Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 15 Februari 2026

Harapkan Uluran Kasih, Hutagalung Sabar Menunggu di Tepi Jalan

- Jumat, 18 September 2015 19:02 WIB
311 view
Harapkan Uluran Kasih, Hutagalung Sabar Menunggu di Tepi Jalan
SIB/Helman Tambunan SH
BERNYANYI: T Hutagalung sedang bernyanyi kidung puji-pujian saat ditemui SIB di tepi jalan Sibolga-Barus Desa Tapian Nauli, belum lama ini.
Poriaha, Tapteng (SIB)- Seorang pria tua sesekali terdengar bernyanyi dengan kidung pujian-Nya di tepi jalan, Sibolga – Barus, di Desa Tapian Nauli, Kecamatan Tapian Nauli, Tapanuli Tengah (Tapteng), Selasa (15/9). Adalah T Hutagalung (60), dengan suara khasnya sembari memainkan gitar, terlihat sabar menunggu uluran kasih dari pengendara yang melintas.

“Saya hanya tahu lagu puji-pujian amang (amang; sapaan terhadap laki-laki), selebihnya tidak ada,” katanya, saat disapa SIB di lokasi tempatnya menunggu.

T Hutagalung yang biasa disapa Galung, dalam kondisi fisik tidak bisa melihat itu, duduk ditopang bangku plastik yang selalu dibawa dari rumahnya. Dia bersama istri L Sinaga (40) bersama 3 orang anaknya, S br Hutagalung (17) siswa SMAN 1, K br Hutagalung (10) dan A Hutagalung (5), tinggal di sebuah gubuk peninggalan orangtuanya di Desa Raso Tapian Nauli.

Dalam kesehariannya, Galung menumpang armada pengangkutan umum ke lokasi tempatnya menanti uluran kasih, sekira 10 kilometer dari tempat tinggalnya. Sementara sang istri, yang juga mengalami gangguan penglihatan sebelah, bekerja di sawah milik orang lain yang diusahai mereka.

Menurut Galung, sedikit banyaknya rezeki yang didapat tidak pernah dihitungnya, namun keluarga yang di rumah selalu mengucap syukur lewat saluran berkat yang diterima dari orang-orang yang penuh kasih.

“Bagaimanalah saya mengatakan, sedikit atau banyak yang saya peroleh tidak pernah dihitung, sedikit atau banyak bagi kami itu tidak ternilai harganya,” ucapnya.

Galung tampak tegar menghadapi hari-harinya, meski diakui terkadang pulang dengan tangan hampa. Menurutnya, selalu ada waktu yang baik selama seseorang itu tabah dan bersabar dalam hidupnya. “Seperti saat ini ada amang (awak SIB) yang terketuk hatinya untuk memberi dan setiap yang memberi adalah orang-orang yang diliputi Roh Kudus,” ujarnya.

Tetapi, amang denominasi mana? Tanya Galung kepada SIB. Ketika awak SIB menjawab HKBP, spontan amang Galung mengatakan, kita satu rumpun, kita satu jiwa, kita satu tempat makan dan minum,” pungkasnya, seraya mengaku dia jemaat HKBP di Raso.

Banyak cerita yang terungkap selama mengobrol dengan amang Galung, termasuk soal rahasia ketentraman dalam keluarga selama perjalanan hidupnya bersama istri dan anak-anaknya. Dia mengaku risih mendengar ada pertengkaran antara suami dan istri.

“Sejujurnya, kalau kita tidak pernah menyakiti hati istri, maka istri juga tidak akan menyakiti hati kita. Begitu juga dengan anak-anak. Jangan karena kita kepala rumah tangga, lalu kita bersikap sesuka hati. Kita perlu merenung dan tawakal,” tuturnya. (E05/q)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru