Medan (SIB) -Terjadinya gempa bumi yang berulang di Sumatera
Utara (Medan, Deliserdang dan Karo) baru-baru ini, secara geologis
disebabkan gerakan balik dari bumi pasca gempa bumi Aceh pada taun 2004
silam, yang telah menyebabkan semacam robekan (rupture) bumi hingga
sepanjang 1.300 kilo meter di sepanjang Sumatera.
Pakar geologi
dari Dewan Pakar Geologi Indonesia (DPGI) Ir Jonathan Ikuten Tarigan
menyebutkan gempa bumi yang melanda Tanah Karo dan Deliserdang bukan
disebabkan dampak letusan Gunung Sinabung yang tingkat kekuatan
letusannya hanya 2 VEI (rendah) sehingga tidak memiliki kemampuan
melepaskan gempa bumi berkekuatan 5 atau 6 SR.
"Fakta lain yang
menunjukkan gempa bumi baru-baru ini bukan disebabkan letusan Sinabung
adalah fakta bumi yang robek (merigat, koyak atau rupture) di Desa
Kebayaken Kecamatan Namanteran, sebagai bukti gempa yang terjadi adalah
tektonik, bukan gempa vulkanik," ujar Jonathan Tarigan di Tanah Karo,
Sabtu (25/2).
Dia mencetuskan hal itu di hadapan peserta diskusi
bertajuk Memahami Gempa Bumi Karo, di aula GBKP Tanjungbarus Kecamatan
Barusjahe yang diikuti 80-an peserta dari kalangan pendeta, pertua,
diaken dan moria (delegasi kaum ibu) se-Klasis GBKP Barus-Sibayak.
Hadir
di acara itu Ketua Klasis GBKP Barus Sibayak Pdt Masada Sinukaban MSi,
tokoh masyarakat setempat Pertua Edison Bangun, Sekteraris Klasis Pdt
Eben Ezer Karosekali, Pdt Zakaria Purba, Pt Lisma br Depari, Pt Thomas
Sembiring, Pdt Philipus Bukit, Pt Ernawaty br Tarigan, dan segenap
pengurus Badan Pemberdayaan Majelis Runggun (BPMR) Klasis Barus Sibayak
dari 14 runggun gereja GBKP Klasis Barus Sibayak dari seluruh desa
meliputi Doulukuta, Tigajumpa, Dolatrayat, Bertahkenjulu, Ujungbandar,
Ujungsampun, Bukit, Dekasar, Basam, Semangatgunung, Melas, , Sukajulu,
Sukanalu, Siberteng, Kubucolia, Kabung dan dari Tanjungbarus sendiri.
"Pertemuan
diskusi ini sekaligus untuk memahami potensi dan karakter bumi Karo
yang secara geologis memang rawan gempa. Sehingga, rasionalisasi tentang
gempa bumi untuk membangun kewaspadaan dalam hubungan langsung setiap
individu dengan sang pencipta alam semesta raya ini tetap lebih penting.
Tuhan akan menggaransi damai sejahtera bagi setiap pribadi yang akrab
denganNya dan bagi mereka yang "nipati FirmanNya suari berngi", karena
akan ada rhema baginya yaitu Firman yang disuarakan Roh Kudus di dalam
hatinya yang mengungkapkan hal kudus dan misteri proses dan kejadian
untuk disikapi secara berhikmat. Ini sekaligus mengantisipasi banyaknya
berita-berita hoax pasca terjadinya gempa," ujar Pdt Masada Sinukaban,
yang mendukung paparan Jonathan tentang relevansi bencana dengan aspek
rohani umat manusia.
Mereka juga menegaskan langkah mitigasi,
khusus atas pertanyaan publik yang muncul pasca bencana gempa bumi
Tanah Karo tentang: Benarkah akan ada gempa dahsyat melanda Tanah Karo,
mengapa akhir-akhir ini gempa bumi sering terjadi, apakah gempa bumi
dipicu Gunung Sinabung atau Gunung Sibayak dan apakah kejadian gempa
bumi akhir ini dan letusan Gunung Sinabung yang berkepanjangan sebagai
pertanda akan meletusnya supervolcano Toba?
"Jawabannya adalah,
harus dilihat dulu kerangka tektonik yang melingkari Sumut/Sumatera.
Tektonik adalah tentang pergerakan kulit bumi. Tektonik menciptakan
pengumpulan/penghimpunan energi dalam kerak bumi. Gempa bumi adalah
pelepasan energi dalam wujud gelombang yang mengguncang bumi. Sumber
tekanan terhadap Sumatera/Sumut datang dari tiga arah. Pertama dari
selatan, tekanan/desakan lempeng Samudera India terhadap Sumut
memunculkan sumber gempa jalur megathrust Nias. Kedua dari arah utara
sebagai muara dari sistem tekanan dari tektonik ekstrusi mikro kontinen
India terhadap Asia. Tektonik ekstrusi yang bergerak searah putaran jam
dan memunculkan patahan-patahan di pantai timur Sumbagut yang berpola
seperti mistar hitung (slide rule tectonic). Ketiga dari arah barat
laut, dari Anambas ada tektonik 'spreading" yang menekan Sumbagut dari
barat laut yang dapat memengaruhi patahan Sumatera," papar Jonathan
sembari menunjukkan fakta berupa data seismik dan geologis dari rekaman
badan geologi dunia, USGS dan sebagainya.
Sementara itu, acara
paparan dan diskusi Pemahaman Gempa Bumi Karo untuk Mitigasi Mandiri
bagi kalangan jemaat gereja se-GBKP, hari ini (Rabu 1/3) berlanjut di
GBKP Bandarbaru, yang akan dihadiri 40-an peserta dari kalangan pendeta,
pertua, diaken GBKP setempat, plus 30-an tokoh jemaat wanita (Moria)
setempat.
"Program mitigasi untuk pemahaman model bencana dan
langkah menghadapi risiko bencana ini, akan dilakukan secara rutin ke
semua gereja atau jemaat se-jajaran GBKP, khususnya di jajaran GBKP
Klasis Barus-Sibayak. Materi paparannya sama, tapi pemahamannya agak
spesifik Sibolangit atau Bandarbaru dan Semangatgunung sekitarnya
termasuk kawasan lintas patahan gempa, sehingga perlu pengetahuan dan
kemampuan taktis sebagai insan yang tanggap dan siaga bencana gempa,"
ujar Pdt Masada Sinukaban kepada SIB, Rabu (1/3).
Selain Jonathan
Tarigan, paparan di GBKP Bandarbaru ini juga dijadwalkan akan dihadiri
pakar geologi kegempaan dari Bandung danpemerhati sosial Karo Robinson
Sitepu dari GBKP Pasar Minggu Jakarta.
(A04/c)