Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 22 Februari 2026

Masih Ada Harapan Bagi Peternak di Sumut

Tanjuk Rencana
Redaksi - Senin, 17 Februari 2020 11:27 WIB
322 view
Masih Ada Harapan Bagi Peternak di Sumut
bogor.pojoksatu.id
Ilustrasi
Peternak babi di Sumatera Utara (Sumut) telah pasrah. Mereka tak berdaya menghadapi wabah virus African Swine Fever (ASF). Pemprov Sumut mencatat jumlah kematian babi hingga Kamis 13 Februari kemarin sudah mencapai 48.000.

Jumlah tersebut sekitar 2,4 persen dari populasi ternak babi di Sumut. Angka kematian ini terus bertambah karena setiap hari selalu ada kasus babi mati. Populasi babi di Sumatera Utara tercatat berjumlah 1,27 juta ekor berdasarkan statistik 2018. Populasi ini merupakan kedua terbesar setelah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berjumlah 2,43 juta ekor.

Dengan asumsi angka kerugian Rp 3 juta untuk tiap ekor babi, dan total ternak yang mati telah mencapai 48.000, maka diperkirakan per hari ini hitungan kerugian peternak mencapai Rp 144 miliar. Jumlah ini tentu masih bertambah sebab virus mematikan ini belum bisa diatasi. Kerugian yang tak sedikit, dan pasti memengaruhi ekonomi masyarakat Sumut.

Sudah ada 11 negara Asia telah melaporkan wabah kematian babi akibat virus ASF. Pertama sekali dilaporkan menjangkiti peternakan di Cina pada Agustus 2018. Negara-negara yang terjangkit mencakup Mongolia, Korea Utara, Korea Selatan, Filipina, Vietnam, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Timor Leste.

ASF dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi. Babi hutan telah diidentifikasi sebagai salah satu dari beberapa kemungkinan penyebab penyebarannya, serta dapat menyebar melalui serangga seperti kutu. Namun, virus ini juga dapat bertahan hidup beberapa bulan dalam daging olahan, dan beberapa tahun dalam daging babi beku.

Jelas, virus ASF sangat berbahaya bagi peternakan babi. Jika terjangkit virus tersebut dapat berakibat pada kesakitan dan kematian pada ternak babi dengan tingkat mencapai 100 persen. Dari sini bisa diprediksi semua babi di Sumatera Utara bisa mati akibat virus ini, apabila tak ada tindakan antisipatif.

Menurut Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, wabah tersebut sudah menjangkiti 16 kabupaten/kota di kawasan Sumatera Utara. Kabupaten/kota tertular yakni Dairi, Humbanghasundutan, Deliserdang, Karo, Tobasamosir, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Samosir, Simalungun, Pakpak Bharat, Langkat, Tebingtinggi, Pematangsiantar dan Medan. Data ini pun bisa berubah dengan cepat sebab secara diam-diam masih ada mobilitas ternak antardaerah.

Masalah ini sempat menimbulkan kesalahpahaman antara pemerintah daerah dengan masyarakat. Sebab beredar informasi semua babi akan dimusnahkan. Hal ini telah diklarifikasi dan ternyata tidak benar akan ada pemusnahan massal.

Kabar baik kini datang dari Kementerian Pertanian. Mereka akan segera melakukan uji coba vaksin untuk mencegah virus ASF atau disebut dengan demam babi Afrika. Berarti masih ada harapan bagi peternak babi di Indonesia, termasuk Sumut. Pembuatan vaksin ASF ini tidak mudah, dan telah banyak negara mencoba membuatnya. Namun belum ada yang berhasil membuat vaksin yang efektif mencegah penyakit.

Sambil menunggu uji coba ini, akan diteruskan kebijakan mengisolasi daerah yang terjangkit demam babi Afrika. Ini untuk mencegah virus tersebut menyebar dan menjangkiti ternak babi lainnya. Sebab isolasi memang langkah yang paling penting dilakukan dan perlu kerjasama masyarakat bersama pemerintah daerah. Kita berharap vaksin ini berhasil dan ampuh membasmi virus ASF. (**)

SHARE:
komentar
beritaTerbaru