Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 25 Oktober 2026

Jalan Sibolga Tarutung “Kuras” Uang Ratusan Miliar Rupiah Setiap Tahun

- Sabtu, 09 Januari 2016 20:04 WIB
486 view
Jalan Sibolga Tarutung “Kuras” Uang Ratusan Miliar Rupiah Setiap Tahun
Tapteng (SIB)- Kondisi Jalan Sibolga-Tarutung sampai sekarang masih banyak dikeluhkan pengendara. Sebab selain tikungan ganda di sepanjang jalan, sempitnya  bahu jalan dan dalamnya beram jalan serta jurang dalam selalu menjadi ancaman selalu siap menanti korban. Kalau sedang berpapasan dengan truk, satu mobil harus mengalah untuk mencari lokasi yang lebar tempat mobil bisa dipinggirkan. Sehingga tidak heran bila mengendara  dari dan ke Kota Sibolga - Kota Tarutung membutuhkan waktu 2,5 - 3 jam, meski jarak kedua  wilayah yang dulunya masuk Keresidenan Tapanuli itu hanya sekira 66 kilometer.

Seorang pemerhati infrastruktur yang juga PNS di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Nampung Pintu Batu AMd baru-baru ini mengungkapkan, akibat sulitnya medan yang akan ditempuh berakibat pada tidak terukurnya waktu yang kemudian menimbulkan  kerugian besar bagi masyarakat. Belum lagi kondisi geografis jalan yang rawan longsor yang sewaktu waktu bisa mengakibatkan kemacetan panjang.

Kerugian yang dimaksud adalah kerugian waktu dan materi. Harusnya dengan jarak sedemikian pendek bisa ditempuh 1-1,5 jam dengan kecepatan 40-65 kilometer per jam. Seiring dengan itu, molornya waktu jelas berbanding lurus dengan membengkaknya pemakaian Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk setiap kendaraan.

Dalam estimasi awam saja, lanjut Nampung, dibutuhkan ratusan ribu liter BBM untuk perjalanan ratusan ribu jumlah kendaraan, mulai dari roda dua, roda empat, truk maupun kontainer, yang melintas setiap tahunnya di jalan itu.

Memang belum ada data atas perkiraan itu, termasuk belum dilakukannya original destination atau survey terhadap jumlah lintas harian rata-rata kendaraan setiap tahunnya, dan berapa liter jumlah BBM yang dibutuhkan karena molornya waktu tempuh. Meski demikian, terlepas soal kualitatifnya data yang diperlukan, yang jelas kerugian akibat itu cukup besar yang diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah.

Karenanya, menurut Nampung, pemerintah harus mencari regulasi untuk mengatasi permasalahan Jalan Sibolga-Tarutung, setidaknya meminimalisir kerugian yang dialami masyarakat. “Meski memang tidak semudah yang kita bayangkan, namun jalan unik yang membelah pegunungan bukit barisan itu, cepat atau lambat, harus ditata ulang, minimal diperlebar dan diluruskan. Jika saja mulai dari  Menteri PU Pera, gubernur, bupati/wali kota terkait, hingga kepala desa bisa duduk bersama, maka hal itu tidak sulit dilakukan”.

"Pemerintah memiliki dana, tenaga, alat dan sebagainya untuk itu. Kita tidak bisa membiarkannya terus menerus. Kalau tidak sekarang kapan lagi ? Karena perkembangan semakin pesat, jumlah kendaraan semakin meningkat dan jumlah penduduk semakin banyak," tegas Nampung.

Nampung yang berkarir di Dinas PU Pemkab Tapteng itu mengapresiasi kinerja Pemkab Tapteng yang berhasil membuka 75 kilometer jalan baru yang dianggap sangat strategis. Seperti jalan alternatif Rampah - Poriaha (jalan Sibolga - Tarutung tanpa melalui Batu Lobang), jalan Labua Angin, Jalan Sipan-Sihaporas - Aek Horsik dan sebagainya. “Hal serupa harusnya bisa dilakukan Menteri PU maupun Gubernur Sumatera Utara itu, ke depan,” katanya. (E05/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru