Kotapinang (SIB)- Merosotnya harga sawit semakin berdampak terhadap ekonomi masyarakat, khususnya masyarakat petani di sejumlah desa Kecamatan Torgamba, Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel). Pasalnya, hasil pertanian sawit yang merupakan satu-satunya harapan menopang ekonomi keluarga menjadi kandas dan tidak bisa lagi diharapkan menutupi kebutuhan hidup sehari-hari.
Situasi ini membuat sebagian besar petani terpaksa eksodus (keluar-red) ke daerah lain untuk mencari pekerjaan demi memenuhi nafkah.
"Akibat harga sawit jatuh kehidupan masyarakat petani semakin sulit, sehingga mau tidak mau banyak petani eksodus ke luar daerah untuk mencari pekerjaan. Beberapa bulan terakhir ini banyak petani eksodus untuk mencari pekerjaan di luar sebab hasil pertanian sawit tidak bisa lagi diharapkan," ujar Salim Harahap warga Desa Pengarungan, Kecamatan Torgamba, Kabupaten Labuhanbatu Selatan kepada SIB, Rabu (2/9).
Salim mengatakan, sebagian besar masyarakat yang terdiri dari anggota keluarga dewasa keluar dan menuju beberapa daerah lain untuk mencari pekerjaan.
Hamdan Ritonga, warga Desa Bunut Kecamatan Torgamba mengatakan, sejak anjloknya harga sawit telah menjadikan kondisi perekonomian masyarakat petani pahit. Diterangkannya, Desa Bunut didominasi tanaman sawit, sedangkan tanaman padi dan tanaman lainnya minim karena dianggap tidak menopang ekonomi.
Menurutnya, harga sawit hingga minggu terakhir ini berada pada posisi Rp 400 - Rp 450 perkilogram, sehingga tidak bisa diharapkan membantu kebutuhan hidup keluarga.
Mereka berharap pemerintah daerah segera mencari solusi agar masyarakat petani bisa menopang ekonominya sehari-hari.
(D15/h)