Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 16 Februari 2026

Anak-anak Pengungsi Sinabung Asal Desa Kuta Gugung dan Lau Kawar Terancam Putus Sekolah

* Sekretaris BPBD: Uang Transport Sudah Ada
- Rabu, 02 September 2015 20:14 WIB
580 view
Anak-anak Pengungsi Sinabung Asal Desa Kuta Gugung dan Lau Kawar Terancam Putus Sekolah
SIB/Marlinto Sihotang
DIARAHKAN : Anak-anak sekolah pengungsi dari Desa Kuta Gugung dan Dusun Lau Kawar diarahkan dan dinasehati prajurit TNI E Sipangkar saat hendak berangkat ke sekolah Selasa (1/9).
Tanah Karo (SIB)- Anak-anak pengungsi Sinabung terancam putus sekolah. Hal ini diungkapkan pengungsi asal Desa Kuta Gugung dan Lau Kawar kepada SIB di posko pengungsian Korpri Berastagi , Selasa (1/9). “Kami orangtua sangat kebingungan jika anak-anak mau berangkat sekolah. Ongkos angkutan umum mereka setiap hari Rp 5000 belum jajannya, dari mana kami dapat uang sementara kebanyakan nganggur tak ada pekerjaan. Jika ada yang ajak untuk upahan di ladang orang, kami kerjakan. Kalau tidak ada, yah nganggur. Belum tentu tiap hari diajak orang bekerja. Sementara tiap hari harus menyediakan ongkos angkutan anak berangkat ke sekolah,” keluh Nande Ropinda Br Tarigan (40) pengungsi asal Desa Kutagugung.

Hal senada juga dikatakan Nande Christi Br Surbakti (30) pengungsi asal desa yang sama Dikatakan selama mereka tinggal di pengungsian belum ada perhatian dari pemerintah daerah terkait mobil angkutan antar jemput anak sekolah. Sementara jumlah anak SD ada 174 orang, SMP 57 orang dan SMA 41 orang. Angkutan kota memang tersedia tetapi harus membayar. “Kami tak punya uang, jadi anak-anak kami terancam putus sekolah”, ujar Br Surbakti.

“Bulan pertama ada disediakan angkutan gratis dari Diakonia GBKP, itupun hanya selama tiga hari saja. Sementara bantuan angkutan sekolah dari Pemkab Karo atau BPBD belum ada sama sekali. Kami kasihan, anak-anak yang masih SD dan SMP harus jalan kaki menuju sekolah kira-kira yang berjarak 4 kilometer dari posko," katanya.

Awalnya mereka bersekolah di SDN Gurusinga dan sekarang numpang di SDN bertingkat Korpri. Lokasi sekolahdi pinggir jalan raya dan anak-anak belum bisa nyebrang, katanya diamini Kartono Tarigan (47) pengungsi asal dusun Lau Kawar.

 Ditambahkan Kartono, selain fasilitas angkutan anak sekolah, kekurangan lauk-pauk pun sering terjadi. Terkadang dalam seminggu hanya dua kali  merasakan makan ikan. Lebih sering makan ditemani ikan asin dan sayur seadanya. Apalagi kebutuhan susu untuk balita sudah dua minggu juga tidak ada, katanya.

Kisah pengungsi tersebut merupakan gambaran semakin semrawutnya penanganan pemerintah daerah Karo terhadap pengungsi khususnya masalah pendidikan anak. Dari data yang ada pengungsi di Jambur Korpri berjumlah 1041 jiwa/265 KK.

Sekretaris BPBD Jhonson Tarigan ketika dikonfirmasi SIB mengatakan sudah ada uang transport anak - anak sekolah itu mulai (1/9). Dari sebelum sebelumnya 3 bulan di pengungsian tidak ada. Sebab mulai Selasa (1/9) anak - anak SD tersebut dipindahkan ke SD Tingkat Korpri, sebelumnya masih di desanya, " ujarnya.(DiK MAS/c)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru