Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 05 April 2026

DRA Jadi Real Estate Picu Banjir Kian Merambah dan Ancam Medan Tenggelam

* Juliski Simorangkir: Riol-riol Raksasa eks MUDP Perlu Dibongkar untuk Difungsikan
- Jumat, 07 Oktober 2016 11:23 WIB
286 view
DRA Jadi Real Estate Picu Banjir Kian Merambah dan Ancam Medan Tenggelam
Medan (SIB) -Sejumlah lokasi yang selama ini merupakan daerah resapan air (DRA) di sekitar Kota Medan, ternyata sudah berubah fungsi secara total sehingga menjadi pemicu arus banjir.

Anggota DPRD Sumut Ir Juliski Simorangkir selaku pemerhati infrastruktur di daerah ini, menilai kondisi dan volume DRA yang semakin minim di daerah ini harusnya diantisipasi dengan melacak kembali objek-objek kendali banjir yang ada atau pernah dibangun, misalnya riol-riol raksasa atau gorong-gorong besar yang dibangun pada masa proyek Medan Urban Development Project (MUDP) pada 1990-an silam, atau gorong-gorong kuno peninggalan zaman Belanda yang konon masih ada di beberapa titik bawah Kota Medan ini.

"Memang banyak faktor penyebab terjadinya banjir yang kian membesar dan merambah Kota Medan ini, terutama cuaca ekstrim yang menjadi 'kambing hitam' karena intensitas hujan yang semakin tinggi belakangan ini. Tapi secara kondisional juga harus disadari bahwa banjir juga diakibatkan minimnya objek-objek penampungan dan saluran air seperti DRA-DRA yang ada selama ini, sistem drainase yang buruk, tingkat vegetasi atau volume ruang terbuka hijau (RTH) yang sangat kecil bahkan di bawah rasio minimal dan faktor lainnya yang bisa mengancam kota Medan akan tenggelam. Langkah awalnya adalah tindakan cepat periksa dan bongkar kembali objek-objek riol raksasa eks MUDP dulu untuk difungsikan sebagai alur kendali banjir sebagaimana tujuan proyek itu dulunya," papar Juliski serius kepada pers di Medan, Rabu (5/10).

Soalnya, ujar dia, riol-riol atau gorong-gorong besar yang dibangun dulunya itu memang khusus untuk sarana kendali banjir yang harus berfungsi secara permanen, bukan untuk menjadi objek mubajir seperti sekarang ini yang terkesan menjadi proyek buang-buang uang. Selain itu, riol-riol raksasa yang dibangun dengan proyek MUDP itu dulunya disetting tak hanya untuk sarana alur arus banjir, tetapi secara teknis juga akan berfungsi sebagai wadah penampungan air pada jaringan DRA-DRA sekitar.

"Segenap warga Medan saat ini kembali mencemaskan ancaman banjir yang terjadi setiap kali turun hujan dengan intensitas tinggi, dan kembali mempertanyakan kondisi dan posisi sarana-sarana kendali banjir seperti riol-riol atau gorong-gorong raksasa itu, untuk diperiksa dan dibongkar lagi," katanya.

Hal senada juga dicetuskan praktisi bisnis properti Doddy Thaher SE MBA dari Real Estat Indonesia (REI) Sumut, bahwa peralihan fungsi lahan-lahan DRA menjadi areal properti atau pemukiman di daerah ini tidak disertai dengan pembuatan waduk-waduk atau sarana penampungan dan resapan air sebagai pengganti DRA-DRA tersebut.

"Lokasi DRA-DRA Kota Medan selama ini tersebar di kawasan selatan kota, seperti kawasan Padang Bulan, Medan Johor, Selayang, dan lainnya. Tapi dengan alasan pengembangan kota, kawasan DRA itu kemudian dibangun perumahan dengan berbagai tipe proyek properti. Masalahnya, pembangunan real estat pada kawasan DRA itu tak disertai dengan pembuatan waduk-waduk baru pengganti DRA-DRA itu sehingga Medan semakin terancam banjir, termasuk pada lokasi real estat di lokasi eks DRA itu sendiri," katanya.

Padahal, ujar dia, frekaunsi pembangunan infrastruktur kota Medan yang meliputi proyek-proyek kendali banjir yang sudah terlaksana selama ini, harusnya menjadikan kota ini relatif sudah terbebas atau setidaknya terminimalisir dari ancaman dan serangan banjir, khususnya akibat hujan, bila dibandingkan dengan potensi banjir secara reguler (setiap musim hujan).

Sejumlah proyek yang sudah dikerjakan selama ini untuk penanganan banjir selama ini, selain MUDP yang membelah kota Medan pada sejumlah lokasi, adalah proyek Medan Metropolitan Urban Development Project (MMUDP)-1 dan MMUDP-2) tahun 2000-an berupa peningkatan kapasitas drainase pada saluran primer rawan banjir kota, proyek pelebaran sungai (flood way) pada beberapa sungai besar yang melintasi kota Medan, proyek kanalisasi dan normalisasi sungai (dikenal dengan proyek Kanal Timur), dll, yang menelan biaya sangat besar bersumber dari APBD, APBN, bahkan dana pinjaman (loan) dari luar negeri. (A04/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru