Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 19 Januari 2026
Dari Kuliah Umum Lake Toba, From Hazard to Competitiveness Through Science:

Antisipasi Gempa Bumi Melalui Komunikasi Ilmu Pengetahuan

- Sabtu, 06 Mei 2017 11:23 WIB
317 view
Antisipasi Gempa Bumi Melalui Komunikasi Ilmu Pengetahuan
SIB/Dody Silaban
MEMBERIKAN KULIAH: Prof Abdelkrim Aoudia (berdiri) saat memberikan kuliah umum bertema “Lake Toba, from Hazard to Competitiveness Through Science” di hadapan peserta yang terdiri dari mahasiswa dan dosen serta undangan lainnya, Jumat (5/5) di Gedung Pusat
Medan (SIB) -Bencana gempa bumi yang sering terjadi di wilayah Indonesia bisa diantisipasi dengan penerapan komunikasi ilmu pengetahuan. Hal itu diutarakan Prof Abdelkrim Aoudia dalam kuliah umumnya , Jumat (5/5) di Gedung Pusat Administrasi Universitas Sumatera Utara.

Dalam kuliah umum bertema "Lake Toba, From Hazard to Competitiveness Through Science" tersebut, peneliti asal Italia itu mengakui belum ada alat atau mesin yang dapat memprediksi kapan gempa akan terjadi, namun manusia dapat mengantisipasinya dengan mendengarkan suara atau mengamati tanda-tanda alam melalui penerapan ilmu pengetahuan. Sebagai seorang ilmuwan yang telah melakukan penelitian mengenai pergerakan bumi, profesor dari institusi pendidikan Pusat Internasional Fisika Teori (ICTP) Italia tersebut mengungkapkan bencana alam gempa seharusnya tidak jadi ancaman yang menakutkan bagi warga bila pemerintah dan stakeholder lokal mau secara berkelanjutan memberikan pemahaman mengenai manajemen dampak bencana kepada komunitas warga melalui komunikasi ilmu pengetahuan.

Profesor keturunan Aljazair tersebut menjelaskan, komunikasi ilmu pengetahuan yang dia maksud adalah pemasangan alat (Continuum Mechanics + High Performance Computing) teknologi canggih seismologi berupa alat pencatat getaran bumi. Diperlukan juga sosialisasi berkelanjutan pemahaman mengenai pentingnya rekayasa lingkungan berupa penerapan teknologi rancang bangun hunian, yang terkait dengan pengetahuan kebiasaan membangun rumah di Indonesia.

Lebih jauh, Prof Abdelkrim memaparkan komunikasi ilmu pengetahuan tidak akan mematikan sumber penghidupan komunitas warga yang telah bertahan turun temurun di wilayah rawan bencana gempa. Hal itu bisa terwujud bila semua elemen, termasuk stakeholder dan warga konsisten dengan misi dan transparan dalam kebijakan anggaran.

"Memang tidak gampang untuk merubah kebiasaan turun temurun suatu komunitas, apalagi terkait dengan sumber penghidupan mereka. Namun, dengan pendekatan ilmu pengetahuan dan transparansi anggaran saya yakin warga akan bisa menerimanya," tutur Prof Abdelkrim.

Prof Abdelkrim menjelaskan, diperlukan pengumpulan data langsung di lapangan dan pengamatan rutin berkelanjutan untuk menentukan potensi gempa bumi di suatu wilayah. Oleh karena itu, ia selalu mengimbau pemerintah lokal agar mau menginvestasikan anggaran lebih untuk mengantisipasi dampak bencana alam melalui komunikasi ilmu pengetahuan. Hal itu juga telah dilakukan Prof Abdelkrim di sejumlah negara dengan potensi gempa cukup tinggi, seperti Iran, Nepal, China dan sejumlah negara Amerika Utara. 

"Jadi bila seorang politisi menginginkan suara anda, pastikan bahwa dia berkomitmen terhadap kebijakan antisipasi bencana gempa ini," cetus Prof Abdelkrim dalam bahasa Inggris, disambut gelak tawa dan tepuk tangan para audiens yang menghadiri kuliah umum tersebut.  Kuliah umum berlangsung sangat bersahabat, yang diwarnai dengan sesi tanya jawab.

Terkait status vulkanologi di kawasan Danau Toba, menjawab pertanyaan akhir salah seorang mahasiswa asal Samosir, Prof Abdelkrim mengatakan, ia tidak bisa memastikan status Danau Toba, karena perlu mendapatkan data pasti mengenai kondisi bawah air Danau Toba.

"Kami perlu data lokal dan infrastruktur serta melakukan penelitian.  Jawaban ini telah saya sampaikan sebelumnya kepada stakeholder lokal di daerah anda. Jadi maaf saya tak bisa memberi jawaban pasti," ujar Prof Abdelkrim mengakhiri kuliah umumnya.

Kuliah umum tersebut merupakan rangkaian acara Focus Group Discussion yang digelar Badan Otorita Pariwisata Danau Toba bekerjasama dengan Horas Halak Hita (H3), Universitas Sumatera Utara dan PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia. (R17/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru