan"
Foto Dok/HKBP
Ketua Umum PGI Sumatera Utara Pdt Dr Victor Tinambunan.

Taput(harianSIB.com)

Tidak banyak tokoh gereja yang berani merentangkan pandangannya secara terbuka dari soal bencana ekologis, kebiasaan merokok para pendeta, polemik kuliner di Kota Medan, pelestarian budaya Batak, hingga konflik kemanusiaan di Timur Tengah dalam satu perbincangan.

Pdt Dr Victor Tinambunan adalah salah satunya. Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Wilayah Sumatera Utara itu hadir sebagai narasumber dalam podcast ke-314 Majalah Narwastu yang direkam di Studio Distrik 8 HKBP DKI Jakarta, Jumat (13/3/2026).

Sebagaimana dikutip dalam kanal YouTube resmi podcast ke-314 Majalah Narwastu Sabtu (14/3/2026), Victor bukan nama asing di lingkaran tokoh lintas agama. Ia masuk dalam daftar 21 Tokoh Kristiani Inspiratif 2020 versi Majalah Narwastu dan dikenal vokal di tengah dinamika sosial politik Sumatera Utara.

Percakapan dibuka dengan bencana yang mengguncang tiga provinsi sekaligus yakni, Sumatera Utara, Aceh dan Sumatera Barat. Victor menyebutnya sebagai salah satu bencana ekologis terbesar dalam sejarah wilayah itu.

Baca Juga:
"Korban sudah kita dengar seribuan orang yang meninggal, masih banyak yang hilang, rumah-rumah juga hancur," ujarnya.

Yang memilukan, ia mengaku telah mengingatkan potensi bahaya ini sejak Mei 2025 jauh sebelum bencana benar-benar terjadi dan berlanjut hingga November tahun yang sama.

HKBP mencatat sekitar 16.000 Kepala Keluarga (KK) dari jemaatnya di tiga provinsi itu terdampak langsung. Respons gereja pun bergerak cepat, bantuan kebutuhan pokok, obat-obatan, layanan trauma healing, hingga alokasi Rp 1 miliar khusus beasiswa bagi anak-anak korban.

"Ini pertama kalinya HKBP menerima dan menyalurkan bantuan lebih dari Rp 12 miliar," kata Victor.

Untuk menjangkau wilayah terisolir, HKBP bermitra dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Silangit sehingga bantuan dapat diangkut menggunakan helikopter. Di posko pengungsian pun, ia menegaskan tidak ada sekat agama.

"Teman-teman muslim yang ada di pengungsian kami juga sedaya mampu tidak membeda-bedakan," tegasnya.

Untuk pemulihan jangka panjang, Victor mengusulkan agar minimal 80.000 hektare dari 167.000 hektare lahan konsesi direforestasi (penanaman kembali), terutama di kawasan hulu sungai. Sisanya ia usulkan dikembalikan ke masyarakat adat dan sebagian untuk mendukung ketahanan pangan.

Bahkan, rekening donasi kantor pusat HKBP, ia tegaskan, masih terbuka hingga saat ini.

Topik berikutnya tak kalah mengejutkan, himbauan resmi kepada para pendeta dan pelayan HKBP untuk berhenti merokok.

Bagi sebagian kalangan Batak, rokok adalah simbol penghormatan dan persahabatan yang mengakar dalam tradisi. Namun Victor punya pandangan berbeda. "Kalau di tempat-tempat umum itu bukan tanda persahabatan, karena ada yang terganggu," ujarnya.

Ia merujuk pada Konfesi HKBP 1951 yang secara eksplisit melarang umatnya dikuasai oleh makanan, minuman dan rokok, sebuah doktrin berusia lebih dari 70 tahun yang jarang dibicarakan secara terbuka.

Himbauan itu pertama kali ia tulis pada 1 Januari 2025 di media sosialnya, sebelum akhirnya diterbitkan sebagai surat pastoral resmi pada awal 2026. Alasannya pun terasa personal dimana belakangan cukup banyak pendeta HKBP yang meninggal di usia muda.

"Kerinduan saya supaya hamba-hamba Tuhan ini panjang umur, sehat-sehat. Kalau persembahan yang dikumpulkan di gereja dibelikan untuk rokok yang merusak kesehatan, secara moral menurut saya kurang bijak," katanya.

Respons jemaat ternyata positif. Sejumlah pendeta sudah menyatakan berhenti merokok dan beberapa gereja mendeklarasikan diri sebagai kawasan bebas rokok. Soal sanksi, Victor mengakui saat ini masih sebatas himbauan, namun tidak menutup kemungkinan ditingkatkan menjadi ketentuan resmi tahun depan.

Selain itu, Ketika Wali Kota Medan mengeluarkan surat edaran yang membatasi pedagang daging babi dan memicu demonstrasi, Victor memilih sikap terukur tidak menolak mentah-mentah, namun juga tidak berdiam diri.

Ia mengakui tidak turun langsung ke lapangan memantau kondisi para pedagang. Namun prinsipnya jelas, kesejahteraan masyarakat dan toleransi adalah dua hal yang tidak bisa ditawar.

"Siapapun kita, warga masyarakat dan pemerintah, harus menghargai orang lain," katanya.

Ia justru lebih khawatir jika polemik ini dimanfaatkan pihak tertentu untuk mengalihkan perhatian publik dari isu yang lebih substansial.

"Kita tersita waktu dan pikiran untuk hal-hal yang tidak perlu, padahal ada banyak hal yang harus kita kerjakan bersama," tegasnya.

Victor juga mengingatkan bahwa, dalam tradisi Kristen pun ada nilai puasa dan pengendalian diri, bukan karena ketiadaan, melainkan justru di tengah kelimpahan.

Ia menyebut pandangan serupa dari tokoh-tokoh muslim yang ia kenal sebagai hal yang membuatnya bangga sebagai warga bangsa.

Di penghujung perbincangan, Victor merekomendasikan film, "Antara Mama, Cinta dan Surga", bukan hanya karena nuansa HKBP nya yang kental. Tampilan kantor pusat HKBP, Gereja Dame tempat Nomensen mendirikan gereja pertama, hingga Sekolah Tinggi Theologi hadir di layar lebar. Ia melihat nilai pendidikan keluarga yang kuat di dalamnya.

"Orang tua boleh memberikan arahan dan masukan, tapi soal pilihan hidup yang menjalaninya nanti bukan ibunya, bukan bapaknya, tetapi anaknya," ujarnya, merujuk pada dilema tokoh dalam film tersebut.

Ia pun berharap film ini bisa menggugah orang-orang Batak di perantauan termasuk yang belum pernah menginjakkan kaki di tanah Batak untuk mencintai dan menjaga warisan leluhurnya.

Dari sisi bisnis, 10 persen penjualan tiket akan disumbangkan untuk pelayanan HKBP. "Kalau ada 1 juta penonton, bisa sekitar Rp 3 miliar untuk pelayanan HKBP," hitungnya. Namun ia menegaskan, bukan itu yang utama.

Menutup perbincangan, Victor juga menyuarakan keprihatinannya atas konflik kemanusiaan yang masih berlangsung di berbagai penjuru dunia, termasuk di Timur Tengah.

Bagi Victor, tidak ada satu pun tindakan kekerasan yang bisa dibenarkan atas nama agama atau Tuhan dari pihak mana pun.

"Jadi siapapun dia, Israel atau non-Israel atau yang lain, kalau dia membunuh orang lain, memerangi orang lain, menyengsarakan orang lain, jangan pernah menggunakan atas nama Tuhan," tegasnya.

Ia melanjutkan dengan pertanyaan retoris yang menghujam, "Jangan pernah, karena Tuhan yang manakah yang haus akan darah ?"

Pernyataan itu sekaligus menjadi cermin dari keseluruhan sosok Victor Tinambunan seorang pemimpin gereja yang tidak hanya bicara soal ritual dan doktrin, tetapi juga berani berdiri di garis terdepan isu kemanusiaan, baik yang terjadi di pelosok Sumatera maupun di panggung dunia (**)

Editor
: Robert Banjarnahor
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Menteri Kesehatan Hadiri Puncak Tahun Kesehatan HKBP Taman Mini
Jemaat Rayakan 111 Tahun HKBP Jalan Gereja P Siantar Dirangkai Pesta Tahun Kesehatan dan Kebersihan
Dameria Pangaribuan : Dukungan Praeses HKBP Distrik Medan-Aceh Jadi Sumber Energi Baru
Pesta Pembangunan HKBP Seiserimah Sergai Sukses
Pesta Gotilon HKBP Tanjungsari Berlangsung Suka Cita
Jemaat HKBP Pancurbatu Aksi Damai di Kantor Distrik
komentar
beritaTerbaru