Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 06 April 2026
Kerjasama dengan Penulis Budaya

Perpustakaan Sumut Gali Budaya yang Hilang

- Minggu, 09 Oktober 2016 11:43 WIB
267 view
Perpustakaan Sumut Gali Budaya yang Hilang
Medan (SIB)- Gerakan Indonesia membaca merupakan salah satu nawacita Presiden Joko Widodo dalam mencerdaskan anak bangsa. Karena itu pemerintah selalu menyediakan sarana prasarana perpustakaan serta dilengkapi berbagai jenis buku untuk dibaca.

Demikian dikatakan Kepala Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Provsu Ferlin H Nainggolan SH kepada wartawan di sela-sela kunjungan Komisi X DPR RI ke Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Provsu, Jumat (7/10).

Dijelaskan Ferlin, kunjungan Komisi X DPR RI melihat langsung pelaksanaan UU No 4 tahun 1090 tentang karya tulis dan rekam yang bermuatan lokal di Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Provsu serta mendukung program pengembangan budaya baca masyarakat.

"Tim Komisi X DPR RI merasa aman dan langsung berinteraksi dengan penulis Sumut yang merupakan peserta pertemuan itu. Dan meminta Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Provsu agar tetap menggali segala potensi sejarah dan budaya yang mulai menghilang," kata Ferlin.

Lebih lanjut ditambahkan Ferlin, untuk mencerdaskan anak bangsa di kabupaten/kota juga harus membentuk perpustakaan sebab perpustakaan merupakan wahana untuk membaca berbagai jenis buku sejarah, komik, pelajaran umum, IT, ekonomi dan bahkan buku keagamaan.

Karena itu Perpustakaan Provsu mencanangkan 2017 tahun literasi walau di sejumlah kabupaten/kota telah melaksanakannya. "Misalnya Kabupaten Deli Serdang telah meluncurkan literasi demikian juga Tebing Tinggi hingga tercipta rekor muri," ujar Ferlin.

Sementara untuk menambah koleksi buku dengan muatan lokal, perpustakaan juga akan menghimpun penulis-penulis, budayawan, sejarawan, sastrawan dan lainnya untuk mencetak tulisan budaya lokal sebagai bahan pendidikan, karena 20 persen pendidikan daerah harus bermuatan lokal.

Sedangkan mengenai jumlah buku muatan lokal tergantung anggaran di kabupaten/kota yang ada, sebab penulis hanya menulis sementara dibutuhkan dana untuk menerbitkan dan memperbanyak.   

"Yang penting perpustakaan tetap berkarya bekerjasama dengan budayawan dan seniman Sumut untuk menggali kembali budaya yang hilang," pungkasnya. (A14/y)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru