Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 25 Februari 2026

Indonesia “Juara” II Kasus TB di Dunia

* Penyebab Sakit Paru Antara Lain Rokok, Gaya Hidup dan Polusi Udara
- Selasa, 26 September 2017 16:38 WIB
336 view
Medan (SIB) -Indonesia saat ini peringkat kedua untuk kasus tuberkulosis (TB) di dunia. Padahal sebelumnya negara ini berada pada posisi keempat di dunia untuk jumlah penderita penyakit yang disebabkan kuman mycobacterium tuberculosis tersebut. Terdapat sebanyak 647 kasus TB dalam 100 ribu penduduk. Kasus baru bahkan mencapai lebih dari satu juta per tahun.

"Sebelumnya, kasus baru kita hanya 400 ribu per tahun dan Indonesia masih berada pada peringkat empat dunia. Karena itu, PDPI ikut bertanggung jawab menekan angka TB sehingga 2035 bisa zero TB-Paru," kata Ketua Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Pusat, dr Arifin Nawas SpP (K) MARS saat konferensi pers usai pembukaan Kongres Nasional (Kongnas) PDPI XV di Medan, Jumat (22/9).

Ia mengatakan, peningkatan jumlah penderita setiap tahunnya disebabkan banyak hal. Di antaranya karena TB Paru dianggap penyakit biasa sehingga banyak orang yang mengobati dirinya sendiri. Padahal pemerintah menyediakan pengobatan secara gratis. Orang dengan kondisi imunitas rendah juga rentan terserang TB, misalnya penderita Human Immuno Deficiency Virus (HIV), diabetes mellitus (DM), balita, orang malnutrisi dan juga dewasa lanjut usia.

PDPI, sambungnya, sangat menyayangkan sebanyak 52 persen orang dengan gejala TB langsung ke apotek membeli obat TB lalu diminum tanpa prosedur dan pengobatan yang benar. Menurutnya, hal ini akan menjadi beban lain permasalahan TB di Indonesia. Kondisi itu menyebabkan pasien beberapa waktu kemudian muncul dengan TB yang lebih parah bahkan resistan terhadap obat atau TB multidrugresistant (TB-MDR).

"Selain itu, kita hanya menunggu di gawang (tempat layanan) saja, tidak menjemput bola. Bagi mereka yang berobat di dokter praktik swasta, pasiennya tidak tercatat sehingga dikhawatirkan bisa menularkan ke orang lain," jelasnya.

Ia menyampaikan, PDPI bekerja sama dengan American Thoracic Society memulai Publik  Private Mix (PPM) di Indonesia pada 2010. PPM melibatkan 62 RS dan klinik serta sudah mencatat dan menangani hampir 22 ribu kasus di DKI, Bekasi dan Tangerang. Saat ini, PPM sedang dijalankan juga di Medan, Surabaya, Solo, Malang, Padang dan ke depan menyusul beberapa kota di provinsi lainnya.

"PDPI juga terus mendukung pengembangan alat dan teknologi baru dalam mendeteksi TB, perlindungan sosial dan jaminan kesehatan menyeluruh guna menurunkan kasus TB 10 persen per tahun. PDPI juga terus mendukung pengembangan vaksin TB, obat-obat baru dan kombinasinya untuk menanngani TB aktif dan laten," tambahnya.

Ketua Panitia Kongnas PDPI XV, dr Nuryunita Nainggolan SpP (K) menambahkan, kegiatan yang bertema 'Advances in Respiratory Health to Support National Health Development' ini menjadi penting karena PDPI menghadapi tantangan global di bidang pulmonologi dan kesehatan respirasi. Hal ini ditandai tingginya prevalensi penyakit paru di dunia.

"Ini wujud nyata seluruh dokter paru untuk meningkatkan kesehatan respirasi di Indonesia. Acara Kongnas PDPI diikuti dokter umum dan spesialisasi lainnya berjumlah 1000 orang lebih. Mereka merupakan peserta dalam seminar ilmiah dan simposium," katanya. Kongnas XV di Medan ini digelar selama lima hari, mulai 19-23 September 2017.

Dalam kesempatan itu, Ketua PDPI terpilih periode 2017-2020 Dr dr Agus Dwi Susanto SpP (K) menuturkan, penyakit paru disebabkan banyak hal. Ada yang berhubungan dengan rokok, gaya hidup dan polusi udara. "Polusi dan rokok adalah dua faktor terbesar penyebab penyakit respirasi. Kalau polusi lebih ke infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Efek jangka panjang karena polusi bisa ke asma bahkan kanker paru," bebernya.

Sebelumnya, Gubernur Sumut DR Ir H Tengku Erry Nuradi MSi berharap Sumut harus terbebas dari penyakit khususnya paru-paru. Harapan ini kata Gubsu disampaikannya kepada para dokter spesialis dan juga para medis yang mengetahui tentang penyakit paru. "Tantangan kesehatan saat ini, bahwa Indonesia menghadapi masalah kesehatan triple burden yaitu masih penyakit tidak menular dan muncul kembali penyakit-penyakit yang seharusnya sudah teratasi seperti paru," paparnya. (A17/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru