Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 10 April 2026
Isu SARA Kerap Jadi Penyebab Konflik Horizontal

FKUB Sumut: Toleransi Beragama Harus Dijunjung Tinggi

- Jumat, 12 Agustus 2016 10:38 WIB
159 view
FKUB Sumut: Toleransi Beragama Harus Dijunjung Tinggi
Medan (SIB)- Konflik horizontal berbau Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA) yang akhir-akhir ini terjadi, dinilai karena kian lunturnya nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Karenanya, setiap warga negara harus memiliki kesadaran hidup dalam kebhinekaan demi kokohnya persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Agar NKRI tetap kokoh maka setiap warga negara harus memegang teguh empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, UUD'45, NKRI & Bhineka Tunggal Ika. Mari kita jalin persatuan dan kesatuan sembari mengingat semangat dan perjuangan para pejuang kita dahulu," ujar Kadis Kominfo Sumut Jumsadi Damanik dalam sambutannya yang dibacakan Kabid Postel Dinas Komunikasi dan Informatika Gelora Viva Sinulingga pada Coffee Morning di Aula Transparansi Kantor Dinas Kominfo Provsu, Kamis (11/8).

Jumsadi juga menyampaikan apresiasi kepada FKUB Sumut bersama komponen masyarakat Sumut yang telah banyak berbuat menciptakan suasana kondusif, rukun dan damai. Peristiwa Tanjung Balai hendaknya menjadi pembelajaran bagi semua pihak untuk sama-sama meningkatkan kesatuan dan persatuan di tengah kebhinekaan, agar kejadian yang menimbulkan kerugian, baik materil dan moril tidak terulang lagi.

Hadir dalam kegiatan tersebut dua narasumber yaitu Ketua FKUB Sumut DR H Maratua Simanjuntak dan Dewan Harian Daerah 45 Provsu Nina Karina dan peserta dari tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan dan mahasiswa.

Dalam kesempatan itu Maratua Simanjuntak mengatakan, isu SARA kerap menjadi pemicu konflik. Seperti halnya yang baru-baru ini terjadi di Tanjungbalai, karena adanya warga non Muslim memprotes suara azan. Protes ini akhirnya menyebar hingga berujung ke sikap anarkis perusakan ke sejumlah rumah ibadah.

"Peristiwa itu mungkin hanya pemicu saja. Tapi yang saya mau katakan bicara soal Bhineka Tunggal Ika tidak bisa mengesampingkan pruralis yaitu keniscayaan.
Tidak ada agama yang merendahkan atau mencaci agama lain. Untukmu agamamu, untukku agamaku. Maka toleransi beragama harus dijunjung tinggi. Terus upayakan musyawarah dan mufakat. Manusia harus bisa bermanfaat terhadap orang lain. Sehingga semboyan Bhineka Tunggal Ika akan terimplementasi dalam hidup kita. Itulah keindahan Indonesia," ujar Maratua.

Dalam kesempatan itu Maratua juga mengingatkan agar tidak lupa akan sejarah. Selain itu Maratua mengajak untuk bijak memanfaatkan ilmu teknologi (IT) yang perkembangannya begitu pesat.

"Jangan sampai SARA itu menjadi sumber konflik. Ambil sisi positif dari perkembangan IT. Dan tingkat juga IT yang satu lagi (Iman dan Taqwa)," pungkasnya. 

Sementara itu, Nina Karina menjelaskan, sumber daya alam yang dimiliki Indonesia sudah sejak lama menjadi ketertarikan negara-negara luar untuk menguasainya. Hal ini dibuktikan dengan dijajahnya Indonesia. Hal ini bisa terjadi karena masih terkotak-kotaknya Bangsa Indonesia yang masih mengusung perjuangan secara kedaerahan. Sejarah membuktikan, kerajaan besar yang ada di Indonesia harus runtuh karena rongrongan dari  dalam kerajaan itu sendiri.

Belajar dari pengalaman inilah sejumlah tokoh pemuda di tahun 1908 mulai melakukan pergerakan. Hanya saja saat itu pergerakan pemuda masih belum bersatu padu. Barulah pada Tahun 1928 melalui sumpah pemuda diikrarkan janji pemersatu bangsa hingga mendorong diproklamirkannya Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

"Ini merupakan akumulasi dari keinginan untuk menjadi NKRI tetap utuh melalui empat pilar konsensus dasar. Pertanyaannya apakah nilai-nilai ini masih tertanam di diri kita. Jangan sekali-kali lupakan sejarah," ujarnya. (A12/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru