Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 10 April 2026

Medan Dihujani Debu Sinabung Selama 218 Detik

* Dinkes Imbau Warga Kenakan Masker
- Jumat, 28 Juli 2017 10:51 WIB
317 view
Medan (SIB) -Wilayah Kota Medan sempat dihujani debu Gunung Sinabung. Hal itu diketahui dari sejumlah pengendara mobil di antaranya Leo usai melakukan transaksi di salah satu bank di Jalan Flamboyan Raya, Kelurahan Tanjung Selamat, Kecamatan Medan Tuntungan.

"Selesai dari bank, saya melihat kondisi mobil sudah ditutupi pasir berwarna putih. Setelah saya melihat kondisi mobil, saya perhatikan mobil yang parkir, kondisinya sama seperti mobil saya. Saya yakin, pasir itu dari debu Sinabung," kata Leo kepada wartawan via seluler, Kamis (27/7).

Sementara itu Kepala Bidang Data dan Informasi Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, Geofisika Wilayah I, Syahnan membenarkan bahwa debu itu berasal guguran (lava yang jatuh) dari Sinabung dengan durasi 85-218 detik.

"Benar, benar. Guguran itu lava yang jatuh dari Sinabung. Kenapa bisa debu itu bisa sampai, karena angin bertiup kencang ke arah timur dan tenggara," jelas Syahnan sembari menambahkan tingkat aktivitas Gunung Sinabung Level IV (Awas).

Kata Syahnan, PVMBG Pos Pengamatan Gunungapi Sinabung merekomendasi, masyarakat dan pengunjung/ wisatawan untuk tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 Km dari puncak, dan dalam jarak 7 Km untuk sektor selatan-tenggara, di dalam jarak 6 Km untuk sektor tenggara-timur, serta di dalam jarak 4 Km untuk sektor utara-timur Gunung Sinabung. Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar tetap waspada terhadap potensi bahaya lahar.

Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim dan beraktivitas di sekitar hilir daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu-waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/ banjir bandang ke hilir.

"BPBD Kabupaten Tanah Karo segera melakukan sosialisasi ancaman bencana lahar/banjir bandang ini ke penduduk yang bermukim dan beraktivitas di sepanjang hilir dan sekitar Sungai Laborus," ujar Syahnan.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan melalui Kepala Bidang Pengendalian Pencegahan Penyakit (P2P) Masrita Lumbantobing mengimbau, agar dalam beraktivitas di luar rumah supaya dapat menggunakan masker. Sebab apabila debu Sinabung sampai terhirup, dikhawatirkan dapat mengganggu pernafasan. "Kita mengimbau supaya melakukan upaya preventif untuk menggunakan masker. Tapi apabila sampai ada keluhan di masyarakat, supaya segera langsung ke Puskesmas," tegasnya.

Masrita mengatakan, meskipun debu Sinabung terlihat jelas, tetapi ia yakin hal ini masih dalam tahap aman. Begitupun, Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kata dia juga belum ada memberikan warning kepada Dinas Kesehatan untuk kemungkinan dampaknya bagi kesehatan di masyarakat.

"Ke kita (Dinkes) belum ada terima pemberitahuan resmi dari BMKG. Tapi kita tekankan kepada masyarakat supaya melakukan upaya preventif dalam mengatasi kemungkinan yang disebabkannya," ujarnya.

Dampak Negatif
Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Medan, dr Wijaya Juwarna SpTHT (K) mengatakan, dampak negatif dari erupsi gunung berapi dapat menyebabkan gangguan mekanikal, pernapasan akut, penglihatan dan iritasi kulit. Namun, dari ke semuanya gangguan pernapasan akut yang paling banyak dialami, misalnya iritasi hidung dan tenggorokan, bronkitis serta sesak napas.

"Selain mengganggu pernapasan, abu vulkanik juga mengganggu sistem penglihatan. Abu vulkanik biasanya mengandung butiran yang tajam dan dapat melukai mata," ungkapnya.

Abu vulkanik yang masuk pada mata, sambungnya, menyebabkan mata mengalami iritasi, radang pada konjungtiva (konjungtivitis) dan abrasi kornea atau goresan pada kornea. Sedangkan untuk kasus iritasi kulit karena abu vulkanik masih jarang ditemukan. Iritasi kulit biasa terjadi sepanjang hujan abu dan jika abu vulkaniknya bersifat asam.

Saat erupsi, abu vulkanik biasanya mengandung silika, mineral dan bebatuan. Unsur yang paling umun adalah sulfat, kalsium, natrium, kalium, magnesium dan flourida. Ada juga unsur lain salam konsentrasi rendah yakni, seng, kadmium dan timah. (A17BR2/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru