Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 13 Februari 2026

Nenas Langka di Pasar Tradisional dan Modern di Medan

- Rabu, 29 Agustus 2018 12:17 WIB
211 view
Medan (SIB) -Buah nenas produksi lokal maupun  dari luar Sumatera Utara akhir-akhir ini semakin langka di  pasar tradisional maupun di pasar modern di Medan. Kelangkaan komoditi ini berdampak pada harga menjadi mahal. Padahal buah nenas sempat "marak" masuk dari berbagai "penjuru"  ke Medan selain buah lokal dari Sipahutar (Taput), Pematangsiantar, Balige  Aceh, Dumai dan Pekanbaru  juga nenas impor dari Taiwan.

Sebelumnya nenas produksi lokal dan luar Sumut   ramai  diperjualbelikan di pinggir jalan-jalan di Medan  menggunakan mobil atau truk mini. Sedangkan buah nenas impor  masuk dari Taiwan. Namun hal seperti ini  tidak lagi ditemukan di Medan dalam dua pekan ini.

Menurut pantauan SIB, Selasa (28/8), nenas yang dijual umumnya buah lokal dan stoknya menipis baik di pasar tradisional maupun di pasar moderen dibanding beberapa pekan sebelumnya.  Harganya bervariasi mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 17.500 per buah.

Di Pasar modern yakni Berastagi Buah Jalan Wajir, harga nenas asal Taput Rp 17.500. Terlihat stoknya menipis. Di pajangan ini tercantum buah nenas dari Taput. Buah  impor dari Taiwan belum masuk begitu juga buah nenas lokal lainnya.

Menurutnya, buah nenas sangat diminati banyak orang karena baik untuk kesehatan, bahkan disebut  anti korestrol.

Konsumen cenderung  suka nenas yang sudah dikupas dinilai lebih praktis, sampai di rumah langsung dimakan. Namun lagi-lagi stoknya minim untuk dijual.

Akibat stok buah nenas menipis, pedagang nenas siap kupas di Jalan Purwosari sudah sepekan ini tidak lagi menjual buah tersebut. "Biasanya kita jual Rp 10.000 per buah, sudah termasuk kupas dan plastik pembungkusnya, upah kupas hanya Rp 2.000, ujar Sulbia.

Sementara itu  Kepala Dinas  Tanaman Pangan dan Holtikultura  Sumut melalui Kasi Program  Fahri Perangin-angin kepada SIB, Selasa (28/8) menyebutkan, daerah penghasil nenas ada di 25 kabupaten/kota dari 33 kabupaten/kota di provinsi ini.

"Penghasil nenas terbesar yakni Sipahutar Kabupaten Tapanuli Utara," ungkap Fahri. Penghasil nenas lain yakni Kabupaten Dairi, Humbahas dan Pakpak Bharat.

Pada triwulan II Januari hingga Juni 2018 produksi nenas sebanyak 5.843 ton  dari areal tanam  1.296.000 rumpun.  Per rumpun tanaman nenas sebanyak 4,5 Kg.

"Dari 5.843 ton, di antaranya 2.543 ton produksi Sipahutar Taput, menyusul Dairi 1.200 ton, Humbahas 118 ton dan Phakpak Barat  146 ton. Di Sipahutar tanaman nenas merupakan pencaharian masyarakat di sana. Jadi tidak heran Sipahutar Taput centra nenas tertinggi di Sumut," ujar Fahri didampingi stafnya Rihard Simanjuntak.

Tanaman nenas ini  tidak menggunakan bibit, namun rumpun  dan rumpun  yang menjalar dikembangkan untuk berbuah. Sama  seperti tanaman pisang.
Selama tahun 2017, produksi buah nenas di Sumut sebanyak 165.551 ton, di antaranya 157.000 lebih produksi Sipahutar Taput. (A2/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru