Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 28 Maret 2026
Produksi Ikan Pora-pora Menurun, KKP Turunkan Tim Peneliti

Ikan Nila Danau Toba Terbaik di Dunia

- Rabu, 19 Agustus 2015 19:00 WIB
354 view
Ikan Nila Danau Toba Terbaik di Dunia
Pangururan (SIB)- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah menurunkan tim untuk melakukan penelitian terhadap ikan kaca-kaca yang ada di perairan Danau Toba. Sebab, keberadaan ikan kaca-kaca mengancam kelangsungan hidup ikan pora-pora (bilih). Bahkan, saat ini, populasi ikan pora-pora hampir punah karena dimakan ikan kaca-kaca.

“Saat ini penelitian sedang berlangsung dan kita harapkan hasil penelitian terhadap ikan kaca-kaca ini segera keluar,” kata Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) KKP Saut P Hutagalung kepada wartawan, saat melakukan penebaran benih ikan air tawar, di perairan Danau Toba persinya, di Pangururan, Samosir, Sabtu.

Menurut Saut yang didampingi Bupati Samosir, Mangindar Simbolon, penelitian yang dilakukan terhadap ikan kaca-kaca, mengenai kandungan  ikan tersebut serta ada zat yang berbahaya atau tidak.

“Menurut informasi yang kita dapat, ikan kaca-kaca ini bisa dibuat krispy. Hanya saja, kulit atau sisik serta tulang ikan kaca-kaca ini sangat keras, sehingga krispy yang dihasilkan masih belum seperti yang diharapkan. Tetapi, kalsium ikan kaca-kaca ini menurut informasinya sangat tinggi sehingga baik untuk tulang. Nah, ini yang sekarang sedang kita teliti,” kata Saut.

Sementera itu, Mangindar Simbolon mengatakan, perkembangan populasi ikan kaca-kaca ini sangat cepat sehingga mengakibatkan populasi ikan pora-pora semakin langka. “Ikan kaca-kaca memakan ikan pora-pora. Kondisi ini sudah berlangsung sekitar tahun 2014 lalu. Dan, itu membuat masyarakat sekitar Danau Toba kehilangan sumber pendapatannya,” kata Bupati Samosir.

Karena itu, lanjut Mangindar, dengan adanya penebaran benih ikan air tawar ini diharapkan mampu menopang pendapatan ekonomi masyarakat sekitar.

“Kita juga akan melakukan penelitian terhadap ikan kaca-kaca ini apakah juga menyerang atau menjadi predator bagi ikan nila. Namun, dari pengamatan kami sejauh ini, ikan nila tidak terpengaruh dengan adanya ikan kaca-kaca ini. Begitupun, tim peneliti akan melakukan pengkajian terhadap hal itu,” kata Mangindar.

Ekspor Meningkat

Terhadap ekspor hasil perikanan Indonesia, Saut mengatakan, secara keseluruhan untuk tahun 2014 mencapai US$ 4,6 miliar. Dari total nilai ekspor tersebut, yang paling besar berasal dari Amerika Serikat  sebesar  1,8 miliar Dolar AS, diikuti  Jepang US$ 740 juta, negara-negara Asean sekitar US$ 560 juta dan Uni Eropa sekitar US$ 555 juta.

“Nilai ekspor hasil perikanan itu sudah termasuk hasil tangkapan ikan di laut, hasil budidaya baik udang maupun ikan, kerang-kerangan serta rumput laut,” jelasnya.

Menurut Saut, sejak tahun 2011, ada tren peningkatan ekspor hasil laut Indonesia. “Tahun 2011 misalnya, total nilai ekspor hasil laut kita mencapai US$ 3,2 miliar, tahun 2012 naik menjadi US$ 3,8 miliar, tahun 2013 naik lagi menjadi US$ 4,1 miliar dan tahun 2014 realisasinya mencapai US$ 4,6 miliar. Untuk 2015 kita targetkan nilai ekspor hasil laut mencapai US$ 5,5 miliar,” terang Saut.

Komoditas ekspor yang paling tinggi dari hasil laut menurut Saut yakni udang, tuna, rajungan (kepiting), rumput laut serta nila merah termasuk dari perairan Danau Toba. Nila merah dari Danau Toba terbaik di dunia. Kualitas dagingnya lebih bagus dan tidak berbau lumpur. Pasar utamanya yakni Eropa dan Amerika,”  jelasnya.

Saut juga mengatakan, di tahun 1980-an, produksi perikanan Indonesia 80% dari laut dan 20% hasil budidaya. Tetapi, sejak tahun 2012, produksi budidaya sudah melewati produksi laut, mencapai 55% hasil budidaya dan 45% hasil laut. (R5/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru